Ternyata, Narsis Hingga Pansos Bisa Jadi Tanda Gangguan Jiwa

Tasya Paramitha, Sumiyati
·Bacaan 2 menit

VIVA – Fenomena narsistik atau narsis dan panjat sosial alias pansos, sudah menjadi pemandangan sehari-hari di media sosial. Mirisnya, konten-konten seperti itu malah laris-manis diburu warganet dan memiliki banyak pengikut.

Tapi hati-hati, fenomena narsis hingga pansos ternyata dikaitkan dengan tanda gangguan jiwa. Benarkah demikian? Spesialis kejiwaan, dr Iman Firmansyah, SpKJ, turut memberikan penjelasannya satu per satu.

Baca Juga: Hati-hati, Sering Main Medsos Bisa Jadi Tanda Gangguan Jiwa

Narsistik

Dokter Iman menjelaskan, narsis bisa menjadi tanda gangguan jiwa tapi bisa juga tidak. Menurut dia, narsis merupakan salah satu ciri kepribadian, jadi hal itu normal-normal saja. Namun, narsis juga bisa menjadi tanda gangguan jiwa jika seperti berikut ini.

"Semua orang suka dipuji, suka diperhatikan, normal. Namun, apabila terganggu jadi gangguan jiwa namanya narcissistic disorder. Apa cirinya? Pada saat dia tidak dipuji, dia marah, ngamuk, emosi. Pada saat dia upload foto di media sosial, tidak ada yang komen dan like, dia emosi. Mulailah depresi, emosi, marah. Itulah yang disebut gangguan jiwa," ujarnya dalam tayangan Hidup Sehat di tvOne baru-baru ini.

Pansos

Menurut dokter Iman, pansos juga bisa menjadi tanda gangguan jiwa. Dia menjelaskan, orang-orang pansos biasanya menghalalkan segala cara agar namanya bisa populer. Tidak peduli apakah dilihat atau ditonton anak-anak, orangtua atau yang lainnya, yang penting tujuannya tercapai.

"Ini juga menjadi salah satunya gangguan narsistik. Dia enggak ada empati sama orang lain. Bahkan dia bisa mendayagunakan orang lain supaya namanya dia naik. Jadi bisa ngerjain orang lain, terserah orang lain itu lagi kesel, marah, yang penting nama saya jadi bagus," kata dia.

Lalu, apakah pansos termasuk gangguan jiwa? Jika bukan, bagaimana cara membedakannya?

"Kalau orang yang mencari uang dengan cara pansos, pokoknya apa pun yang dilakukan mau efeknya baik, buruk, segala macam, yang penting namanya naik. Kalau gangguan kejiwaan misalnya narsistik, dia ada kritik, dia akan marah, emosi berlebihan. Tapi kalau orang yang hanya ingin mencari duit, ada kritik, dia biasa aja, yang penting uang masuk," terangnya.

Bikin drama di medsos

Sering membuat drama di media sosial juga bisa masuk kategori gangguan jiwa. Menurut Iman, orang yang marah tidak pada tempatnya, berarti memiliki masalah kejiwaan.

"Intinya, gangguan kejiwaan itu bukan hanya seperti orang yang membuka baju atau telanjang. Tapi orang yang marah tidak pada tempatnya, itu udah terganggu jiwanya, udah punya masalah kejiwaan. Orang yang membuat drama berlebihan, kesal berlebihan, berarti orang itu punya masalah dengan kejiwaan dan itu perlu berobat," tuturnya.

Yang ditakutkan adalah, biasanya orang-orang yang memiliki gangguan jiwa akan mencelakai dirinya sendiri atau orang lain. Iman menyarankan, jika sudah seperti ini, berarti orang tersebut sudah harus membutuhkan bantuan profesional.

"Pada saat sudah mengindikasikan ke sana, pada tahap dia sudah depresi, itu perlu dibantu oleh profesional," katanya.

Sebenarnya, Iman tidak menampik bahwa media sosial tidak melulu negatif, asal kita bijak menggunakannya.

"Media sosial itu tidak selalu negatif, pasti ada positifnya juga. Sekarang bagaimana kita untuk menangani media sosial ini. Jadi, kita cari hal yang positif. Masih banyak di media sosial yang positif," tutup Iman Firmansyah.