Terungkap Penyebab Kematian di Korsel Lebih Tinggi dari Kelahiran

Ezra Sihite, Dinia Adrianjara
·Bacaan 1 menit

VIVA – Populasi Korea Selatan (Korsel) turun untuk pertama kalinya pada tahun 2020 lantaran lebih banyak orang yang meninggal dunia daripada yang dilahirkan.

Masyarakat di negara dengan perekonomian terbesar ke-12 di dunia ini memiliki harapan hidup terpanjang dan salah satu tingkat kelahiran terendah. Kombinasi tersebut menimbulkan bencana demografis yang mengancam.

Dilansir dari Channel News Asia, pada 31 Desember 2020 lalu Korea Selatan memiliki jumlah penduduk 51.829.023 orang atau turun 20.838 dari tahun sebelumnya. Sementara itu angka kelahiran tahunan mengalami penurunan selama bertahun-tahun.

"Di daerah-daerah dengan ekonomi yang buruk, medis dan infrastruktur pendidikan yang buruk, krisis kepunahan kota-kota semacam itu meningkat," tulis laporan Kementerian Dalam Negeri Korea Selatan.

Menurut para ahli, ada banyak penyebab dari fenomena tersebut, termasuk biaya membesarkan anak dan melonjaknya harga properti, ditambah dengan masyarakat yang terkenal kompetitif yang membuat pekerjaan bergaji tinggi sulit didapat.

Beban ganda bagi ibu yang bekerja dalam melakukan pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak yang terberat sekaligus mempertahankan karier mereka merupakan faktor kunci lainnya.

Korea Selatan telah menghabiskan lebih dari 180 triliun won sejak 2006 untuk meningkatkan angka kelahiran. Tetapi populasinya diproyeksikan turun menjadi 39 juta pada tahun 2067, ketika usia rata-rata akan menjadi 62 tahun. (ase)