Tes PCR Bisa Terganggu Jika Gen Mutasi Virus Covid-19 Berubah

·Bacaan 2 menit
Ilustrasi Covid-19, virus corona. Kredit: Miroslava Chrienova via Pixabay

Liputan6.com, Jakarta - Temuan varian baru dari mutasi virus covid-19 di Inggris, Australia, dan Singapura menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia. Namun hingga saat ini, pemerintah memastikan B117, varian baru virus Corona, belum ada di Indonesia.

Pemeriksaan secara Polymerase Chain Reaction (PCR) pun dimungkinkan bisa terganggu untuk mendeteksi varian baru ini.

Menurut Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio, potensi adanya gangguan tes PCR terhadap mutasi baru Corona disebabkan perubahan genetik yang terkandung dalam virus tersebut.

"Seperti kita ketahui dalam tes PCR itu mendeteksi 2 sampai 3 gen sekaligus. Salah satunya mungkin ada yang diarahkan ke gen S nya, tentu itu ada kemungkinan, tidak selalu, artinya ada kemungkinan bisa mengurangi pengenalan primernya terhadap rangkaian gen di virus itu karena sudah ada perubahan," ujar Amin kepada merdeka.com, Jumat (25/12/2020).

Ia menjelaskan mutasi varian baru terjadi di spike protein. Sementara, pada tes PCR yang dilakukan peka dan dapat mendeteksi spike protein, sel utama yang terkandung dalam virus Corona. Jika pada protein S tersebut berubah, Amin menilai perlu ada penyesuaian tes untuk deteksi B117.

"Apabila ternyata mutasi itu mengubah kepekaannya, tentu harus dipertimbangkan untuk menyesuaikan dengan mutasi tadi," tandasnya.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Terus Diteliti Mutasi Covid-19

Untuk itu, Amin menegaskan, pihaknya terus melakukan penelitian terhadap sejumlah mutasi-mutasi baru virus, agar pemerintah bisa mengambil langkah cepat dan efektif untuk menekan laju penularan.

Selain gencar melakukan penelitian terhadap mutasi virus, Amin menuturkan, upaya Eijkman mendeteksi B117 pihaknya juga memantau penyintas Covid-19 lebih dari 1 kali.

"Jadi kalau misalnya ada orang yang terinfeksi kedua kalinya atau anak-anak seperti kita ketahui informasinya mutant yang baru ini lebih mudah menginfeksi ke anak-anak kemudian setelah ada gambaran klinis yang berbeda itu kita mesti utamakan dilihat apakah itu disebabkan virus varian baru atau bukan," tandasnya.

Reporter: Yunita Amalia

Sumber: Merdeka.com

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: