Terungkap, Kegemukan jadi Sebab Menurunnya Prestasi Atlet PBSI

Pratama Yudha
·Bacaan 1 menit

VIVA – Kepala Sub Bidang Pengembangan Sport Science PP PBSI, Iwan Hermawan, membeberkan sejumlah faktor yang membuat prestasi bulutangkis Indonesia menurun pada tiga turnamen di Thailand. Salah satunya adalah faktor kegemukan.

Indonesia gagal mewujudkan target mendulang medali sebanyak-banyaknya pada turnamen BWF World Tour Super 1000 Thailand Open jilid 1, BWF World Tour Super 1000 Thailand Open jilid 2, dan BWF World Tour Finals. Dari tiga event tersebut, Tim Merah Putih hanya membawa pulang satu medali.

Pasangan ganda putri, Greysia Polii/Apriyani Rahayu jadi penyelamat muka Indonesia. Sementara, sektor lainnya patut dilakukan banyak evaluasi.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Rionny Mainaky, mengungkapkan kekalahan Indonesia lantaran kurangnya daya juang dari para atlet. Dan laporan terbaru, diungkapkan Iwan Hermawan, dikarenakan sejumlah atlet mengalami masalah kegemukan.

Iwan mengatakan kondisi tersebut membuat fisik para atlet yang diturunkan jadi kedodoran. Imbasnya, performa mereka jadi menurun drastis, seperti yang terlihat dari tiga turnamen di Thailand.

“Saya akui beberapa atlet kondisi fisiknya memang masih kedodoran, jadi secara khusus saya sudah berbicara dengan para pelatih fisik, di minggu ini kami akan melihat dulu apa saja yang kurang lalu minggu depan mencoba memenuhi kebutuhan program agar sesuai standarnya. Termasuk pemenuhan gizi dan suplemen dari tim medis,” ujar Iwan dikutip situs resmi PBSI.

Selanjutnya, Iwan mengatakan performance analysis juga sudah diterapkan pada setiap pertandingan. Sehingga bisa terlihat evaluasi kekurangan secara teknik untuk menjadi sasaran dan fokus perbaikan pada latihan. Selain itu, masalah fisik dan gizi juga menjadi perhatian khusus untuk ditingkatkan.

“Untuk beberapa pemain yang overweight juga kami fokuskan kondisi fisiknya agar kembali ideal, karena kalau sudah overweight, kerja ototnya dan kerja untuk menggerakan tubuhnya butuh tenaga ekstra di samping geraknya menjadi lambat. Pada akhirnya ini mempengaruhi daya tahan yang menjadi pondasi dari semua,” tutur Iwan.