Terungkap, Ini Penyebab Banyak Sarjana Menganggur Usai Kuliah

Merdeka.com - Merdeka.com - Pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri atau Kadin Indonesia meminta universitas membekali kemampuan kerja pada mahasiswanya. Mengingat, peluang atau lowongan kerja di sektor formal sangat terbatas.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Ketenagakerjaan, Adi Mahfudz Wuhadji meminta pemerintah, termasuk perguruan tinggi agar membekali mahasiswa dengan kemampuan dasar masuk dunia kerja.

Adi menjelaskan, kemampuan dasar ini yang kerap luput dalam pembekalan mahasiswa, di luar dari kemampuan teknikal sesuai dengan jurusan kuliahnya. Sebagai contoh, kemampuan dalam berperilaku untuk memanfaatkan skill yang dimiliki.

"Anak-anak kita itu siap latih, bukan siap kerja. Persepsi itulah yang harusnya kita bangun bersama. Makanya perlu kita ketahui bersama kenapa adik-adik banyak nganggur, karena orientasinya hanya diklasifikasi usaha besar-menengah yang jumlahnya hanya 29.000 saja," kata dia dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Panja Komisi X DPR RI, Selasa (17/1).

Dengan minimnya pembukaan kerja di sektor formal itu, maka diperlukan kemampuan khusus mahasiswa. Di sisi lain, mahasiswa yang akan lulus pun diharapkan bisa menyasar ke sektor-sektor yang lebih luas.

Dalam hal ini adalah sektor UMKM sebagai penggerak ekonomi nasional. Sektor ini punya peluang penyerapan tenaga kerja yang lebih banyak ketimbang sektor formal.

"Ini yang tidak digarap, makanya proteksi upah pun, hanya di ubek-ubek di upah minimum kabupaten dan kota. Upah di atas upah minimum belum (diperhatikan), upah di bawah upah minimum belum, alias UKM yang keliatan kerjanya ada 17 juta dibandingkan angakatan kerja kita sebanyak 43 juta baik formal maupun informal," paparnya.

Menurutnya, porsi UMKM yang saat ini ada sekitar 64 juga pengusaha menjadi peluang bagi pengyerapan tenaga kerja. Dibandingkan porsi yang lebih sedikit di perusahaan besar atau menengah.

"Perguruan tinggi itu luar biasa totalitas, saat ini ada 8 juta yang saat ini sedang kuliah, tetapi penyerapannya (tenaga kerja) gak jauh dari 1 juta saja, sangat tidak sebanding," tegasnya.

Sesuaikan Kebutuhan Industri

Adi melihat, pembekalan kemampuan dasar sangat penting agar bisa diserap oleh berbagai sektor ketenagakerjaan. Termasuk dalam hal ini menyesuaikan kebutuhan industri yang tengah berkembang.

"Nah inilah kembali lagi, seyogyanya perguruan tinggi itu harus membekali kemampuan dasar, dan juga harus juga menyesuaikan kebutuhan industri tadi," paparnya.

Sebagai salah satu upaya yang bisa ditempuh, menurut Adi, adalah memperluas pendidikan vokasi di kampus-kampus. Sehingga diharapkan bisa mengikuti perkembangan kebutuhan industri.

Dia mencontohkan, sistem yang diterapkan industri manufaktur di Jerman, bagaimana pembangunan industrinya dilakukan lebih dulu, lalu, kurikulum pembelajarannya mengikuti. Berbeda dengan Indonesia, yang kurikulum pendidikannya lebih dulu dibuat, sehingga tidak selaras dengan perkembangan industri.

"Makanya semangatnya di pendidikan vokasi dan pelatihan vokasi adalah (porsinya) 30-70 persen. Harusnya teorinya hanya 30 persen saja, praktikalnya, under-project-nya 70 persen praktik industri, dan kami Kadin Indonesia dan Hipmi saya yakni sangat mumpuni dan sangat bisa menularkan dosen atau guru praktikal itu," pungkas Adi Mahfudz.

Reporter: Arief Rahman Hakim

Sumber: Liputan6.com [idr]