Ternyata 2 PM Israel Adalah Anggota Satuan Elite Pembunuh

·Bacaan 3 menit

VIVA – Banyak dari kita mungkin yang tidak mengetahui bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) pernah menuai kemenangan besar, dalam perang melawan pasukan dari negara-negara Arab. Hampir lebih dari 15 ribu tentara Islam tewas dalam pertempuran yang dikenal dengan Perang Yom Kippur.

Dalam catatan yang dikutip VIVA Militer dari buku “The Yom Kippur War” karya Abraham Rabinovich, konfrontasi bersenjata dahsyat yang melibatkan sekitar 1 juta tentara itu berlangsung mulai 6-25 Oktober 1973.

415 ribu orang prajurit militer Israel, harus berhadapan dengan 800 ribu pasukan gabungan yang berasal dari 11 negara Arab. Meski yang bermasalah adalah Mesir dan Suriah, namun ada sembilan negara Arab lain yang ikut mendukung serangan terhadap Israel saat itu.

Kesembilan negara Arab tersebut adalah Maroko, Tunisia, Kuwait, Libya, Irak, Yordania, Aljazair, dan Arab Saudi.

Salah satu pasukan yang memiliki peran penting dalam kemenangan Israel atas pasukan gabungan negara-negara Islam adalah satuan elite Sayeret Matkal, atau yang juga dikenal dengan nama Unit 269.

Menurut data yang dikutip VIVA Militer dari situs resmi Sayeret Matkal, satuan elite ini berdiri sejak 1957. Anggota Sayeret Matkal atau Unit 269 ini ditempa dengan sangkat keras hingga batas kemampuan manusia.

Kemampuan anggota Unit 269 ini bahkan disejajarkan dengan satuan elite Angkatan Darat Inggris (Royal Army), Special Air Service (SAS) dan Special Forces Operation Detachement, atau yang lebih mahsyur dikenal Delta Force, milik Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army).

Tak hanya memiliki kemampuan tempur dalam peperangan, anggota Sayeret Matkal juga dibekali spesialisasi anti-teror dan tentunya operasi intelijen. Oleh sebab itu, ada beberapa anggota satuan elite ini yang setelah pensiun memilih jalur politik. Bahkan, ada dua orang Perdana Menteri Israel yang merupakan mantan anggota Unit 269.

Nama pertama adalah Ehud Barak. Menghabiskan karier militernya selama 44 tahun, Barak adalah salah satu perwira tinggi Pasukan Pertahanan Israel yang memiliki karier cemerlang.

Pria kelahiran 12 Februari 1942 ini ikut merasakan kerasnya Perang Yom Kippur bersama Sayeret Matkal. Tak hanya itu, Barak juga pernah ikut serta dalam operasi pembebasan sandera di Bandara Entebbe, Uganda, pada 4 Juli 1976.

Dengan sederet catatan prestasinya, karier Barak terus menanjak hingga akhirnya menjadi Panglima Pasukan Pertahanan Israel periode 1 April 1991 hingga 1 Januari 1995. Setelah menjadi orang nomor satu di militer Israel, Barak pensiun dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal (Rav Aluf).

Setelah pensiun, Barak pun melanjutkan pengabdiannya di dunia politik. Tercatat, Barak pernah menjadi anggota tiga partai politik Israel hingga akhirnya terpilih menjadi Perdana Menteri pada 6 Juli 1999.

Nama kedua sudah tentu Benjamin Netanyahu. Ya, pria kelahiran Tel Aviv 21 Oktober 1949 ini juga merupakan salah satu anggota terbaik Sayeret Matkal. Seperti halnya Barak, Netanyahu juga ikut serta dalam Perang Yom Kippur.

Tak hanya itu, Netanyahu juga terjun dalam Perang Atrisi yang berlangsung sebelum Perang Yom Kippur, periode 1967 hingga 1970.

Jika Barak menghabiskan kariernya selama lebih dari empat dekade, maka Netanyahu cuma mengenakan seragam IDF selama enam tahun saja. Netanyahu lebih memilih pensiun dini dengan pangkat terakhir Kapten (Seren).

Boleh dibilang, Netanyahu punya karier politik yang lebih mengkilap dari Barak sang senior. Bersama Partai Likud, Netanyahu empat kali terpilih sebagai Perdana Menteri Israel. Pada periode pertama, Netanyahu menjabat mulai 18 Juni 1996 hingga 6 Juli 1999.

Sempat absen selama kurang lebih 10 tahun, Netanyahu kembali menduduki Perdana Menteri Israel pada 31 Maret 2009 sampai sekarang.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel