Terungkap, Ini Penyebab Melemahnya Kurs Rupiah Terhadap Dolar AS

Merdeka.com - Merdeka.com - Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara mengatakan, melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS atau USD disebabkan oleh agresifnya Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve dalam menaikkan suku bunga acuannya.

"Kalau Amerika masih naikan suku bunga, pasti dolarnya balik pulang ke Amerika. Dolarnya balik ke Amerika harga dolarnya pasti tambah kuat," kata Suahasil saat ditemui di Kantor Kementerian Keuangan, Jumat (4/11).

Dia menyebut, keputusan The Fed menaikkan suku bunga membuat dolar yang beredar di seluruh dunia, termasuk negara berkembang akan kembali ke AS. Sebab, masyarakat justru tertarik menyimpan uangnya di perbankan dibandingkan untuk digunakan (spending).

"Dolar AS di seluruh dunia inign balik ke Amerika supaya dapat bunga yang tinggi itu. Jadi, bergeraklah seluruh dolar dari emerging market pergi pulang kampung," ujarnya.

Kendati demikian, sebelumya dalam Rapat Komite Stabilitas sistem keuangan (KSSK) yang dihadiri oleh Menteri Keuangan Gubernur Bank Indonesia (BI), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terungkap stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga di tengah tren menguatnya Dolar AS.

Indeks nilai tukar Dolar AS terhadap mata uang utama (DXY) mencapai level tertinggi dalam dua dekade terakhir yaitu 114,76 pada tanggal 28 September 2022.

Kurs Rupiah

Sementara itu, nilai tukar rupiah sampai dengan 31 Oktober 2022 terdepresiasi 8,62 persen (ytd), relatif lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya.

Contohnya, India yang terdepresiasi 10,20 persen, Malaysia terdepresiasi 11,86 persen, dan Thailand terdepresiasi 12,23 persen.

Depresiasi ini sejalan dengan persepsi terhadap prospek perekonomian Indonesia yang tetap positif.

Tren depresiasi nilai tukar negara berkembang tersebut didorong oleh menguatnya Dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global akibat pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif di berbagai negara, terutama AS.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6.com [idr]