Terungkap, Bedanya Sistem Kepelatihan Bulutangkis Indonesia dan Jepang

Ridho Permana
·Bacaan 1 menit

VIVA – Tugas berat dipikul Rionny Mainaky selaku Kepala Bidang Pembinaan Prestasi Kabid Binpres) PP PBSI periode 2020-2024. Ia juga menjadi pelatih sektor tunggal putri.

Rionny punya catatan gemilang saat menukangi bulutangkis Jepang. Ia telah membuat para pebulutangkis Jepang melesat, salah satunya Nozomi Okuhara.

Nah, Rionny sedang berupaya meniru cara yang dilakukannya di sana untuk diterapkan di Indonesia pada periode PBSI saat ini.

"Kalau di Jepang, mulai dari junior dan senior wajib bertanding 21 turnamen dalam setahun. Baik pemain prestasi atau tidak, pasti berangkat," ujar Rionny dalam webinar dikutip VIVA Bulutangkis, Jumat 5 Februari 2021.

Meski demikian, menurut Rionny tekait teknis sama. Untuk itu ia akan berdikusi lebih lanjut untuk program tersebut.

"Terkait teknis kurang lebih sama. Saya akan diskusi lagi. Bagaimana sistem di sana bisa dilakukan di Indonesia," ungkapnya.

Selain soal jumlah turnamen yang diikuti, Rionny juga membandingkan sistem promosi degradasi antara pemain Jepang dan Indonesia.

"Kalau di Jepang, ada pemain keluar (degradasi), ada kemungkinan bisa masuk lagi. Jadi tidak dibuang begitu saja. Kesimpulannya ada motivasi pemain itu untuk kembali promosi," kata dia.