Terungkap Peran Besar Militer China Kembangkan Vaksin Corona Negaranya

Ezra Sihite, Wahyu Firmansyah

VIVA – China telah menyetujui untuk mencoba vaksin Corona COVID-19 yang dikembangkan oleh People's Liberation Army atau Tentara Militer Nasional China dan perusahaan farmasi China kepada para anggota militer. Vaksin yang berjenis Ad5-nCoV dikembangkan oleh tim di Akademi Ilmu Kedokteran Militer dipimpin oleh Mayor Jenderal Chen Wei dan perusahaan CanSino Biologics yang berbasis di Tianjin, China. 

Hal ini merupakan pertama kalinya vaksin untuk COVID-19 diizinkan untuk digunakan pada anggota militer. 

Dikutip dari South China Morning Post, perusahaan CanSino mengatakan bahwa kandidat telah melalui dua fase uji klinis, yang menunjukkan itu aman dan ada respons imun yang kuat terhadap antigen.

Untuk saat ini uji coba fase ketiga belum dilakukan dan belum diketahui apakah vaksin itu dapat melindungi orang-orang dari infeksi virus. Namun, Militer telah menyetujui penggunaannya selama setahun tetapi belum diizinkan untuk tujuan sipil.

Fase satu dan dua studi biasanya menguji apakah seorang kandidat aman dan apakah itu dapat menghasilkan respons imun dari penerima, tetapi vaksin harus menyelesaikan ketiga rangkaian uji coba untuk dilisensikan.

CanSino mengatakan mereka telah menyelesaikan uji coba fase dua pada 11 Juni, tetapi perusahaan belum merilis data dari penelitian tersebut. 

Data dari fase pertama diterbitkan dalam jurnal medis The Lancet pada bulan Mei. Chen mengatakan pada saat itu data menunjukkan bahwa Ad5-nCoV adalah kandidat potensial untuk dilakukan uji coba lebih lanjut.

Banyak kandidat pembuat vaksin di China sedang merencanakan uji coba fase tiga di negara lain karena penyebaran COVID-19 di Cina terlalu terbatas untuk menguji kemanjuran vaksin. CanSino juga telah mencapai kesepakatan dengan pemerintah Kanada untuk melakukan uji coba fase tiga di sana tetapi rincian studi belum terungkap.

Diketahui, sejak melonjaknya penderita COVID-19 para ilmuwan berlomba untuk menemukan jawaban terhadap penyakit ini yang telah menginfeksi lebih dari 10 juta orang dan membunuh lebih dari 500 ribu orang. 

Kasus-kasus baru terus melonjak terutama di negara-negara yang kini berada di posisi lima besar. Bahkan Amerika Serikat telah mengkonfirmasikan lebih dari 40.000 kasus baru untuk hari ketiga berturut-turut. 

Baca juga: Nus Kei Bersumpah Tak Mau Lagi Gabung Disebut Bikin John Kei Murka