Terungkap, Ini Hasil Kajian Gua Dijadikan Restoran di Bali

Merdeka.com - Merdeka.com - Hasil kajian gua dijadikan restoran yang berada di area Hotel The Edge, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, bukan merupakan objek yang diduga cagar budaya (ODCB). Hal ini berdasarkan kajian teknis Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Bali, bersama tim program studi Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana (Unud) dan Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAA) Komda Bali-NTB-NTT.

Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Badung, I Gede Eka Sudarwitha mengatakan, berdasarkan kajian teknis bahwa gua itu adalah rongga dalam karang yang ada di dalam tanah. Gua itu ditemukan ketika ada aktivitas pengeboran dan jebol.

"Tidak ada jejak-jejak kegiatan manusia, relief-relief di dinding gua juga tidak ada kemudian peninggalan-peninggalan purbakala juga tidak ada. Itu rongga di dalam tanah kalau gua ada mulutnya," kata I Gede Eka Sudarwitha saat konferensi pers di Kantor Dinas Kebudayaan Badung, Senin (25/7).

Dari pengamatan tim kajian, rongga besar usianya sudah ribuan tahun bahkan bahkan jutaan tahun. Karena satu senti dari alur-alur yang ada di dinding membentuk stalaktit, stalagmite, itu membutuhkan waktu puluhan tahun. Sementara kondisi di sana sudah menjadi sebuah pilar.

Pihaknya menyarankan apabila pihak hotel akan kembali memanfaatkan rongga besar itu, harus melengkapi perizinan dari pemerintah setempat. Lalu melihat daya dukung lingkungan dan memelihara keamanan.

"Pemanfaatannya itu sudah barang tentu harus melengkapi perizinan. Harus, carrying capacity dan memelihara keamanan agar tidak longsor dan hal-hal lain yang mungkin kearifan lokal. Karena apapun di masyarakat Indonesia, kalau sudah di dalam tanah hal-hal yang spesifik itu nilai-nilai tradisi yang memang perlu dijaga," terangnya.

Ia juga menyebutkan, bila pihak hotel akan kembali memanfaatkan tempat tersebut dipersilakan namun sesuai ketentuan regulasi yang ada.

"Sesuai dengan ketentuan perizinan yang ada itu silakan. Karena, apapun memang untuk dapat dikelola dengan motif-motif ekonomi dan sudah barang tentu dengan carrying capacity dan memperhatikan aspek keamanan. Tetapi hemat kami. Kalau dari sisi pemerintah sudah barang tentu sesuai regulasi yang ada untuk memberikan izin. Izin dalam arti, bagaimana pelaksanaan pengelolaan tempat tersebut dapat aman dari sisi lingkungan. Aman terhadap pengunjung yang datang dan secara keseluruhan nanti integrasi lingkungan di sekitarnya," ujarnya.

Sementara, dalam penilaian tim yang mengkaji, gua yang disulap jadi restoran The Cave terletak di kawasan bentang lahan solusional karst, dengan litologi limestone atau kapur. Kemudian untuk kondisi lingkungan kering, dengan kandungan air sangat terbatas di permukaan, tetapi memiliki jalur-jalur bawah tanah yang membentuk rongga atau lorong lorong kecil sebagai jalan air.

Kemudian, saat ini lingkungan sekitar The Cave sudah berbeda dengan kondisi lingkungan sebelumnya, terlihat lebih banyak tanaman karena ada pemeliharaan lingkungan kawasan oleh manajemen hotel.

Selain itu, berdasarkan pengamatan tim pada saat ditemukan, tidak ada pintu gua yang menghubungkan rongga tersebut dengan bagian luar. Demikian juga tidak ada lorong-lorong yang menghubungkan dengan rongga lainnya, sehingga merupakan rongga atau ruangan tunggal.

Lalu sesudah pengerjaan pengeboran pada tahun 2014, rongga ini baru terbentuk akses pintu gua karena runtuhan secara tidak sengaja di bagian langit-langit gua. Rongga besar yang berukuran panjang 12 meter dan lebar 7 meter dan tinggi 6 meter merupakan gua alam dengan interior berupa stalaktit, stalagmite dan pilar. Hingga saat ini, pembentukan gua masih terbentuk dengan ditandai adanya tetesan air dan rembesan di beberapa bagian.

Selain itu, dari pengamatan tim kajian kondisi rongga sudah terdapat stage lantai, peralatan, perlengkapan dan interior dengan pola adaptif dengan karakter sekitarnya sehingga tidak mencolok, kecuali interior ceruk menyerupai gua gajah dan arca.

Sementara, untuk lantai gua sebagian besar sudah tertutup oleh stage lantai yang permanen, sebagian lantai dikeramik terutama pada sisi barat, untuk menghubungkan dengan bagian ruangan kecil. Sementara di sisi timur masih terdapat lantai gua yang terlihat dan tidak terdapat lapisan tanah, hanya beberapa runtuhan baru.

Berdasarkan pengamatan di luar The Cave, tidak ditemukan adanya indikasi kegiatan manusia masa lalu atau purba kecuali jejak aktivitas sejak adanya pembangunan hotel. Terdapat beberapa gua hunian di sekitar The Cave yang merupakan objek yang diduga cagar budaya (ODCB) saat ini yaitu Gua Selonding dan Gua Karang Boma.

Sementara, jarak antara The Cave dengan Gua Selonding sekitar satu kilometer tetapi tidak ada bukti terkait hubungan kedua lokasi ini. Demikian juga tidak adanya temuan arkeologi di sekitar The Cave menunjukkan bahwa kawasan ini tidak ada hubungan tersebut.

Kemudian, untuk pengamatan di dalam The Cave terhadap dinding dan permukaan lantai tidak ditemukan adanya indikasi aktivitas manusia masa lalu atau tidak ada temuan arkeologi. Berdasarkan pengamatan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa The Cave merupakan gua alam tanpa pintu masuk dan baru dibuatkan pintu pasca penemuannya pada tahun 2014.

"Tidak adanya temuan tinggalan arkeologi atau indikasi jejak manusia masa lalu (purba). Berdasarkan dua indikasi tersebut, maka The Cave dapat dinyatakan bukan sebagai ODCB. Melihat keunikan konsep pemanfaatan gua oleh pihak pengelola The Edge, kami menyarankan kepada pengelola untuk turut melestarikan dan menjaga keberadaan gua serta memanfaatkannya dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip pelestarian lingkungan," ujarnya. [cob]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel