Terpidana Bom Bali I Abdul Ghoni Sudah 10 Kali Ajukan Remisi ke Presiden

Merdeka.com - Merdeka.com - Suranto Abdul Ghoni terpidana Bom Bali I menjalani masa hukuman seumur hidup di Lapas Kedungpane, Semarang. Terpidana kasus terorisme itu yang sudah menjalani hukuman sembilan belas tahun masa hukuman selalu mengajukan pengampunan ke Presiden RI belum juga mendapatkan persetujuan.

"Harapannya Bapak Jokowi segera mengabulkan perubahan pidana ini karena sudah lebih dari 10 kali saya berikhtiar untuk mengajukan permohonan kepada Bapak Presiden," kata Abdul Ghoni saat ketemu Stafsus Menkumham, Bidang Transformasi Digital, Fajar B.S Lase di Lapas Semarang, Kamis (23/6).

Karena belum disetujui mendapatkan remisi, ia memilih menyibukkan diri dengan membuat kaligrafi timbul berbahan baku dari kuningan. Selain itu saat ini sedang menerapkan ilmu agamanya ke dalam bentuk karya seni. Dia sangat serius belajar berkarya dan mencari bentuk-bentuk kaligrafi terbaru dan paham ayat mana saja dalam Alquran yang jika dijadikan kaligrafi akan menjadi karya yang indah.

Dari hasil karyanya mencuri perhatian Staf Khusus Menteri Hukum dan HAM Bidang Transformasi Digital, Fajar B.S Laste turut memberikan apresiasi atas pembuatan kaligrafi tersebut.

"Sangat bagus dan luar biasa narapidana di Lapas Semarang diberikan kegiatan yang positif, khususnya napi teroris," jelasnya.

Abdul Ghoni sendiri merupakan narapidana kasus Bom Bali I yang divonis hukuman seumur hidup oleh mahkamah agung. Ghoni semula mendekam di Lapas Krobokan Bali sejak 2003 silam.

Meski begitu, Ghoni yang divonis seumur hidup lalu dipindahkan ke Lapas Kedungpane tahun 2008 untuk menjalani pidana sampai sekarang.

Terpisah, Kepala Lapas Kedungpane Semarang Tri Saptono Sambudji mengatakan dengan rutin membuat kaligrafi setidaknya Ghoni sudah berpartisipasi dalam program deradikalisasi yang diberlakukan pemerintah pusat.

Selain tekun membuat kaligrafi, Ghoni juga hobi membuat bakwan atau pia-pia. Pia-pia buatan Ghoni kerap dijual ke koperasi lapasnya.

"Ghoni juga pandai mengolah makanan yaitu berupa pia-pia atau bakwan yang diproduksi untuk dijual di koperasi," kata Tri Saptono Sambudji.

Selama mendekam di Lapas Kedungpane, menurutnya Ghoni juga tergolong kooperatif dan sering ikut pembinaan dari lapas.

"Dia sangat kooperatif dengan petugas, juga aktif ikut kegiatan pembinaan kepribadian maupun kemandirian. Dan juga membuat kaligrafi tersebut," pungkasnya. [eko]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel