Terungkap Asal Usul Bansos yang Dikubur di Depok

Merdeka.com - Merdeka.com - Satreskrim Polres Metro Depok memeriksa sejumlah saksi terkait kuburan bansos (bantuan sosial) Presiden di lahan bekas dipakai parkir Mobil perusahaan jasa ekspedisi JNE, Jalan Raya Tugu, Tirtajaya Sukmajaya, Depok.

Ada dua saksi yang dimintai keterangan. Salah satunya perwakilan dari pihak JNE atas nama Samsul Jamaludin. Pemeriksaan berlangsung di Polres Metro Depok hari ini, Senin (1/8).

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Endra Zulpan menjelaskan asal muasal bansos yang dikubur di Depok. PT DNR sebagai pemenang lelang yang ditunjuk oleh Bulog. PT DNR menangani penyaluran bantuan sosial (Bansos) untuk masyarakat di wilayah Depok, Jawa Barat pada 2020.

Selanjutnya, PT DNR bekerja sama dengan perusahaan jasa ekspedisi JNE. Pihak JNE bertanggung jawab atas pengiriman paket beras ke penerima yang namanya sudah ada dalam list sesuai data dari pemerintah.

"Jumlah beras yang dikirim oleh PT JNE dalam kontraknya dengan PT DNR sebagai pemenang vendor dari pemerintah sekitar ratusan ribu ton," ujar Zulpan di Mapolda Metro Jaya, Senin (1/8).

Namun Zulpan tak bisa menyampaikan jumlah secara rinci. Sebab, sampai hari ini pihak JNE belum menyerahkan data ke penyidik kepolisian. Pengakuan itu, masih sebatas keterangan lisan dari Samsul Jamaludin.

"Kami belum bisa sampaikan detailnya karena kita harus miliki data akurat dalam bentuk dokumen. Hari ini belum bisa ditampilkan kepada mereka," jelas dia.

Kronologi Penemuan Kuburan Bansos

Diberitakan sebelumnya, Warga Depok kaget. Mereka menemukan beras busuk ditimbun di dalam tanah. Rupanya, barang tersebut bantuan sosial (Bansos).

Kuburan Bansos itu ditemukan di lahan kosong, Jalan Tugu Jaya, Kelurahan Tirta Jaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok. Di Tanah lapang itu memang pernah dijadikan tempat parkir jasa ekspedisi. Pemilik lahan Rudi mengaku, awalnya dapat informasi dari seorang pekerja jasa ekpedisi, JNE.

"Saya dapat informasi dari orang dalam JNE yang katanya ada pemendaman sembako," kata Rudi.

Rudi pun membuktikan informasi yang diterimanya dengan menggali lokasi yang diduga ada bansos dipendam. Pada hari pertama, dia tidak dapat hasil.

Lalu berbekal informasi dari salah satu rekannya yaitu S yang juga pernah bekerja di gudang JNE cabang Depok itu, Rudi kemudian melakukan penggalian lagi menggunakan alat berat. S adalah mantan pekerja JNE yang sempat dia tolong karena pernah dituduh mencuri.

"Saya ingat punya klien inisial S, bahwa yang bersangkutan pernah kerja di sini (JNE) dan dia ngaku pernah diperintahkan bawa sembako ke dalam mobil besar oleh koordinator JNE inisal A. Saya penasaran, maka saya cari, sampai dua hari. Nah hari ketiga saya dapat dengan menggunakan Beko (alat berat)," ujarnya.

Saat ditemukan, sembako yang dikubur kondisinya sudah membusuk. Ketika digali pun menimbulkan aroma yang cukup menyengat. Sejauh ini baru satu karung beras yang ditemukan.

"Beras itu masih ada yang karungan, sagunya juga ada," terangnya.

Sembako yang ditemukan terdapat tulisan bantuan presiden yang dikoordinir Kemensos (Kementerian Sosial). Dari tulisan yang tertera, kata Rudi Samin, bantuan tersebut ditujukan untuk masyarakat luar Pulau Jawa, seperti Sumatera, Kalimantan, NTT dan lain sebagainya.

Dugaan Rudi, bansos yang ditimbun masih ada banyak lagi. "Ini (sembako) dipendam. Artinya bukan satu ton tapi patut diduga satu kontainer JNE membawa sembako dan kemudian dipendam di sini," katanya.

Camat Sukmajaya, Kota Depok, Fery Birowo mengaku kaget dengan adanya temuan beras sembako bansos yang dikubur di lahan Jalan Tugu Jaya, Kelurahan Tirta Jaya.

Lahan tersebut selama beberapa tahun ini digunakan untuk lahan parkir perusahaan ekspedisi JNE.

"Itu kami sempat agak kegat juga, ternyata di situ ada penimbunan beras dari banpres. Karena lokasi tersebut sudah beberapa tahun digunakan untuk lokasi parkir JNE. Beberapa tahun, didekat situ biasanya lurah atau warga itu ada aktivitas di situ, dan selalu ramai," kata Fery, Minggu (31/7).

Penemuan ini kemudian ia laporkan kepada polisi. Saat ini kasus ditangani Polresta Depok. JNE pada Minggu (31/7) mengakui penimbunan dilakukan oleh JNE. Motifnya bansos yang berupa beras tersebut telah rusak.

"Jadi itu memang beras yang rusak. Dan memang bisa dibilang berasnya itu sesuai ini sudah terjadi pergantianlah, jadi sudah tidak layak dan karena sudah rusak," jelasnya. [noe]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel