Terjebak Macet Berjam-jam, Rela Bertahan Demi Pulang Kampung

Merdeka.com - Merdeka.com - Sengat sinar matahari di Terminal Poris Plawad, Kota Tangerang, pada Jumat (29/5), tak melumerkan tekad Lina Fitria (33) untuk pulang kampung ke Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Dua tahun merayakan Idulfitri tanpa melakukan perjalanan mudik, Lina ingin kerinduannya untuk berlebaran di kampung halamannya, dibayar tuntas.

Bersama suami dan satu anaknya, Lina sudah jauh-jauh hari mengemas perlengkapan dan persiapan untuk perjalanan mudik. Pakaian ganti, obat pereda masuk angin, minyak gosok, camilan, menjadi barang penting bagi Lina.

Antrean panjang dan kemacetan saat menuju pelabuhan Merak sudah tergambar. Namun, gambaran tersebut melampaui angan-angan. Bus yang ditumpangi berangkat dari terminal sekitar pukul 11 siang. Selama 24 jam Lina bertahan dalam kemacetan. Bus baru dapat masuk ke kapal untuk menyeberang pulau, pada Sabtu (30/4) di jam yang sama.

"Astaga, di dalam tol KM 94 sudah enggak gerak dari siang. Saya dan keluarga baru naik kapal itu tanggal 30 April jam 11 siang juga. Jadi, kami semalaman di tol arah Merak," kata Lina, Kamis (5/5).

Lina tak bisa menyembunyikan betapa melelahkan perjalanan mudik tahun ini. "Bete banget di perjalanan," ungkapnya.

Keluhan Lina tentang kemacetan luar biasa saat hendak mudik, terbayar lunas saat kaki telah menginjak tanah rumah masa kecil keluarganya. Bertemu nenek, dan saudara-saudara menjadi peluruh keletihan Lina dan keluarga.

"Memang capek dan bete banget saat perjalanan kemarin, tapi lebaran di kampung itu enak. Apalagi cuaca di sini sangat sejuk, senang ketemu keluarga di kampung bisa lebaran bareng-bareng lagi setelah 2 tahun enggak mudik," kata dia.

Momok antrean dan kemacetan panjang belum tuntas, Lina sadar kondisi hampir sama masih harus dilalui saat arus balik. Dia akan bertolak pada Sabtu (7/5) dengan menggunakan bus yang akan diangkut menggunakan kapal untuk menyeberang kembali ke Pulau Jawa.

"Mudah-mudahan enggak macet lagi semoga pemerintah maupun Kementerian Perhubungan sigap setelah kejadian Merak kemarin," harap dia.

Tak berbeda jauh dengan Lina, hanya saja nasib sedikit baik dirasakan Anisyah saat mudik ke Garut, Jawa Barat. Dia tak merasakan 12 jam terjebak macet seperti dialami Lina ataupun pengguna layanan kapal penyeberangan di Pelabuhan Merak, Banten.

Jika perjalanan biasa, bukan musim mudik, Jakarta-Garut ditempuh dalam waktu 4 jam. Itu sudah termasuk waktu istirahat sekitar 30 menit. Di musim mudik tahun ini, Anisyah sekeluarga terjebak macet di tol arah Cikampek sekitar 4 jam.

Kebijakan ganjil genap, tetap tak mampu menekan volume jutaan kendaraan yang melintas jalan tol Jakarta-Cikampek.

"Berangkat tengah malam, tapi sampai pukul 3 pagi masih di tol Cikampek, mobil enggak bisa naik ke jalan tol layang Sheikh Mohamed Bin Zayed (MBZ), jadi saya lewat bawah," kata dia.

Begitu pula dengan kebijakan one way. Seperti yang disampaikan kepolisian tentang kebijakan one way saat volume kendaraan meningkat, hal itu tetap tidak mempan menghemat waktu perjalanan.

Anisyah paham betul, kemacetan merupakan sebuah keniscayaan saat musim mudik. Namun ia cukup menyayangkan kebijakan yang diterapkan pemerintah tidak cukup menekan durasi perjalanan.

"Kesel sih ada, itu wajar 2 tahun kita enggak ada mudik. Yang saya enggak habis pikir katanya ada sistem one way tapi kok tetap enggak jalan dan minim petugas," keluhnya. [noe]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel