Terlanjur Beli Jamur Enoki Berbakteri Listeria, Apa yang Harus Dilakukan?

Liputan6.com, Jakarta - Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian telah memerintahkan importir untuk menarik dan memusnahkan produk jamur enoki yang diimpor PT Green Box Fresh Vegetables dari Korea Selatan.

Arahan tersebut diberikan pasca adanya informasi dari International Food Safety Authority Network (INFOSAN) yang mengungkap Kejadian Luar Biasa (KLB) pada Maret-April 2020 di Amerika Serikat, Kanada dan Australia akibat mengkonsumsi jamur enoki asal Korea Selatan yang tercemar bakteri Listeria Monocytogenes.

Menindaki kasus tersebut, BKP pada 22 Mei 2020 dan 19 Juni 2020 telah memusnahkan sebanyak 1.633 karton jamur enoki yang didatangkan Green Box dari Green Co Ltd.

Kabar tersebut mengejutkan pengusaha restoran dan masyarakat yang kerap menggunakan jamur enoki sebagai menu makanannya. Tak sedikit masyarakat yang kini masih menyimpan komoditas tersebut.

Lantas, apa yang harus dilakukan dengan jamur enoki yang dianggap berbahaya tersebut?

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Agung Hendriadi mengatakan, konsumen sebaiknya melihat dulu apa merek jamur enoki yang dimilikinya sebelum mengambil tindakan.

"Yang dianggap berbahaya itu kan yang dari Korea Selatan. Jadi lihat dulu mereknya. Kalau itu Green Co/Green Box, musnahkan saja, buang saja," ujar Agung kepada Liputan6.com, Jumat (26/6/2020).

Agung menjelaskan, para konsumen tetap dapat mengkonsumsi jamur enoki selain yang diedarkan oleh Green Box dan Green Co, dengan syarat harus memasaknya dengan suhu minimum 75 derajat Celcius.

"Direbus sebelum dikonsumsi. Bakteri Listeria kan bakal mati kalau dimasak di suhu 75 derajat," imbuh Agung.

Mengandung Bakteri Berbahaya, Kementan Musnahkan Jamur Enoki Asal Korsel

Ilustrasi Jamur Enoki / Sumber: Pixabay

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Ketahanan Pangan telah memerintahkan pada importir untuk melakukan penarikan dan pemusnahan produk jamur enoki dari Green Co Ltd asal Korea Selatan.

Hal itu mengingat adanya informasi dari International Food Safety Authority Network (INFOSAN), jaringan otoritas keamanan pangan internasional di bawah FAO/WHO, terkait Kejadian Luar Biasa (KLB) pada Maret-April 2020 di Amerika Serikat, Kanada, dan Australia, akibat mengkonsumsi jamur enoki asal Korea Selatan yang tercemar Bakteri Listeria Monocytogenes.

"Pemusnahan dilakukan pada tanggal 22 Mei 2020 dan 19 Juni 2020 di PT siklus Mutiara Nusantara, Bekasi, yang dihadiri oleh perwakilan dari pelaku usaha dan BKP, sejumlah 1.633 karton dengan berat 8.165 kg," kata Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementan Agung Hendriadi dikutip dari Antara, Kamis (25/6/2020). 

Agung menegaskan bahwa sampai hari ini di Indonesia belum ditemukan adanya kasus luar biasa (KLB) karena kontaminasi bakteri dari jamur enoki tersebut.

Namun demikian, pihaknya telah melakukan investigasi dan pengambilan sampling terhadap produk jamur enoki asal produsen di Korea Selatan yang dinotifikasi oleh INFOSAN. Pada 21 April 2020 sampai 26 Mei 2020, BKP Kementan juga telah meminta importir agar tidak mengedarkan jamur, sampai investigasi selesai.

Berdasarkan hasil pengujian di laboratorium PT Saraswanti Indo Genetech, sebanyak 5 lot tidak memenuhi persyaratan karena terdeteksi mengandung bakteri L Monocytogenes melewati ambang batas dengan kisaran 1,0 x 104 hingga 7,2 x 104 colony/g. 

Lakukan Pengawasan

Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Oleh karena itu BKP meminta Badan Karantina Pertanian melakukan peningkatan pengawasan keamanan pangan jamur enoki asal Korea Selatan. Selain itu, BKP juga meminta importir jamur enoki agar mendaftarkan produknya ke Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Pusat (OKKPP).

Kepada importir, BKP meminta untuk memisahkan jamur enoki yang diimpor dari Green Co Ltd dan mengembalikan kepada distributor untuk ditangani lebih lanjut. Importir juga diminta untuk menerapkan langkah sanitasi demi mencegah kontaminasi silang, serta melakukan pengujian laboratorium jika diperlukan.

Bakteri Listeria merupakan salah satu bakteri yang tersebar luas di lingkungan pertanian, baik di tanah, tanaman, silase, fekal, limbah dan air.

"Bakteri ini mempunyai karakter tahan terhadap suhu dingin, sehingga mempunyai potensi kontaminasi silang terhadap pangan lain yang siap dikonsumsi dalam penyimpanan," kata Agung. 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: