Teror Busur di Jalanan Kota Makassar

Merdeka.com - Merdeka.com - Kasus pembusuran menggunakan anak panah di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) marak terjadi dalam enam bulan terakhir. Terbaru aksi penyerangan dilakukan delapan remaja di warung kopi (warkop) yang berisi perwira Kepolisian Resor Kota Besar Makassar. Peristiwa ini bahkan menjadi sorotan luas di media sosial (medsos).

Busur terbuat dari kayu atau besi yang dibentuk sedemikian rupa hingga menjadi sebuah ketapel, dilengkapi dengan karet sebagai pelontar. Sedangkan pelurunya adalah senjata tajam berupa paku dengan ujung runcing. Meski terbilang sederhana, namun busur ini memiliki kemampuan mematikan.

Penggunaan busur sebelumnya hanya digunakan sejumlah orang saat terjadi tawuran atau perang kelompok. Tetapi, dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan busur semakin meluas. Senjata ini juga digunakan oleh pelaku kriminal jalanan seperti begal maupun geng motor.

Berdasarkan data yang dirangkum merdeka.com, aksi pembusuran kerap terjadi di Jalan Perintis Kemerdekaan, Sudiang. Kemudian Jalan Veteran Utara dan Selatan, Jalan Kandea, Jalan Rajawali, Jalan Paccerakkang, Jalan Antang Raya dan Jalan Mallengkeri.

Sejumlah upaya penindakan dilakukan Polrestabes dan Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar untuk menekan angka kriminal jalanan dengan menggunakan busur. Mulai dari patroli rutin hingga membentuk organisasi Batalyon 120, sebuah wadah pembinaan mantan pelaku kriminal jalanan.

Tidak hanya itu, Polrestabes Makassar bahkan mengeluarkan imbauan kepada rumah sakit dan fasilitas kesehatan untuk langsung membakar selang karet kateter bekas yang bisa dijadikan bahan untuk membuat busur.

Berdasarkan data pada September 2022, setidaknya ada 940 busur beserta pelontarnya diamankan dan telah dimusnahkan polisi. Busur yang diamankan, sebelumnya merupakan hasil pengumpulan Batalyon 120 dari pelaku pembusuran.

Pada Juni 2022, Kepolisian Sektor Mamajang membongkar tempat pembuatan busur di jalan Baji Gau, Kecamatan Mamajang, Kota Makassar. Kepala Polsek Mamajang, Komisaris Mariana Taruk Rante mengatakan penjualan busur dibanderol dengan harga Rp2.500 per biji. Sedangkan untuk ketapelnya itu harganya Rp15 ribu.

"Tersangka memang pekerjaannya membuat busur, keseringan membuat busur dan pelontarnya itu. Delapan busur, kemudian pelontarnya ada dua. Sehingga kita tangkap lah si pelaku ini pembuat busur karena pelontarnya itu harga Rp15 ribu sedangkan harga mata busur ini dijualnya dengan harga Rp2.500 per biji," ujarnya.

Mariana mengungkapkan untuk proses jual-beli tersangka bervariasi. Salah satunya mengikuti permintaan konsumen dan biasanya ada yang beli perpaket, dan ada juga cuma membeli anak panahnya saja.

"Bisa beli paket maupun satuan untuk anak panahnya," kata dia.

Mariana mengaku kasus tersebut terungkap berawal dari penangkapan anak di bawah umur inisial FR. Saat itu, FR didapati warga memegang anak panah beserta pelontarnya saat berada di jalan Cendrawasih dan kemudian melaporkan peristiwa tersebut ke Polsek Mamajang.

Tidak selang lama, Polsek Mamajang kemudian langsung turun untuk mengamankan pelaku dan dibawa ke Polsek Mamajang. Hasil interogasi FR kemudian memberi tahu dan menunjuk tempat dirinya memperoleh dan membeli busur.

"Saat itu pula anggota langsung langsung mendatangi tempat produksi yang memperjual-belikan mata busur dan ketapelnya," ujarnya.

Di lokasi, personel Polsek Mamajang berhasil membekuk MR (33), sebagai orang yang memproduksi alat-alat tersebut. Polisi mendapati delapan anak panah yang terbuat dari paku 5 cm di mana ujungnya runcing.

Di sisi lain, ada tali plastik yang masing-masing warna hitam, merah, hijau, biru dan kuning. Selanjutnya, dua buah ketapel yang terbuat dari besi dan tali karet warna kuning dan gagang dilapisi pipa ukuran seperempat inci. Satu buah mesin gurinda, satu buah palu dan satu buch mesin las.

MR memproduksi busur kurang lebih satu tahun. Hasil penjualan busur, MR pakai untuk membeli rokok dan makanan.

"Dia mempunyai pembeli anak panah dari kalangan milenial. Bahkan, mereka yang membeli rata-rata masih duduk di bangku SMP dan SMA yang sudah pelaku kenal," ungkapnya.

Sementara berdasarkan pengakuan FR, membeli busur untuk jaga diri. Ia beralasan sering diganggu anak-anak lain dan mempunyai musuh dari luar kampungnya.

"Saya sering diganggu, makanya beli itu (busur)," ujar FR yang masih tercatat sebagai siswa sekolah menengah pertama ini.

Pelaku pembusuran di tempat lainnya, inisial IB (23) mengaku menggunakan busur untuk melakukan tindak kriminal karena praktis dan mudah. Dia menyebut membuat busur tidak susah.

"Buat sendiri dari paku atau besi yang dilancipkan," kata dia.

Ia menyebut dengan menggunakan busur memudahkan dirinya untuk mengancam orang lain. Selain itu, dengan menggunakan busur dirinya bisa mudah melarikan diri.

"Kan kalau pakai busur Patte Lari (lempar lari)," ceritanya.

IB sendiri merupakan pelaku pembusuran terhadap seorang suporter PSM Makassar bernama Andi Ahsan Taqwim di Jalan Poros Pattalasang Baddoka, Kecamatan Biringkanaya pada Minggu (11/9). Saat itu Ahsan baru pulang usai menonton PSM melawan Persebaya di Kota Parepare.

Kapolsek Biringkanaya Komisaris Andi Alimuddin mengatakan, pelaku pembusuran seorang suporter PSM ternyata satu bagian dari kasus curas sebuah warung makan di kawasan Sudiang, Kecamatan Biringkanaya. Alimuddin mengungkapkan tujuh orang tersebut diamankan saat sedang kumpul di wilayah Antang, Kecamatan Manggala, untuk pesta miras.

"Tujuh orang diamankan ini pelaku pembusuran terhadap seorang suporter PSM minggu lalu. Mereka juga pelaku (curas) di warung penjual nasi kuning," ujarnya kepada wartawan, Minggu (18/9).

Alimuddin mengungkapkan tidak ada motif khusus pelaku melakukan aksi pembusuran. Menyebut mereka hanya berkeliling dan menargetkan pengendara yang berpapasan.

"Mereka cuma lewat, terus ada pengendara melintas dan dia kejar. Sebelum membusur korban, ada suporter (PSM) lain dari Gowa yang mereka busur, tapi tidak kena," bebernya.

Saat itu, handphone salah seorang pelaku terjatuh di lampu merah Baddoka-Perintis Kemerdekaan. Ketika mereka akan mengambil handphone, pada saat bersamaan korban melintas dan langsung dibusur. [cob]