Terpapar COVID-19 Pasca Lebaran, Ini Saran Guru Besar FKUI

·Bacaan 2 menit

VIVA – Banyak pakar memprediksi lonjakan kasus COVID-19 yang terjadi usai libur Hari Raya Idul Fitri tahun ini. Sebab, masyarakat masih berusaha pulang ke kampung halaman maupun pergi ke ruang publik tanpa pedulikan protokol kesehatan.

Sebut saja, saat Ramadhan yang menyoroti antusias masyarakat untuk belanja di pusat perbelanjaan dengan tak mengindahkan pemakaian masker dan jaga jarak. Ada juga, pemudik yang rela berkerumun demi tiba di kampung halaman.

Tak sedikit masyarakat yang turut pergi ke tempat wisata dengan tanpa memakai masker. Guru Besar FK UI, Prof. dr. Soedjatmiko SpA (K) MSi, menyebut bahwa masyarakat yang merasa pernah berkerumun, sebaiknya segera periksa tes COVID-19

"Kalau pemudik, segera periksa swab antigen, PCR. Lapor RT/RW atau Satgas COVID-19 untuk dipantau," jelasnya, dalam acara virtual beberapa waktu lalu.

Selain itu, masyarakat diminta karantina mandiri selagi mengenali gejala yang mungkin timbul. Apabila merasakan gejala, meski ringan, sebaiknya segera periksa.

"Kalau ada sesak, diare, demam, segera berobat. Mudah-mudahan bukan COVID-19 tapi kalau COVID, bisa segera diobati karena masih gejala ringan dan tidak akan meninggal," tuturnya.

Lantas, apabila sudah ada gejala, apa langkah yang perlu dilakukan? Berikut ulasannya.

1. Gizi seimbang

Makan dengan porsi lengkap mencakup karbohidrat, protein, sayur dan mineral. Dengan gizi seimbang, diharapkan daya tahan tubuh bisa meningkat.

"Kalau sedang sakit jangan puasa syawal dulu. Makan 3 kali, lengkap ada nasi dan lauk. Lauk tidak usah mewah yang penting ada protein hewani seperti ayam dan telor lalu protein nabati tempe tahu. Ditambah buah sayur," jelasnya.

2. Berjemur

Vitamin D dari matahari sangat dibutuhkan tubuh sebagai pembangun imunitas. Untuk itu, berjemur secukupnya di pagi hari agar mendapatkan manfaat kesehatannya.

"Pagi hari kalau sempat pakai baju tipis, kena sinar matahari," tuturnya.

3. Aktif

Apabila bergejala ringan, disarankan tetap aktif bergerak namun tak berlebihan. Sebut saja, berjalan santai di sekitar rumah atau bersepeda dengan intensitas ringan.

"Kalau bisa, jalan kaki di kompleks, gerak badan sampai berkeringat akan bantu perkuat daya tahan," paparnya.

4. Protokol kesehatan

Protokol kesehatan harus dijalani meski tiga hal di atas sudah dilakukan. Sebab, protokol kesehatan dapat memproteksi virus yang rentan masuk ke dalam tubuh.

"Tetap tidak bisa kalahkan prokes. Itu hanya menambahkan prokes saja. (Contoh) banyak olahragawan segar bugar dalam waktu singkat kena (COVID-19) dan meninggal. Mau yang sehat atau rentan, pakai prokes," tegasnya.