Tesla masuk Indonesia, bagaimana performa saham nikel Indonesia?

Royke Sinaga
·Bacaan 6 menit

Industri kendaraan listrik tengah berkembang dan menunggu formula yang tepat untuk dapat menggaet konsumen-konsumen

Pandemi Covid-19, mengakibatkan perlambatan pada pertumbuhan industri nikel di indonesia.

Kendati demikian, Industri nikel dianggap industri yang akan sangat berkembang di masa depan, dikarenakan peluang kemajuan industri mobil listrik di tanah air.

Dengan pesatnya perkembangan mobil listrik maka industri nikel menjadi terkerek mendapatkan dampak positif dari revolusi kendaraan modern ini, sebab nikel adalah bahan baku utama baterai kendaraan listrik.

Indonesia kaya akan nikel tersebut, hingga memantik salah satu raksasa mobil listrik dunia tesla untuk menilik investasi pabriknya di Tanah air.

Produsen kendaraan listrik asal Amerika Serikat (AS), Tesla berencana membangun pabrik baterai di Indonesia yang kemungkinan berlokasi di Batang, Jawa Tengah.

Tesla menilai Indonesia bisa menjadi pusat manufaktur kendaraan listrik di Asia Tenggara. Khususnya dalam membuat baterai listrik, yang mana menjadi komponen utama dan termahal dari mobil listrik.

Keberadaan pabrik baterai di Indonesia tentu akan mendorong perkembangan industri nikel di Indonesia, mengingat nikel merupakan salah satu bahan utama dalam pembuatan baterai mobil listrik.

Kabar ini tentu menjadi angin segar bagi emiten perusahaan nikel di Bursa Efek Indonesia (BEI). Bagaimana performa emiten-emiten tersebut? Data Analyst di tim riset Lifepal.co.id Aldo Jonathan kepada Antara membagikan hasil telaahnya atas kaitan investasi Tesla dengan korporasi nikel di Indonesia.

Dalam risetnya menemukan, ada emiten-emiten perusahaan penjual nikel yang pergerakan harga sahamnya di atas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Indeks Mining (indeks dengan list emiten-emiten pertambangan). Namun, sebaliknya ada pula yang performanya dibawah IHSG dan Indeks Mining.

Ada tiga emiten nikel yang kinerjanya sanggup mengalahkan kinerja Indeks Mining. Mereka adalah PT Aneka Tambang Tbk, PT Vale Indonesia Tbk, dan PT Pelat Timah Nusantara Tbk.

PT Aneka Tambang Tbk adalah anak perusahaan BUMN pertambangan Inalum. PT Antam didirikan pada tanggal 5 Juli 1968. Kegiatan Antam mencakup eksplorasi, penambangan, pengolahan serta pemasaran sumber daya mineral.

Pendapatan PT Antam diperoleh melalui kegiatan eksplorasi dan penemuan deposit mineral, pengolahan mineral tersebut secara ekonomis, dan penjualan hasil pengolahan tersebut kepada konsumen jangka panjang yang loyal di eropa dan asia. Kegiatan ini telah dilakukan semenjak perusahaan berdiri tahun 1968.

Komoditas utama Antam adalah bijih nikel kadar tinggi atau saprolit, bijih nikel kadar rendah atau limonit, feronikel, emas, perak dan bauksit. Jasa utama Antam adalah pengolahan dan pemurnian logam mulia serta jasa geologi.

Yang berikutnya, yakni PT Vale Indonesia Tbk, merupakan perusahaan tambang dan pengolahan nikel terintegrasi yang beroperasi di Blok Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan. PT Vale merupakan bagian dari Vale, perusahaan multitambang asal Brasil yang beroperasi di 30 negara.

PT Vale menambang nikel laterit untuk menghasilkan produk akhir berupa nikel dalam matte. Volume produksi nikel PT Vale rata-rata mencapai 75.000 metrik ton per tahunnya. Dalam memproduksi nikelnya di Blok Sorowako, PT Vale menggunakan teknologi pirometalurgi atau teknik smelting (meleburkan bijih nikel laterit).

PT Vale berdiri sejak 25 Juli 1968 yang merupakan perusahaan tambang penanaman modal asing (PMA) dalam naungan Kontrak Karya yang telah diamandemen pada 17 Oktober 2014 dan berlaku hingga 28 Desember 2025. Salah satu poin renegosiasi adalah pengurangan wilayah Kontrak Karya dari sebelumnya seluas 190.510 hektar menjadi 118.435 hektar.

Yang ketiga adalah PT Pelat Timah Nusantara Tbk, disingkat PT Latinusa, Tbk. Ini adalah perusahaan pertama di Indonesia yang memproduksi tinplate berkualitas tinggi dengan standar internasional. PT Latinusa, Tbk. didirikan pada 19 Agustus 1982.

Dilihat dari harga saham, kinerja emiten nikel lainnya yaitu PT Timah Tbk dan PT Central Omega Resources masih dibawah IHSG dan Indeks Mining.

Berdasarkan laporan keuangan Antam (ANTM), tercatat adanya tren peningkatan penjualan dari triwulan III 2015 sampai triwulan III 2020. Tapi, saat pandemi Covid-19 ini, penjualan ANTM mengalami penurunan sebesar -26,55 persen menjadi sebesar Rp18,03 Triliun pada triwulan III 2020 dari sebelumnya sebesar Rp24,55 triliun pada triwulan III 2019.

Dari segi laba komprehensif, ANTM pada triwulan III 2020 mencatat kenaikan signifikan sebesar 57,36 persen atau sebesar Rp863,58 miliar dari sebelumnya Rp548,78 miliar pada triwulan III 2019.

Hal ini dikarenakan adanya efisiensi di bagian beban usaha bagian penjualan dan pemasaran serta adanya pendapatan lain yang cukup signifikan dibanding triwulan III 2019.

Pergerakan harga ANTM sendiri tercatat dari Desember 2014 sampai dengan 9 November 2020 sudah mencatat kenaikan sebesar 38,55 persen. Memang, sepanjang periode Desember 2014 sampai 9 November 2020 tercatat banyak fluktuasi pergerakan harga ANTM.

Berdasarkan laporan keuangan Pelat Timah Nusantara (NIKL), tercatat saat pandemi COVID-19 ini, penjualan NIKL mengalami penurunan sebesar -14,35 persen menjadi sebesar 106,02 juta dolar pada triwulan III 2020 dari sebelumnya sebesar 123,79 juta dolar AS pada triwulan III 2019.

Dari segi laba komprehensif, NIKL pada triwulan III 2020 mencatat kerugian sebesar 155,65 persen atau sebesar -1.023.492 dolar dari sebelumnya 1.839.000 dolar pada triwulan III 2019. Hal ini dikarenakan semakin membengkaknya beban administrasi dan rugi kurs.

Pergerakan harga NIKL sendiri tercatat dari Desember 2014 sampai dengan 9 November 2020 sudah mencatat kenaikan sebesar 512 persen. Memang, sepanjang periode Desember 2014 hingga 9 November 2020, tercatat banyak fluktuasi pergerakan harga NIKL. Tapi, sejak april 2016 sampai 9 november 2020, pergerakan saham NIKL selalu mengalahkan performa IHSG dan Indeks Mining.

Berdasarkan laporan keuangan Vale Indonesia (INCO), tercatat saat pandemi COVID-19 ini, penjualan INCO mengalami kenaikan sebesar 12,75 persen menjadi sebesar 571,02 juta dolar pada triwulan III 2020 dari sebelumnya sebesar 506,46 juta dolar pada triwulan III 2019.

Dari segi laba komprehensif, pada triwulan III 2020 INCO mencatat keuntungan 6.461 persen sebesar 155,65 persen atau sebesar 76.640.000 dolar dari sebelumnya 1.168.000 dolar pada triwulan III 2019. Hal ini dikarenakan adanya kenaikan penjualan yang diimbangi dengan stabilnya beban pokok penjualan dan beban usaha.

Pergerakan harga INCO sendiri, sejak Desember 2014 sampai dengan 9 November 2020 sudah mencatat kenaikan sebesar 25,52 persen, terlepas dari banyaknya fluktuasi pergerakan harga INCO sepanjang periode tersebut.

Seorang pekerja memperlihatkan bijih nikel di smelter feronikel yang dimiliki oleh perusahaan tambang negara Aneka Tambang Tbk di distrik Pomala, Indonesia. ANTARA FOTO/REUTERS/Yusuf Ahmad/File Photo/wsj/cfo
Seorang pekerja memperlihatkan bijih nikel di smelter feronikel yang dimiliki oleh perusahaan tambang negara Aneka Tambang Tbk di distrik Pomala, Indonesia. ANTARA FOTO/REUTERS/Yusuf Ahmad/File Photo/wsj/cfo


Hilirisasi nikel

Dari Pemerintah sendiri menanggapi positif tren hilirisasi nikel, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Ridwan Djamaluddin mengatakan kebijakan hilirisasi nikel akan memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional.

Selain meningkatkan nilai rantai pasok produksi, kegiatan hilirisasi juga dapat menyelamatkan komoditas bijih nikel dari gejolak harga.

Menurut dia, pertumbuhan industri pengolahan itu berdasarkan besarnya potensi nikel kadar rendah yang dimiliki Indonesia. Senada dengan Ridwan Djamaluddin, Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Tata Kelola Minerba Irwandy Arif mengatakan konsep hilirisasi tidak berhenti ketika mineral diproses menjadi setengah jadi (intermediate product).

"Hilirisasi harus lebih dikembangkan lebih jauh lagi sampai produk menjadi bahan dasar atau pelengkap tahapan paling akhir dalam pohon industri," kata Irwandy.

Konsep nilai tambah itu juga bukan semata rasio antara harga produk terhadap bahan baku. Ia mencontohkan proses bijih nikel menjadi FeNi atau konsentrat, lalu diolah menjadi Ni-sulfat dan Co-sulfat.

Setelah itu, bisa diproses lagi menjadi precursor yang menjadi bahan dasar material baterai. "Dari bahan dasar baterai inilah dihasilkan baterai jenis lithium-ion battery.

Jika industri baterai listrik mulai bergerak maka Indonesia bisa menjadi primadona bagi bahan mentah pengolahan baterai. Apalagi jika dapat diolah langsung di dalam negeri, sehingga bukan ekspor bahan mentah.