Terungkap! Penyakit Katastropik dan Modus Dokter Diklaim Bikin BPJS Kesehatan Tekor

Okky Budi

Permasalahan keuangan yang dialami oleh BPJS Kesehatan sepertinya gak ada habisnya. Sejak tahun 2014, mereka selalu mengalami defisit, alias tekor. Kerugiannya gak tanggung-tanggung, mencapai triliunan rupiah! 

Tahun 2014, perusahaan jaminan kesehatan milik pemerintah ini mengalami kerugian sebesar 3,3 triliun. Angka tersebut kemudian naik di tahun berikutnya dengan kerugian mencapai 5,7 triliun. 

Tahun 2016, bukannya untung, justru malah tambah rugi dengan total kerugian mencapai Rp 9,7 triliun. Defisit ini terus berlangsung sampai puncaknya di tahun 2019 diprediksi menjadi yang terparah. 

Meski 2019 belum selesai, namun proyeksi kerugian sudah diperkirakan yaitu mencapai Rp 32,8 triliun. 

Pemerintah pun terus berupaya mengatasi masalah ini, dengan cara memetakan akar masalah sampai memutuskan langkah apa yang harus diambil untuk menyelamatkan keuangan BPJS Kesehatan.

Baca juga: Iuran BPJS Kesehatan Dibayar Sendiri atau Perusahaan? Kenali Bedanya

Penyebab BPJS Kesehatan merugi

Kartu BPJS. (Shutterstock)

Ada banyak faktor yang menyebabkan BPJS Kesehatan tekor hingga saat ini. Faktor itu datang dari internal dan eksternal BPJSK. 

Diklaim salah satunya adalah lantaran terlalu rendahnya biaya iuran per bulannya. Saat ini iuran untuk Kelas III Rp 25.500, Kelas II Rp 51.000, dan Kelas I Rp 80.000. 

Tapi tahun depan, pemerintah telah menetapkan iurannya bakal naik 100 persen. Kelas I jadi Rp 160.000, Kelas II Rp 110.000, dan Kelas III jadi Rp 42.000. 

Meski harganya yang terbilang murah, kepatuhan peserta dalam pembayaran ternyata masih rendah. Banyak yang nunggak dan bayar ketika sedang sakit saja. Padahal, asas dari BPJS Kesehatan adalah gotong royong. 

Baca juga: Cara Mudah Daftar BPJS Kesehatan Bayi Baru Lahir Serta Persyaratan yang Diperlukan!

Menkes klaim ada modus dokter yang bikin rugi BPJS 

Ilustrasi praktik dokter. (Shutterstock)

Menteri Kesehatan Terawan kemudian mengungkapkan salah satu penyebab kerugian BPJS adalah adanya permainan yang dilakukan oleh beberapa dokter. 

Terawan menemukan beberapa dokter yang melakukan tindakan secara maksimal meskipun tidak diperlukan. Penindakan secara maksimal jelas membutuhkan biaya yang mahal, dan tentu saja ini menjadi beban bagi BPJS apabila dilakukan oleh pesertanya. 

Padahal, Terawan menyebut tindakan yang semestinya adalah tindakan yang optimal, bukan yang maksimal. Ia kemudian memberikan contoh pelayanan terhadap pasien kanker stadium 1 yang diberikan terapi kemo sistemik, padahal hal itu tidak perlu. 

Baca juga: Mulai Hamil Hingga Melahirkan, Ini Layanan Kesehatan yang Ditanggung BPJS Kesehatan

Penanganan penyakit katastropik juga diklaim bikin BPJS Kesehatan tekor 

Apa saja sih penyakit katastropik? (Shutterstock)

Penanganan terhadap penyakit-penyakit katastropik ternyata sangat membebani keuangan BPJS Kesehatan. Penyakit katastropik adalah penyakit yang berat, membutuhkan penanganan serius dengan biaya tinggi. 

Dikutip dari detikcom, dua penyakit yang paling menyebabkan BPJS tekor adalah jantung dan kanker. Penanganan penyakit jantung tahun ini mencapai lebih dari Rp 7,7 triliunan, sementara kanker sudah mencapai Rp 2,7 triliun. 

Selain dua penyakit itu ada penyakit lainnya seperti gagal ginjal dan stroke yang biayanya mencapai lebih dari Rp 1 triliun. 

Itulah beberapa hal yang diklaim bikin BPJS Kesehatan tekor. Semoga saja, langkah pemerintah dengan menaikkan iuran di tahun 2020 bisa membuat keuangan lembaga tersebut pulih. (Editor: Ruben Setiawan)