Ternyata Ada Jenderal TNI yang Pukuli Keluarga Cendana sampai Berdarah

Rifki Arsilan
·Bacaan 5 menit

VIVA – Jenderal TNI (Purn) H.M.Soeharto, siapa yang tidak kenal dengan nama besar itu? Iya, dia adalah seorang Presiden RI kedua yang pernah memegang tampuh kekuasaan selama 32 tahun lamanya.

Sosok Jenderal Besar Soeharto dikenal sebagai seorang pemimpin yang memiliki pengaruh sangat kuat di berbagai sektor. Dengan pengaruhnya itu, Soeharto dikenal sebagai seorang presiden yang telah membangun kerajaan bisnis untuk keluarga besar beserta kolega dekatnya, yang biasa disebut dengan julukan keluarga cendana. Sehingga tidak ada kekuatan yang berani melawan pengaruh besarnya itu, bahkan konon katanya, siapapun yang berani melawan keluarga besar Jenderal TNI Soeharto resikonya adalah kehilangan nyawa.

Tapi ternyata, ada satu orang yang berani melawan pengaruh kuat keluarga cendana, dia adalah Letnan Jenderal TNI (Purn) Mochamad Jasin. Diam-diam Letjen TNI Mochamad Jasin pernah memukuli salah satu keluarga dari Jenderal Besar Soeharto. Dia adalah Brigjen TNI (Purn) Bustanil Arifin.

Bagaimana kisah lengkap mantan Wakasad yang pernah memukuli jenderal TNI keluarga Soeharto itu?

Dilansir VIVA Militer dari akun youtube, Kamis, 15 April 2021, kasus pemukulan yang dilakukan oleh Letjen TNI M.Jasin itu terjadi sekitar tahun 1973. Pemukulan terhadap Brigjen TNI Bustanil Arifin yang saat itu menjabat salah satu posisi penting di Bulog itu terjadi bukan tanpa alasan. M.Jasin memukul jenderal TNI bintang satu yang merupakan masih keluarga dari istri Jenderal Soeharto itu lantaran Brigjen TNI Bustanil Arifin telah berani berbuat kurang ajar kepada salah satu putri M.Jasin ketika hendak dalam perjalanan menuju London, Inggris untuk belajar.

Ketika mengantarkan sang putri ke Bandara untuk pergi belajar ke London, saat itu Letjen M.Jasin bertemu dengan Bustanil Arifin yang kebetulan juga akan pergi ke luar negeri dengan pesawat yang sama dengan putrinya itu.

Melihat ada seorang teman jenderal yang juga akan melakukan bepergian dengan pesawat, maka Letjen TNI M.Jasin pun menitipkan putrinya kepada Brigjen TNI Bustanul Arifin ugar dijaga, mengingat hari itu merupakan penerbangan pertama bagi putrinya ke luar negeri.

Setelah sang putri sampai di London, sang putri langsung mengirim surat kepada M. Jasin dan melaporkan bahwa selama di perjalanan menuju ke London, bahwa dirinya mendapatkan perlakuan kurang ajar dari Brigjen TNI Bustanil Arifin.

Mendapatkan kabar seperti itu, Letjen TNI M.Jasin pun langsung naik pitam. Perasaan kesal bercampur emosi terhadap tingkah laku jenderal bintang satu itu pun seperti sudah tidak terbendung.

Untuk diketahui, Brigjen TNI (Purn) Bustanil Arifin memang salah satu keluarga dekat Presiden Soeharto. Istri Bustanil memiliki ikatan keluarga dengan istri dari Presiden Soeharto, yaitu Ibu Tien Soeharto.

Karir Bustanil di dunia birokrat pun cepat melesat, selain dipercaya sebagai Kepala Bulog, Bustanil juga pernah menjabat sebagai menteri Koperasi pada Kabinet Pembangunan III, IV, dan V. Bustanil juga tercatat pernah dipercaya memegang kendali Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada tahun 1974 dibawah Yayasan milik keluarga cendana.

"Dia menganggap dirinya bisa melakukan apa saja yang dikehendakinya. Karena dia mempunyai kedudukan, kekayaan, dan hubungan keluarga dengan Soeharto. Dia berpikir semua orang dapat diperlakukan sama," kata Letjen M.Jasin mengungkapkan kemarahannya.

Namun, sebagai seorang prajurit yang patuh terhadap atasan, M.Jasin pun tidak langsung gegabah untuk main hakim sendiri. Dia justru melaporkan kejadian tersebut kepada Jenderal TNI Soeharto, Jenderal TNI Pangabean, dan Jenderal TNI Soemitro dengan cara mengirim surat kepada tiga petinggi jendral ketika itu.

Sayangnya surat Jasin tidak digubris Soeharto. Bahkan, ketika M.Jasin datang ke Istana Presiden, konon katanya jenderal tni bintang tiga kelahiran Sabang, Aceh itu tidak ditemui oleh Jenderal TNI (Purn) H.M.Soeharto.

Rasa kecewa Letjen TNI M.Jasin semakin menjadi-jadi. Di satu sisi dia merasa bahwa telah terjadi penghianatan yang dilakukan oleh Brigjen TNI Bustanil Arifin terhadap dirinya. Di satu sisi dia harus tetap bersabar serta patuh terhadap aturan komando untuk menuntut keadilan yang dia perjuangkan demi harga dirinya sebagai orang tua yang juga seorang jenderal TNI.

Tak lama berselang, lanjut M.Jasin mengisahkan, Brigjen TNI Bustanil Arifin tiba di Jakarta dari New York. Bustanil pun langsung dipanggil oleh Jenderal TNI (Purn) Soemitro. Jenderal Soemitro pun memarahi Bustanil Arifin habis-habisan atas tindakan kurang ajarnya itu terhadap putri M.Jasin. Tidak hanya itu, Jenderal TNI Soemitro pun langsung memerintahkan Bustanil untuk menghadap M.Jasin segera dan meminta maaf atas apa yang dia lakukan terhadap putri tercintanya itu.

Sesampainya di depan kediaman M.Jasin. Brigjen TNI Bustanil Arifin langsung disambut oleh M.Jasin yang sudah menahan amarahnya selama ini. Benar saja, M.Jasin pun langsung mendaratkan tinjunya ke wajah Bustanil Arifin bertubi-tubi. Dia sudah tidak lagi memandang bahwa Bustanil Arifin adalah salah satu keluarga Presiden Soeharto. Rasa emosi dan kekecewaan yang sangat dalam telah membuatnya kalut, hingga Bustanil Arifin bercucuran darah akibat dipukuli oleh M.Jasin. Bustanil pun mengaku akan perbuatan bejatnya terhadap putri M.Jasin, dan meminta maaf atas perbuatannya itu.

Mendengar perlakuan Letjen M.Jasin terhadap Brigjen Bustanil Arifin, Jenderal H.M.Soeharto kemudian memanggil M.Jasin ke Cendana. Dan M.Jasin pun mendatangi Soeharto seorang diri.

Soeharto sempat memarahi M.Jasin di kediamannya. "Jenderal jangan main hakim sendiri," bentak Soeharto kepada M.Jasin.

Letjen M.Jasin pun tidak terima dimarahi oleh orang nomor satu di Korps TNI Angkatan Darat ketika itu. "Saya membela keluarga saya yang dihina oleh Bustanil secara tidak seronok," kata Jasin menjawab bentakan Soeharto.

M.Jasin juga menyampaikan kepada Soeharto bahwa yang dia lakukan adalah sama halnya dengan apa yang pernah dilakukan oleh Jenderal H.M.Soeharto ketika membela istrinya, Ibu Tien ketika disebut sebagai Ibu Tien Persen.

"Lebih baik saya dikirim ke Vietnam dan mati terhormat dari pada dihina oleh Bustanil Arifin," ketus M.Jasin di hadapan Soeharto.

Karena perdebatan itu, M.Jasin pun langsung pergi meninggalkan Cendana. Dia mengaku, sangat sadar bahwa Jenderal Soeharto akan membela mati-matian Brigjen TNI Bustanil Arifin. Sebab, istri Bustanil masih memiliki ikatan keluarga dengan Ibu Tien Soeharto.