Terjerat 2 Perkara, Dakwaan Ferdy Sambo Bakal Dijadikan Satu?

Merdeka.com - Merdeka.com - Kejaksaan Agung (Kejagung) masih menunggu pelimpahan berkas dari kepolisian untuk tersangka Ferdy Sambo. Mantan kadiv propam Polri itu menjadi tersangka untuk dua perkara yakni pembunuhan berencana dan Obstruction of Justice terkait kematian Brigadir J alias Nopriansyah Yoshua Hutabarat.

Kapuspenkum Kejagung, Ketut Sumedana, belum bisa memastikan apakah nantinya dakwaan untuk Sambo dijadikan dalam satu berkas dakwaan. Menurutnya, itu kewenangan jaksa penuntut umum atau JPU.

"Itu kewenangan dari penuntut umum. Berkas perkara (Ferdy Sambo) ini kan ada dua, nanti oleh penyidik kalau berkas perkaranya digabungkan juga boleh. Karena berkaitan dengan peristiwa pidana," kata Ketut saat dihubungi, Rabu (14/9).

Sampai saat ini, katanya, pembahasan berkaitan hal tersebut belum dilakukan. Meskipun, bila dilakukan memang memungkinkan dan memudahkan dalam mengadili perkara saat di persidangan.

"Dengan konsep begini, karena ini berkaitan dengan satu dan yang lain, satu rangkaian peristiwa yang sama lebih mudah jika dijadikan satu perkara," jelasnya.

Update Kasus Tersangka Ferdy Sambo

Sebelumnya, Kejaksaan Agung (Kejagung) RI telah menunjuk sebanyak 43 jaksa penuntut umum (JPU) guna menindaklanjuti tujuh berkas tersangka menyangkut kasus dugaan Obstruction of Justice atau menghalang-halangi penyidikan kasus kematian Brigadir J.

"Maka untuk mengikuti perkembangan penyidikan perkara tindak pidana, JAM PIDUM Kejaksaan Agung telah menunjuk 43 orang Jaksa Penuntut Umum (JPU) dengan telah menerbitkan Surat Perintah Penunjukan JPU (P-16)," kata Kapuspenkum Kejagung, Ketut Sumedana dalam keterangannya, Senin (12/9).

Dimana ketujuh tersangka yang telah ditetapkan yakni, 1. Mantan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo; 2. AKP Irfan Widyanto Kasubnit I Subdit III Dittipidum; 3. Mantan Karopaminal Divisi Propam Polri Brigjen Hendra Kurniawan; 4. Mantan Kaden A Biropaminal Divisi Propam Polri Kombes Agus Nurpatria.

Lalu; 5. Mantan Wakaden B Biropaminal Divisi Propam Polri AKBP Arif Rahman Arifin; 6. Mantan Ps. Kasubbag Riksa Baggak Etika Rowabprof Divpropam Polri Kompol Baiquni Wibowo; dan 7. Mantan PS Kasubbagaudit Baggak Etika Rowabprof Divisi Propam Polri Kompol Chuk Putranto.

Mereka disangkakan dalam Pasal 49 jo. Pasal 33 dan/atau Pasal 48 ayat (1) jo. Pasal 32 ayat (1) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dan/atau Pasal 221 ayat (1) ke-2 dan/atau Pasal 233 KUHP jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara untuk kasus pembunuhan berencana, Brigadir J alias Nopriansyah Yosua Hutabarat, Tim Khusus Polri masih proses melengkapi berkas perkara kelima tersangka untuk diserahkan kepada penuntut umum pada Kejaksaan Agung (Kejagung).

"Kemudian rencana tindak lanjut, penyidik akan segera melengkapi berkas perkara dan mengirimkan ke JPU (Jaksa Penuntut Umum)," ucap Kabag Penum Divhumas Polri Kombes Nurul Azizah saat jumpa pers, Rabu (7/9).

Untuk diketahui jika proses berkas kasus pembunuhan Brigadir J, yang sedang dilengkapi antara lain Bharada E alias Richard Eliezer Pudihang Lumiu, Bripka RR alias Ricky Rizal, Kuat Maruf alias KM, Irjen Ferdy Sambo alias FS, dan Putri Candrawathi alias PC.

Pada kasus ini, Bharada E dijerat dengan Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan Juncto 55 dan 56 KUHP.

Sedangkan, Brigadir RR dan KM dipersangkakan dengan Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana subsider Pasal 338 juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP.

Sementara Ferdy Sambo dipersangkakan dengan Pasal 340 subsider Pasal 338 jo Pasal 55, Pasal 56 KUHP. Selanjutnya, Putri Candrawathi disangkakan dengan Pasal 340 KUHP juncto Pasal 55 dan Pasal 56. [lia]