Terungkap, Faktor Atlet Bulutangkis Putri Indonesia Kurang Bersinar

Ridho Permana
·Bacaan 1 menit

VIVA – Indonesia gagal memenuhi target yang diberikan selama berlaga di Thailand (turnamen Leg Asia). Indonesia mengikuti tiga turnamen yang dihelat di Negeri Gajah Putih.

Tiga turnamen yang dilakoni antara lain, BWF World Tour Super 1000 Thailand Open jilid 1, BWF World Tour Super 1000 Thailand Open jilid 2, dan BWF World Tour Finals 2020.

Sayangnya, tim Merah Putih cuma berhasil membawa satu medali emas yang dipersembahkan ganda putri, Greysia Polii/Apriyani Rahayu. Mereka menjuarai BWF World Tour Super 1000 Thailand Open jilid 1.

Sementara, di BWF World Tour Super 1000 Thailand Open jilid 2, tak ada satu pun wakil di final. Greysia/Apriyani dan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan terhenti di semifinal.

Dan di BWF World Tour Finals, dari lima wakil yang lolos di empat sektor, hanya Ahsan/Hendra yang mampu melaju hingga ke final namun kalah dari pasangan Taiwan, Lee Yang/Wang Chi Lin. Sisanya, tak lolos dari fase grup.

Berbicara soal prestasi, ada pengakuan dari Greysia Polii. Ia mengungkap alasan kepada atlet perempuan bulutangkis Indonesia kurang bersinar.

Menurut Polii, semua berbicara mentalitas dan paradigma yang melekat selama ini. Semua juga tak lepas dari karakter.

Termasuk, dari usia dini sering kalah, hal itu membuat mentalitas susah bangkit. Ketika sudah dewasa, lebih cenderung pasrah dengan keadaan.

"Perjalanan apa yang saya lihat selama jadi atlet. Mental di atlet putri, Indonesia sudah punya karakter sendiri, sewaktu kita masuk ke dalam klub, sudah ada karakter tercipta. Mental itu harus dibangun dari kecil. Kenapa cewek lebih susah, karena karakter cewek harus punya pemikiran ekstra untuk dapetin sesusatu lebih," ujar Greysia dikutip VIVA Bulutangkis lewat diskusi online.

"Dari kecil dituntut berprestasi. yang bikin enggak tahan, dari usia dini sampai dewasa kok kalah melulu ya. Kalo enggak berprestasi paling menikah," kata dia.