Ternyata Ada 2 Anak Kampung Boyolali Jadi Jenderal Nomor 1 TNI

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Tak ada seorang pun manusia yang bisa mengetahui nasibnya di masa depan. Sudah tentu, untuk mencapai cita-cita di kemudian hari perlu optimisme, kerja keras dan mental yang kuat. Seperti halnya dua orang Purnawirawan Perwira Tinggi (Pati) TNI, yang berasal dari satu kampung di Boyolali, Jawa Tengah.

VIVA Militer melaporkan dalam berita Selasa 16 Februari 2021, salah satu putra asli Boyolali yang punya pencapaian tinggi di Tentara Nasional Indonesia (TNI) adalah Jenderal TNI (Purn.) Mulyono.

Tak perlu diragukan lagi soal pola kepemimpinan sosok jenderal bintang empat yang dikenal sangat rendah hati ini. Mulyono mengakui bahwa ia adalah seorang yang berasal dari keluarga yang tidak mampu. Namun, kerja kerasnya sepanjang 36 tahun berkarier di TNI Angkatan Darat bisa diakhiri dengan manis.

Bagaimana tidak, semasa masih aktif berdinas Mulyono pernah menduduki sejumlah posisi strategis di lingkungan TNI Angkatan Darat. Nama Mulyono mulai menanjak saat dipercaya menjadi Asisten Operasi Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Asops Kasad) pada 2013.

Setahun berselang, Mulyono didapuk menjadi Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) Jaya/Jayakarta. Hanya dalam hitungan bulan, Mulyono mendapatkan promosi kenaikan pangkat menjadi Letnan Jenderal (Letjen) TNI, dengan jabatan sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).

Puncak karier Mulyono adalah saat menjadi orang nomor satu di lingkungan TNI Angkatan Darat. Ya, tepatnya pada 15 Juli 2015, Mulyono mendapatkan kenaikan pangkat menjadi Jenderal TNI dengan posisi sebagai Kasad menggantikan Jenderal TNI Gatot Nurmantyo yang terpilih sebagai Panglima TNI.

Ternyata, jauh sebelum Mulyono berhasil menyandang titel Jenderal bintang empat ada sosok asli Boyolali lainnya yang lebih dulu meraih pangkat itu.

Lahir di Boyolali 1 Agustus 1944, Laksamana TNI (Purn.) Widodo Adi Sutjipto merupakan salah satu putra terbaik bangsa yang muncul dari TNI Angkatan Laut. Seperti halnya Mulyono, pria yang akrab disapa Widodo AS ini juga punya rekam jejak karier yang mengkilap.

Saat masih menjad Perwira Menengah (Pamen) TNI Angkatan Laut, Widodo pernah menjadi komandan di empat kapal perang. Secara berurutan periode 1985 hingga 1989, Widodo menjadi Komandan KRI Samadikun (341), KRI Moginsidi (343), KRI Ki Hadjar Dewantara (364), dan KRI Abdul Halim Perdanakusuma (355).

Kemudian pada 1 Februari 1995, Widodo dipercaya memegang jabatan Panglima Komando Armada RepubIik Indonesia Kawasan Barat (Pangkoarmabar).

Kemudian, pada 15 Juli 1997, Widodo mendapat kenaikan pangkat menjadi jenderal bintang tiga, atau Laksamana Madya (Laksdya) TNI. Widodo juga mendapat tugas baru sebagai Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Wakasal), hingga akhirnya dipercaya menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) pada 1998 dengan pangkat Laksamana TNI.

Di sini letak perbedaan perjalanan karier Mulyono dan Widodo. Jika Mulyono pensiun pada 2018 setelah menjabat Kasad, karier Widodo berlanjut. Di era kepemimpinan Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Widodo ditunjuk menjadi Panglima TNI menggantikan Jenderal TNI (Purn.) Wiranto.

Setelah pensiun pada 2002, Widodo tetap mengabdikan diri di jalur lain. Tercatat, Widodo pernah menjadi Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Menteri Pendayagunaan Apartur Negara, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), hingga Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan.