Terkait Rasisme, CEO AC Milan Sebut Liga Italia Bukan Sepak Bola Primitif

·Bacaan 1 menit

Bola.com, Milan - CEO AC Milan, Ivan Gazidis menegaskan Serie A bukan liga primitif atau terbelakang. Ia mengatakan rasisme dalam sepak bola tidak hanya di Italia.

"Satu di antara masalah adalah orang berpikir bahwa dengan berbicara tentang rasisme, ada di Liga Italia. Itu tidak benar, masalah itu ada di mana-mana. Langkah pertama adalah mengakuinya dan melakukan diskusi tentang itu," kata Gazidis kepada ESPN, dikutip dari Football Italia, Jumat (20/11/2020).

“Ada masalah rasisme dalam sepak bola secara umum, tidak hanya di Italia. Tapi pasti di Italia dan kami perlu mengakuinya dan mencari cara bagaimana kami akan mengubahnya," imbuhnya.

"Ini adalah masalah sosial, kejahatan sosial dan kami perlu mengatasinya demi perkembangan Serie A dan masa depan liga," tegasnya.

Gazidis menyebut, klub Liga Italia sudah lama mengampanyekan antirasisme, begitu juga pemain. Namun, memang masih sering kecolongan.

"Untuk semua alasan ini kami harus mengakuinya dan mengambil langkah-langkah. Ada kemauan untuk melakukan itu, ini bukan negara terbelakang, ini bukan liga terbelakang," tegasnya.

Masa Lalu

6. Edgar Davids - Kemampuannya berlari tanpa kenal lelah dan kerap memenangi duel perebutan bola membuatnya sering disebut sebagi Bulldog Juventus. Kejayaan Si Nyonya Tua pada akhir 90an dan awal 2000an tidak lepas dari perannya menyapu lini tengah. (AFP/Paolo Cocco)
6. Edgar Davids - Kemampuannya berlari tanpa kenal lelah dan kerap memenangi duel perebutan bola membuatnya sering disebut sebagi Bulldog Juventus. Kejayaan Si Nyonya Tua pada akhir 90an dan awal 2000an tidak lepas dari perannya menyapu lini tengah. (AFP/Paolo Cocco)

Gazidis juga mengungkit rasisme yang terjadi di Liga Inggris pada masa lalu. Namun, Inggris berubah pesat. Penonton mereka semakin dewasa dan membangkitkan liga.

"Sepak bola pada 1980-an di Inggris adalah sarang rasisme, misalnya. Saat itu Liga Inggris masih belum maju, stadion baru menciptakan lingkungan yang jauh lebih beragam dengan wanita, anak-anak, dan orang-orang dari semua latar belakang merasa aman di pertandingan," katanya.

"Saat mereka merasa aman, image penonton berubah. Sedangkan sepak bola Italia menderita akibat stadion yang kuno dan bahkan teknologi di dalam stadion untuk mengidentifikasi pelaku kerusuhan masih kuno," katanya.

Sumber: Football Italia

Saksikan video pilihan berikut ini: