Terlilit Pinjol, Guru TK di Malang Diteror 84 Nomor Telepon

·Bacaan 2 menit

VIVA – Mawar (nama samaran) alias S seorang guru Taman Kanak-kanak (TK), warga Sukun, Kota Malang yang terjerat utang pinjaman online pada 24 perusahaan mengadu ke Polresta Malang Kota, Kamis, 20 Mei 2021. Dia didampingi kuasa hukumnya, Slamet Yuono dan Elza Rianty.

"Kami dari kuasa hukum S (Mawar), telah membuat surat pengaduan. Karena di sini aturannya membuat surat aduan terlebih dahulu, bukan langsung laporan ke polisi. Kami berikan nama perusahaan pinjaman online (pinjol) apa saja yang menjerat ibu S. Dan kemudian nomor telepon dari pinjol ini," kata Slamet.

Slamet mengungkapkan, teror dari debt collector suruhan perusahaan pinjaman online belum juga berakhir. Meski Pemerintah Kota Malang telah menjamin akan membayar lunas seluruh utang pokok Mawar. Mawar memiliki utang pokok Rp26 juta dengan bunga Rp13 juta kepada 24 perusahaan pinjaman online. Teror masih saja diterima dengan nada-nada makian.

"Tadi disampaikan (kepada Polresta) nomor telepon ada kurang lebih 84 nomor telepon yang menteror ibu S. Bahkan sampai tadi malam masih melakukan teror. Mengatakan hal yang tidak pantas kepada seorang perempuan," ujar Slamet.

Slamet mengatakan, setelah mengadukan kasus ini. Polresta Malang Kota akan mempelajari sebelum dinaikan pada proses pelaporan. Selanjutnya akan ada pemeriksaan beberapa saksi dan ada alat bukti yang lainnya, apabila kasus ini memenuhi unsur pidana.

"Ini memenuhi unsur pidana, jelas teror ancaman pembunuhan, membuat grup WhatsApp. Itu sangat jelas dan bukti-bukti tersebut sudah kita serahkan kepada kepolisian. Harapan kami kepolisian, walaupun pinjol ilegal atau fintech loanding ilegal sulit dihubungi. Kami yakin dengan alatnya yang canggih, dengan niatnya yang tulus untuk kemanusiaan. Bisa meningkatkan perkara ini menjadi penyidikan, ditetapkan tersangkanya," tutur Slamet.

Slamet mengungkapkan, ada beberapa pelanggaran pidana yang bisa menjerat gerombolan debt collector ini. Pertama Undang-undang Informasi Teknologi dan Elektronik. Lalu pencemaran nama baik, akses data secara ilegal, ancaman menyangkut nyawa dan sejumlah teror yang diatur dalam KUHP.

"Untuk lebih dalamnya nanti itu kita jabarkan saat proses penyidikan. Dan iteror itu disampaikan sekitar 84 lebih nomor (HP) dimana nomor itu dimiliki oleh sekitar 19 pinjol ilegal ini. Harapan kami dari nomor tersebut bisa di telusuri, bekerjasama dengan provider. Pasti akan ketemu ini milik siapa termasuk dari nomor rekening pada saat ibu S mengangsur dan membayar," kata Slamet.

Baca juga: Dihitung Baznas, Utang Pokok Guru TK di Malang Rp26 Juta

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel