Ternyata, Terapi Musik Bisa Sembuhkan Stroke Hingga Depresi

Rochimawati, Sumiyati
·Bacaan 2 menit

VIVA – Ketika sedang mendengarkan atau memainkan musik, biasanya apa yang kamu rasakan? Mood meningkat, bersemangat, lebih mudah berkonsentrasi, atau pikiran menjadi lebih tenang?

Tahukah kamu, lebih dari itu, ternyata musik juga dapat digunakan sebagai terapi untuk pengobatan dengan kondisi tertentu, lho.

Terapis musik Siloam Hospitals Lippo Village, Jessica Hariwijaya, S. SN, NMT, menjelaskan, musik terapi dapat menciptakan ruang untuk berkembang, memberikan kesempatan untuk berkomunikasi tanpa diperlukan kata-kata, dan menggariskan perbedaan antara isolation dan connection.

"Terapi musik sudah terbukti secara klinis mampu membantu menangani masalah kejiwaan yang berhubungan dengan penyakit emosional, kognitif, hingga masalah sosial," ujarnya saat live di Instagram dalam sesi Edukasi Kesehatan, baru-baru ini.

Menurut Jessica, terapi musik dapat diikuti oleh orang-orang yang mengalami berbagai masalah kesehatan mental, seperti sering mengalami depresi dan trauma karena kejadian tertentu, penderita autisme atau anak berkebutuhan khusus, orang yang mengalami kerusakan otak seperti stroke atau cedera otak traumatis, serta penderita gangguan jiwa dan orang yang mengidap demensia atau pikun.

"Lewat terapi musik, orang-orang tersebut dapat lebih peka terhadap emosi, sekaligus membangun koneksi dengan orang-orang yang mereka sayangi," kata dia.

Lalu, apa saja manfaat yang didapat jika melakukan terapi musik untuk orang yang mengalami kerusakan otak seperti stroke?

"Bagi pasien stroke, terapi musik memiliki sejumlah manfaat yang berkaitan dengan peningkatan gerak tubuh, antara lain, meningkatkan kemampuan daya ingat, dapat memberikan relaksasi dan meningkatkan mood, menstimulasi otak dan koordinasi gerak tubuh, serta membantu pengalihan rasa sakit yang dialami pasien," tuturnya.

Menurut Jessica, dalam banyak studi ditemukan bahwa fungsi otak dan motorik pasien stroke lebih meningkat ketika diberikan terapi musik dalam program rehabilitasi. Lebih lanjut, mereka yang menjalani terapi musik memiliki kontrol lebih baik terhadap perasaan depresi, gelisah, dan cemas dibandingkan yang tidak menerima terapi musik.

"Oleh karena itu, terapi musik banyak direkomendasikan bagi pasien stroke di tengah menjalani pengobatan medis secara umum," kata Jessica Hariwijaya

Sementara bagi pasien demensia, terapi musik dapat menurunkan tingkat depresi dan kecemasan. Dijelaskan Jessica, istilah demensia digunakan untuk menggambarkan suatu sindrom atau kumpulan gejala akibat penyakit yang mengganggu daya ingat, daya pikir, daya orientasi dan kemampuan lainnya.

"Jika sebuah lagu dari masa lalu dimainkan, hal itu dapat membawa kembali kenangan yang berkaitan dengan masa lalunya. Namun penerimaan terhadap setiap pasien tidak dapat disamakan. Penurunan sindrom sekecil apapun pada pasien demensia akan sangat berharga," ujar dia.

Nah, selanjutnya adalah terapi musik bagi anak berkebutuhan khusus atau autisme. Apa saja manfaat yang didapat?

"Anak-anak berkebutuhan khusus memiliki kelemahan fisik, salah satunya adalah jari-jarinya terlalu rekat dan sulit dilebarkan. Dengan bermain piano, akan terlatih untuk membuka jarinya saat memainkan tuts piano," tuturnya.

"Bermain musik juga akan menghasilkan bunyi-bunyian, dan inilah yang menarik perhatian anak-anak spesial. Dengan hasil nada yang dimainkan dan rasa emosi yang timbul, mereka pun mudah bergolak. Mulai dari tenang hingga marah yang meledak-ledak. Dengan memainkan lagu yang disukainya, banyak dari mereka jadi merasa nyaman dan bahagia," kata Jessica Hariwijaya.