Termasuk Legenda Chelsea, Ini 6 Pesepak Bola Berkelas Asal Afrika yang Pernah Unjuk Gigi di Liga Indonesia

Bola.com, Jakarta - Liga Indonesia bisa dikatakan sebagai satu di antara kompetisi terbaik di Asia Tenggara atau bahkan Asia. Hal tersebut membuat para pemain berkualitas dari berbagai belahan dunia mau menjalani karier di Indonesia.

Tak terkecuali pemain asal Benua Afrika. Sejak era 90-an hingga saat ini, sudah ada beberapa pemain top asal Afrika yang membela klub di Indonesia.

Mulai era Roger Milla (Kamerun) hingga Michael Essien. Mereka adalah pemain yang pernah merasakan berlaga di Piala Dunia.

Selain itu, ada juga beberapa pemain belum punya nama besar di Afrika, tetapi bisa memperlihatkan permainan mengagumkan di Liga Indonesia. Seperti Zah Rahan dan Makan Konate.

Berikut ini sekilas perjalanan karier para pemain Afrika berkelas yang mewarnai Liga Indonesia.

 

Roger Milla

Striker asal Kamerun, Roger Milla bisa dikatakan merupakan salah satu pesepak bola terbaik asal benua Afrika. Mantan pemain klub asal Indonesia, Pelita Jaya, itu baru pensiun saat berusia 42 tahun. (AFP)
Striker asal Kamerun, Roger Milla bisa dikatakan merupakan salah satu pesepak bola terbaik asal benua Afrika. Mantan pemain klub asal Indonesia, Pelita Jaya, itu baru pensiun saat berusia 42 tahun. (AFP)

Nama penyerang asal Kamerun ini sangat populer di Afrika pada era 1970 sampai 1990an. Maklum, dia menjadi bagian Timnas Kamerun dalam tiga edisi Piala Dunia, yakni 1982, 1990, dan 1994.

Milla juga pernah jadi pemain terbaik Afrika pada 1976. Yang menjadi ciri khas Roger Milla adalah selebrasi golnya dengan cara bergoyang didekat bendera sudut.

Pada usia 42 tahun, striker yang satu ini masih bisa mencetak gol di Piala Dunia 1994. Hanya berselang 6 bulan setelah tampil di Piala Dunia tersebut, Milla menuju Indonesia untuk bergabung dengan Pelita Jaya.

Di usia kepala empat dan sisa kejayaanya, dia berhasil membawa Pelita Jaya ke 8 besar Liga Indonesia dan mencetak 16 gol waktu itu. Pada musim berikutnya, dia membela Putra Samarinda.

Hanya dua tahun di Indonesia, Milla memutuskan pulang ke Kamerun dan baru benar-benar pensiun pada usia 47 tahun.

Di Indonesia, Milla disebut sebagai pesepak bola top dunia generasi pertama yang datang. Selain memberi hiburan tersendiri bagi masyarakat, tentu dia ikut membuka pintu bagi para pemain bintang lain untuk datang.

Secara tidak langsung, Roger Milla membuka mata dunia akan atmosfer sepak bola di Indonesia.

 

Maboang Kessack

Emmanuel Maboang Kessack (AFP)
Emmanuel Maboang Kessack (AFP)

Kessack menjadi pemain top penerus Roger Milla, karena juga berasal dari Kamerun. Sebelum datang ke Indonesia, dia sempat membela Timnas Kamerun pada 1990-1995.

Berposisi sebagai gelandang, Maboang Kessack mempunyai skill di atas rata-rata. Dia juga sempat bermain di Piala Dunia edisi 1990 bersama Roger Milla.

Kessack datang ke Indonesia pada musim 1997/1998. Klub kaya Pelita Jaya yang waktu itu bernama Pelita Mastrans, mampu merekrutnya. Akan tetapi, dia tak bisa merampungkan kompetisi.

Pasalnya waktu itu, kompetisi terhenti lantaran sejumlah kerusuhan efek krisis moneter yang dialami Indonesia. Meski demikian, dia sempat bermain dalam 24 pertandingan dan mencetak 12 gol.

Catatan luar biasa untuk pemain gelandang. Ternyata, itu jadi akhir kariernya sebagai pemain profesional. Karena Kessack memilih pensiun dan kini tinggal di Prancis bersama keluarganya.

Kabarnya, dia sekarang jadi agen pemain yang menyalurkan pesepak bola Afrika untuk kompetisi di Asia.

 

Pierre Njanka

Pierre Njanka ketika membela Arema Indonesia (Istimewa)
Pierre Njanka ketika membela Arema Indonesia (Istimewa)

Satu lagi pemain top Kamerun yang mampir ke Indonesia, yakni Pierre Njanka. Stoper yang satu ini pernah membela Kamerun di Piala Dunia 1998 dan 2002.

Njanka kenyang bermain di Liga Perancis. Baru pada musim 2008/2009, dia direkrut Persija Jakarta. Satu musim selanjutnya, dia membela Arema Indonesia dan didapuk sebagai kapten tim.

Bersama Arema, Njanka merasakan gelar juara ISL 2010. Musim selanjutnya Njanka membawa tim yang dijuluki Singo Edan itu jadi runner-up.

Namun setelah itu, karirnya mulai meredup. Njanka bermain di Aceh United, Mitra Kukar, dan terakhir di Persisam Putra Samarinda.

Yang paling terlihat dari Njanka adalah sosok pemimpin di lini belakang. Selain itu dia sangat tenang menghadapi berbagai karakter striker, baik yang punya kecepatan maupun postur kukuh.

Njanka bisa dengan mudah menghentikan para lawannya. Bisa jadi karena striker lawan segan terhadapnya.

 

Zah Rahan

Zah Rahan berlatih bersama skuat Persela Lamongan di Stadion Surajaya, Lamongan, Rabu (17/3/2021) sore. (Bola.com/Aditya Wany)
Zah Rahan berlatih bersama skuat Persela Lamongan di Stadion Surajaya, Lamongan, Rabu (17/3/2021) sore. (Bola.com/Aditya Wany)

Bisa dibilang pemain asal Liberia ini jadi gelandang asal Afrika tersukses di Indonesia. Dia meraih tiga gelar juara, dengan perincian satu trofi bersama Sriwijaya FC (2007/2009) dan dua dengan seragam Persipura Jayapura (2010/2011 dan 2012/2013).

Tak banyak cerita bagaimana awalnya Zah Rahan bisa bermain di Indonesia. Namun pada usia 19 tahun, dia pertama kali datang dan membela tim kasta kedua, Persekaba Badung.

Kemungkinan dia dibawa pemain asal negaranya yang sudah lebih dulu main di Indonesia, yakni Stephen Weah. Tetapi baru pada 2005, dia dikenal publik sepak bola Indonesia.

Tepatnya saat membela Persekabpas Pasuruan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Pada 2006, dia membawa Persekabpas yang awalnya jadi tim medioker bisa sampai semifinal Divisi Utama.

Setelah itu dia membela dua tim besar Sriwijaya FC dan Persipura. Zah Rahan punya skill luar biasa. Bola terlihat lengket di kakinya.

Dia juga punya stamina di atas rata-rata, karena performanya stabil selama 90 menit dengan karakter permainan yang sering melakukan aksi individu.

Pada masa emasnya, Zah Rahan sempat pergi ke Liga Malaysia membela Felda United selama tiga musim. Setelah itu, dia kembali ke Indonesia bermain untuk Madura United dan PSS Sleman. Tetapi setelah dari Malaysia, permainannya tak sehebat dulu.

 

Michael Essien

Gelandang Persib Bandung, Michael Essien, saat pertandingan melawan PSM Makassar pada laga lanjutan Liga 1 di Stadion GBLA, Bandung, Rabu, (5/7/2017). (Bola.com/M Iqbal Ichsan)
Gelandang Persib Bandung, Michael Essien, saat pertandingan melawan PSM Makassar pada laga lanjutan Liga 1 di Stadion GBLA, Bandung, Rabu, (5/7/2017). (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Kedatangan Michael Essien ke Persib Bandung pada musim 2017/2018 jadi kabar menghebohkan. Sebab, Essien merupakan pemain asal Ghana yang punya nama besar di Eropa. Dia pernah membela tim raksasa Eropa, seperti Chelsea, Real Madrid, hingga AC Milan.

Namun Essien datang ke Persib dengan kondisi yang tak sebugar dulu. Maklum, waktu itu usianya sudah 35 tahun dan sempat mengalami cedera lutut. Awalnya dia sering hanya jadi pelengkap. Tetapi pengalamannya tetap berguna di lapangan. Essien bukan jadi gelandang petarung, tapi pengatur irama permainan tim.

Dalam satu musim, Essien yang tampil dalam 29 laga dan mencetak 5 gol. Essien hanya bertahan satu musim di Persib. Setelah itu dia hengkang dan sempat bermain di Azerbaijani hingga 2020.

Meski hanya sejenak di Persib, Essien tetap meninggalkan kesan positif. Dia beberapa kali posting foto saat bermain di Bandung. Sehingga dia ikut mempromosikan sepak bola Indonesia.

 

Makan Konate

<p>Pemain Persija Jakarta, Syahrian Abimanyu (kanan) terjatuh saat berebut bola dengan pemain Rans Nusantara FC, Makan Konate pada laga persahabatan antara Persija Jakarta menghadapi Rans Nusantara FC di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Sabtu (16/7/2022). (Bola.com/M Iqbal Ichsan)</p>

Pemain Persija Jakarta, Syahrian Abimanyu (kanan) terjatuh saat berebut bola dengan pemain Rans Nusantara FC, Makan Konate pada laga persahabatan antara Persija Jakarta menghadapi Rans Nusantara FC di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Sabtu (16/7/2022). (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Gelandang serang asal Mali tersebut bisa dibilang mengubah jalan hidupnya di Indonesia. Dari data Transfermakrt, sebelumnya Konate bermain di kompetisi Mali dan Libya.

Pada 2012, dia merantau ke Indonesia meski belum memiliki klub. Ketika main bola di Tengerang bersama pemain asal Afrika, dia ditemukan pelatih PSPS Pakanbaru, Mundari Karya.

Sejak saat itu, kariernya langsung melesat. Dia bermain untuk PSPS dan Barito Putera masing-masing setengah musim. Itu sudah cukup mengantarnya membela tim papan atas Persib Bandung musim 2014.

Dia juga membawa tim asal Bandung itu jadi juara ISL 2014. Selain itu, dia merasakan gelar juara Piala Presiden dengan Persib dan Arema FC.

Ketika namanya melambung, dia sempat hijrah ke Liga Malaysia membela T-Team. Namun, Konate kembali dengan membela tim besar seperti Persebaya, Persija Jakarta.

Namun sekarang, Konate bermain untuk tim promosi RANS Nusantara. Pada usia 30 tahun, performa Konate mulai memperlihatkan tanda penurunan. Karena aksi-aksi individunya tidak dominan seperti saat membela Persib dan Arema.