Testimoni 2 Profesor dari Luar dan Dalam Negeri terhadap Megawati

·Bacaan 4 menit

VIVA – Sejumlah profesor menyampaikan dukungannya atas rencana Universitas Pertahanan (Unhan) memberikan gelar profesor (guru besar tidak tetap) kepada Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri. Para profesor ini bahkan termasuk yang memberikan rekomendasi agar gelar tersebut diberikan kepada Megawati.

Seperti salah satunya Profesor Mizuno Kosuke yang adalah emeritus of Development Studies dari Kyoto University, Jepang. Kampus itu termasuk universitas negeri tertua di Jepang. Mizuno merekomendasikan putri Bung Karno diberi gelar guru besar dalam kepemimpinan strategis.

"Karena ia telah diakui sebagai pemimpin politik nasional yang sukses untuk demokratisasi di Indonesia, dan juga pembangunan kelembagaan di tingkat pemerintahan," kata Mizuno seperti dalam keterangan tertulis yang diterima VIVA, Rabu 9 Juni 2021.

Mizuno yang menjadi pernah menjadi profesor tamu di Universitas Indonesia dan beberapa kampus terbaik di dunia itu melihat Megawati adalah Wakil Presiden sekaligus Presiden wanita pertama Indonesia. Ini merupakan torehan sejarah dalam catatan sejarah Republik Indonesia.

Selain itu, Megawati juga memimpin partai politik sejak PDI di tahun 1993 hingga PDI Perjuangan saat ini.

Peran penting putri proklamator Bung Karno itu juga menonjol sebagai pemimpin regional dalam membawa negara dan pemerintahan Indonesia ke tingkat pencapaian kepemimpinan. Hal tersebut pula diakui tidak hanya di tingkat regional, tetapi juga di tingkat global.

Yang menjadi istimewa dan perlu digarisbawahi, bahwa Megawati melalui semuanya dengan baik, meski saat itu mendapat tekanan dari rezim otoriter Orde Baru.

"Dari perspektif ilmu politik, saya percaya pemerintahan dan kepemimpinannya sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan adalah implementasi nyata dari Kepemimpinan Politik," tutur Mizuno.

"Usahanya sungguh berani dan berarti dalam proses demokratisasi di Indonesia. Usahanya mendapat simpati dan dukungan tidak hanya dari anggota PDI tetapi juga dari masyarakat di Indonesia. Sungguh dia menjadi simbol perlawanan terhadap rezim otoriter Presiden Soeharto dan demokratisasi di Indonesia," kata Mizuno.

Tidak hanya itu, kiprah Megawati pula tercatat saat menjabat di eksekutif atau pemerintahan Indonesia. Megawati membangun kelembagaan demokratisasi Indonesia mulai dari Mahkamah Konstitusi, Komisi Yudisial, Badan Narkotika Nasional, Lembaga Penjamin Simpanan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Itu adalah sebagian dari lembaga penting yang didirikan selama masa kepresidenannya.

Mizuno juga menilai Megawati mewarisi dan mampu mempertahankan idealisme Soekarno. Terutama rasa hormat dan simpati kepada rakyat jelata.

Selain itu simpatinya kepada rakyat jelata diwujudkan dalam berbagai kebijakan, lanjut Mizuno. Hal ini bisa terlihat dari lahirnya Undang Undang tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional tahun 2004. Dan di tahun 2014 penyelenggara jaminan sosial dibentuk menjadi BPJS. Megawati juga berhasil menyampaikan dan mewujudkan gagasan integritas wilayah dan keamanan nasional. Megawati pun disebut mengambil inisiatif berani menyampaikan akan pentingnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Beberapa penghargaan doktor kehormatan dari berbagai universitas di dalam dan luar negeri menjadi bukti pengakuan pemikiran akademik atas keahliannya di bidang Kepemimpinan Strategis, yang juga erat kaitannya dengan bidang Ilmu Pertahanan," kata Mizuno.

"Ia (Megawati) memiliki kharisma yang unik dan kompetensi yang tinggi tidak hanya di bidang politik tetapi juga di bidang ekonomi dalam memimpin Indonesia mengatasi berbagai krisis yang sangat kompleks di tahun-tahun pascareformasi dan membangun kepercayaan internasional kepada pemerintah Indonesia," tutur Mizuno.

Di kesempatan terpisah, Guru Besar Sosiologi dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. der Soz. Gumilar Rusliwa Somantri mengatakan dirinya sudah mempelajari peran penting serta kontribusi Megawati. Mulai dari saat menjadi Wapres, Presiden hingga hingga kini sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Kata Gumilar yang pernah mencatatkan sejarah sebagai rektor UI termuda itu, Megawati telah melahirkan berbagai kebijakan dalam mendukung tugas-tugas Kementerian Pertahanan dan TNI selama menjabat di pemerintahan.

Berbagai ide dan gagasannya tentang pertahanan juga dituangkan dalam berbagai dokumen negara dan sebagian ditulis dalam bentuk buku-buku monograf. Seperti buku yang berjudul "Pembangunan Kedaulatan Pangan untuk Kemajuan dan Kesejahteraan Bangsa Indonesia" dan "Politik Pendidikan Nasional".

Begitu juga terdapat artikel ilmiah yang dipublikasikan oleh Jurnal Pertahanan terindeks SINTA berjudul "The Leadership of President Megawati in the era of Multidimensional Crisis, 2001-2004". Lalu "Establishment of Pancasila as a Grounding Principles of Our Nation".

Dua artikel terakhir kata Gumilar menunjukkan karya ilmiah yang nyata atas kepemimpinan Megawati dalam memimpin Indonesia mengatasi berbagai krisis pada tahun-tahun pascareformasi.

"Kedua buku monograf tersebut menunjukkan pemikiran akademik beliau yang jelas menggunakan perspektif ilmu kepemimpinan berikut aplikasi teori dan kaidah-kaidah parameternya," kata Gumilar.

"Saya menilai kontribusi ilmiah Ibu Dr. (H.C) Megawati Soekarnoputri telah memenuhi syarat dan ketentuan untuk diusulkan menjadi Guru Besar Tidak Tetap di Unhan RI bidang keilmuan Kepemimpinan Strategik," lanjut dia.