Terungkap, Alasan Pekerja Restoran Enggan Patuhi Protokol Kesehatan

Donny Adhiyasa, Sumiyati
·Bacaan 2 menit

VIVA – Industri jasa makanan terpukul parah oleh pandemi virus corona atau COVID-19. Menurut survei baru-baru ini yang dilakukan oleh organisasi nirlaba, One Fair Wage dan UC Berkeley Food Labour Research Center, yang menanyai sekitar 1.675 pekerja layanan makanan pada Oktober dan November 2020, banyak pekerja layanan makanan berisiko tinggi tertular COVID-19.

Selain itu, banyak yang melaporkan tidak memiliki perlindungan kesehatan yang memadai di tempat kerja dan mengatakan bahwa mereka telah mengalami banyak pelecehan dari pelanggan dalam beberapa bulan terakhir.

Satu masalah yang menjadi perhatian besar bagi pekerja layanan makanan adalah penurunan yang stabil dalam pemberian tip selama pandemi. Sebanyak 83 persen pekerja yang disurvei mengatakan, tip mereka berkurang dalam 9 bulan terakhir dengan hampir dua pertiga responden melaporkan tip mereka telah terpotong setengahnya.

Dengan upah minimum federal untuk pekerja yang diberi tip hanya US$2,13 atau sekitar Rp30 ribu per jam, banyak pekerja layanan makanan tidak mau melakukan apa pun yang dapat membahayakan pemberian tip mereka, termasuk menegakkan protokol keamanan COVID-19.

Matt Zender, SVP strategi kompensasi pekerja di AmTrust Financial Services, mengatakan, tanggung jawab ada pada pemberi kerja untuk 'sedapat mungkin mendukung' kepada staf lini mereka dalam masa-masa sulit ini.

Hal itu berarti, menciptakan tempat kerja dan menjalankan operasi yang sesuai dengan pedoman Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) seputar virus corona, di mana karyawan dan pelanggan dilindungi.

Dalam konteks survei pekerja layanan makanan, di mana pekerja merasa nyaman dan diberdayakan untuk berkomunikasi dan menegakkan kesehatan apa pun dan peraturan keselamatan.

"Tanda yang tepat tentang tindakan pencegahan COVID-19, misalnya dapat memungkinkan pelayan atau pramusaji untuk menunjuk ke tanda yang ditempatkan dengan baik (di pintu tempat pelanggan masuk, atau di dinding sekitar restoran) dan berkata 'Saya bertanya kepada Anda untuk mengikuti aturan, saya hanya melakukan pekerjaan saya’," kata dia, dilansir Insurance Business, Selasa 22 Desember 2020.

Zender menambahkan, bisnis perlu memahami bahwa dengan tidak mendukung hal tersebut sebenarnya menempatkan karyawan mereka dalam posisi bahaya, di mana mereka harus membuat keputusan sendiri tentang seberapa nyaman mereka dengan keselamatannya sendiri.

"Jika pelaku bisnis bertanggung jawab dan memberikan dokumentasi serta papan pengumuman yang tepat, hal itu memungkinkan staf lini berada dalam posisi yang lebih mendukung pelanggan, daripada posisi penegakan hukum," sambung dia.

Industri layanan makanan telah bekerja keras untuk bertahan selama pandemi COVID-19, termasuk mengikuti kapasitas jumlah pengunjung yang disarankan dan memperkenalkan langkah-langkah kesehatan serta keselamatan, seperti wajib memakai masker, pelindung plexiglass antar meja, menu touchless, hingga pembayaran cashless.

Meskipun upaya ini bertujuan sangat baik, namun tidak akan menghilangkan risiko penularan COVID-19 sepenuhnya. Pelanggan diizinkan membuka masker saat duduk di meja makan, sehingga potensi paparan COVID-19, terutama untuk pekerja restoran tetap tinggi.