Tes PCR Mahal, Anggota DPR: Mohon Maaf Diduga Tipu-Tipu Saja Bisnis Ini

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Harga tes usap berbasis real time polymerase chain reaction (RT-PCR) seharusnya bisa di bawah RP 200 ribu. Angka tes PCR itu sudah menghitung modal komponen alat tes PCR hingga biaya untuk operasional tenaga kesehatan (nakes).

Anggota Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade mengatakan, dari hitungan yang telah dia lakukan, harga tes PCR seharusnya di bawah Rp 200 ribu. Ia pun membandingkan dengan harga tes PCR di India yang hanya Rp 110 ribu.

Untuk diketahui, pemerintah telah menetapkan harga tes PCR sebesar Rp 275 ribu untuk Pulau Jawa dan Bali dan Rp 300 ribu untuk di luar Pulau Jawa dan Bali.

"Seharusnya Maret dan April 2021 kita sudah bisa di bawah Rp 200 ribu," kata dia dalam rapat kerja bersama dengan BUMN Kesehatan, di DPR RI, Jakarta, Selasa (9/11/2021).

Hitungan modal untuk komponen alat tes PCR kurang lebih di total hanya Rp 100 ribu, termasuk ekstraksi kit berupa cairan, alat tes usap, hingga PCR kit. Sementara, untuk nakes, APD, hingga biaya operasional tidak lebih dari Rp 70 ribu.

"Anggaplah modal untuk PCR kita itu Rp 100 ribu, kemudian nakes, APD, operasional berapa sih Rp 50.00 - Rp70.000 masih di bawah Rp200 ribu ya udah pakai margin. Anggaplah Rp 200 ribu pokoknya bisa di bawah Rp 200 ribu," kata dia.

Dia membandingkan dengan harga yang ditetapkan oleh India. Di mana harga tes PCR berlaku di negara tersebut hanya mencapai Rp110 ribu untuk satu kali tes. "Kenapa Indonesia bisa jual Rp2,5 sampai Rp1 juta pada saat itu," urainya.

Andre pun menduga ada permainan ongkos bisnis dari penetapan harga tes PCR. "Jadi kita mohon maaf diduga tipu-tipu saja ongkos bisnis ini. Tugas kita memastikan BUMN selain cari untung bekerja untuk rakyat," pungkas dia.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Harga Reagen Tes PCR Ternyata Cuma Rp 90 Ribu

Petugas kesehatan melakukan tes usap (swab test) antigen dan PCR gratis di Terowongan Kendal, Menteng, Jakarta, Kamis (2/9/2021). Program yang dinamakan Seruling (swab seru keliling) dari Puskesmas Kecamatan Menteng tersebut dilaksanakan setiap Selasa, Kamis, dan Jumat. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Petugas kesehatan melakukan tes usap (swab test) antigen dan PCR gratis di Terowongan Kendal, Menteng, Jakarta, Kamis (2/9/2021). Program yang dinamakan Seruling (swab seru keliling) dari Puskesmas Kecamatan Menteng tersebut dilaksanakan setiap Selasa, Kamis, dan Jumat. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Direktur Utama PT Bio Farma, Honesti Basyir merinci persentase struktur biaya yang menentukan harga reagen utama untuk tes PCR. Ia mengatakan bahwa dominasi yang menentukan adalah pada segi bahan baku.

Penjabaran ini, diakuinya, termasuk yang sering ditanyakan oleh masyarakat dan anggota DPR pada khususnya yang belakangan menjadi polemik terkait harga PCR yang berlaku di masyarakat.

“Terkait harga juga ini yang banyak ditanyakan oleh anggota (DPR) dan masyarakat,” kata dia dalam Rapat Dengan Pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Selasa (9/11/2021).

Ia membeberkan bahwa biaya terbesar datang dari komponen utamanya ada pada biaya produksi dan bahan baku yang tercatat mencapai 55 persen dari total harga. Kemudian, biaya operasional sebesar 16 persen.

Lalu, biaya distribusi telah termasuk margin distributor 14 persen, royalti 5 persen, margin Bio Farma sebesar 10 persen.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel