Terungkap, Penyebab Letjen TNI Edy Gagal Masuk Kopassus

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Menjadi anggota satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus) adalah mimpi banyak prajurit TNI Angkatan Darat. Namun demikian, tak semua prajurit bisa menjadi bagian dari Korps Baret Merah. Tak terkecuali bagi sosok andal semisal Letjen TNI (Purn.) Edy Rahmayadi.

Menurut catatan yang dikutip VIVA Militer dari situs resmi Akademi Militer (Akmil) adalah pria yang saat ini menduduki kursi Gubernur Sumatera Utara (Sumut), adalah lulusan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) tahun 1985.

Satu angkatan dengan Edy, ada nama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Doni Monardo. Meskipun satu angkatan, kedua sahabat ini memiliki nasib yang berbeda.

Edy memilih pensiun dini pada 2018 lalu, untuk ikut serta dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sumatera Utara. Berbeda dengan eks Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Pangkostrad) itu, Doni masih aktif berdinas meskipun tidak bertugas di TNI.

Tak hanya itu, Edy dikenal sebagai pemimpin andal di jajaran Kostrad. Sementara itu, Doni besar namanya di satuan elite Kopassus, bahkan pernah menjadi orang nomor satu saat menjadi Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus.

Ternyata, Edy pernah sama-sama mengikuti seleksii Kopassus bersama Doni. Kala itu, Korps Baret Merah masih bernama Komando Pasukan Sandhi Yudha (Kopassandha) dan dipimpin oleh Brigjen TNI Sintong Panjaitan.

Hal ini diungkap langsung oleh Doni saat berkunjung ke Sumatera Utara pada Desember 2020 lalu. Dikatakan Doni, ia ada Edy sama-sama menempuh pendidikan militer. Doni memuji Edy sebagai sosok yang memiliki semangat pengabdian yang tak pernah padam.

"Dulu sama-sama 1985, beliau memang selalu merendahkan diri mengatakan bahwa nilainya kurang-kurang terus. Tetapi yang bisa dikalahkan satu, semangat yang tidak pernah padam," ucap Doni.

"Lulus kami sama-sama. Saya sama Pak Edy dan juga teman-teman yang lain, ada 12 orang, mendapat surat perintah untuk menjadi Perwira Pertama (Pama) di Kopassus. Berangkatlah kami dengan membawa ransel ke Kopassus," katanya.

Lebih lanjut Doni mengatakan, saat itu Kopassus juga tengah mempersiapkan pengiriman pasukan dalam Operasi Seroja di Timor-Timur. Doni juga mengungkap bahwa ia dan Edy sempat mengikuti program latihan Kopassus.

Namun demikian, perintah Danjen Kopassus saat itu bagi setiap calon anggota Kopassus harus melakukan tes psikologis. Doni sama sekali tidak mengerti perihal tes psikologis tersebut.

Akhirnya, ada lima orang Perwira Pertama TNI Angkatan Darat yang gagal masuk Kopassus usai tidak lulus tes psikologis. Salah satunya dari lima orang itu adalah Edy.

"Waktu itu, sedang gencar persiapan untuk pengiriman pasukan ke Timor-Timur, Operasi Seroja. Dan ternyata, Komandan Kopassus, Komandan Kopassandha saat itu, bapak Sintong Panjaitan mengatakan 'saya ingin mereka yang ikut dalam program latihan harus seleksi psikologi," ujar Doni melanjutkan.

"Kita enggak ngerti apa yang menjadi dasar dari hasil itu, akhirnya ada lima orang yang tidak terpilih, diantaranya Pak Edy. Tetapi saya bilang sama Pak Edy, 'Pak Edy jangan khawatir startnya mungkin akan berbeda, tapi bisa jadi Pak Edy finis duluan. Dan terbukti, dari angkatan 1985, Pak Edy duluan mencapai pangkat bintang tiga," katanya.