Tetap Berkarier setelah Menikah, Perempuan Juga Bisa Sukses Punya Bisnis Sendiri

·Bacaan 5 menit

Fimela.com, Jakarta Setiap harinya kita berurusan dengan uang. Menghasilkan uang hingga mengatur uang menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kita. Bahkan masing-masing dari kita punya cara tersendiri dalam memaknai uang. Dalam tulisan kali ini, Sahabat Fimela berbagi sudut pandang tentang uang yang diikutsertakan dalam Aku dan Uang: Berbagi Kisah tentang Suka Duka Mengatur Keuangan. Selengkapnya, yuk langsung simak di sini.

***

Oleh: Ika Susanti

Sejak kecil aku sudah suka berbisnis, hobi ini bahkan telah muncul sejak aku duduk di bangku SD. Saat itu aku membuat perpustakaan kecil dari koleksi buku-bukuku, yang kemudian kusewakan pada teman-teman di lingkungan rumah. Majalah Bobo, Ananda, Donald Bebek dan bermacam buku komik, kususun rapi di anak tangga teras depan rumah sepulang sekolah. Lalu teman-temanku datang untuk bermain sambil meminjam buku. Namanya juga anak-anak, belajar bisnis sambil bermain malah banyak ruginya. Kegiatan ini akhirnya berhenti dengan sendirinya, ketika buku-bukuku banyak yang tidak kembali.

Belajar Bisnis Serius Setelah Menikah

Setelah menjadi wanita karir dan menikah, hobi bisnisku tumbuh kembali. Rasanya ada kepuasan tersendiri ketika mendapat uang ekstra dari bisnis, di luar gaji bulanan. Saat itu sekitar tahun 2000an mulai menjamur bisnis Multi Level Marketing (MLM). Aku belajar bisnis serius di bisnis ini pada dua merek produk kosmetik.

Bisnis ini tidak sulit, setiap bulan aku hanya mengedarkan booklet kepada teman-teman kantor dan mencatat pesanannya. Selanjutnya aku order ke perusahaan, dan barang langsung diantar setelah aku melakukan pembayaran. Selisih harga konsumen dan member itulah keuntunganku, yang memang tidak terlalu besar. Tapi bila dikumulatifkan setiap bulannya, cukuplah untuk menutup biaya makan siang dan transportasi pulang pergi kantor setiap hari.

Bisnis Rugi tapi Membawa Berkah

Ilustrasi./copyright shutterstock
Ilustrasi./copyright shutterstock

Tidak puas dengan bisnis kosmetik, aku mulai merambah ke bisnis busana muslim. Aku berburu iklan toko-toko busana muslim yang menjual dengan harga grosir dan sistem retur. Sistem retur ini menguntungkan reseller, karena barang yang tidak laku bisa ditukar kembali dalam jangka waktu tertentu.

Aku beruntung bertemu dengan pengrajin busana muslim dan bordir asli dari Tasikmalaya. Sebagai tangan pertama harga yang kudapatkan jauh lebih murah, sistem returnya pun sangat fleksibel. Sehingga tidak ada risiko kerugian yang kutanggung dari produk yang tidak terbeli.

Bisnis busana muslim yang awalnya berjalan dengan baik ini mulai terganggu ketika beberapa pelanggan dari teman-teman kantor meminta pembayaran dengan sistem kredit. Mereka cukup menyulitkanku ketika jatuh tempo untuk membayar. Memang tidak semua berbuat demikian, tapi kemacetan pembayaran di beberapa orang lama-lama mempengaruhi cash flow. Hingga akhirnya bisnis ini terpaksa kuhentikan.

Namun aku justru mendapat berkah lain yang luar biasa. Dari bisnis inilah awal mula aku menetapkan hati untuk berhijab. Diam-diam aku mulai menyukai dan mengoleksi busana muslim yang kujual. Dan setelah merasa jumlah koleksiku cukup untuk keseharian, aku mantap untuk menghias penampilanku dengan hijab.

Mencoba Bisnis dengan Modal Besar

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/winnievinzence
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/winnievinzence

Beberapa tahun kemudian, hobi bisnisku tumbuh kembali. Kali ini bisnis yang kubangun membutuhkan modal yang lebih besar. Aku dan suami memberanikan diri menyewa toko di sebuah mall kecil yang cukup ramai di dekat kantor. Kali ini barang yang kujual adalah perlengkapan rumah tangga, barang pecah belah, penghias meja dan ruangan.

Untuk barang perlengkapan rumah tangga, aku bisa menggunakan sistem pengiriman barang dari supplier. Tapi tidak demikian dengan barang pecah belah dan hiasan. Bersama suami aku blusukan mencari barang-barang bagus ke berbagai pasar di Jakarta. Memilih-milih jenis, model, keindahan, keunikan dan mempertimbangkan trend.

Beruntung aku menemukan penjaga toko yang jujur, sabar dan ramah pada pelanggan. Menata barang pecah belah perlu sentuhan khusus dan kesabaran ekstra. Tokoku juga melayani pembelian barang-barang untuk kado pernikahan atau ulang tahun sekaligus membungkusnya. Dan untuk menarik minat masyarakat menengah ke bawah, aku siapkan rak khusus untuk barang-barang grosir dengan harga serba murah.

Sayangnya setelah berjalan lima tahun tokoku mulai mengalami penurunan. Aku makin sibuk di kantor seiring dengan peningkatan karirku, hingga toko kurang pengawasan. Selain itu penjaga tokoku juga mulai menurun kinerjanya, setelah menikah dan mempunyai anak. Belum lagi persaingan bisnis yang makin berat, dengan munculnya mall-mall baru yang lebih menarik dan berkelas. Karena status tokoku masih menyewa, otomatis ada biaya operasional rutin yang harus kutanggung setiap bulan. Setelah hampir satu tahun kondisinya tidak membaik, akhirnya aku menyerah. Barang-barang kulelang dengan harga murah dan toko pun kututup.

Bisnis Online di Masa Pandemi

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/korrawin
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/korrawin

Banyaknya waktu luang di rumah karena jadwal Work From Home (WFH) di masa pandemi ini, membuat jiwa bisnisku memanggil-manggil. Kebetulan aku punya beberapa langganan penjual kue-kue kering yang enak dan bersih di kampung sekitar komplek rumah. Setelah beberapa kali uji coba dan rasanya cocok, aku mulai berani membeli dalam jumlah banyak untuk dijual. Agar jenis makanan yang dijual lebih bervariasi, aku membuat sendiri beberapa jenis frozen food dan reseller beberapa jenis camilan yang sedang trend di toko kue grosir.

Setelah itu aku mulai membangun branding untuk produk makanan yang akan kujual. Membuat merk, logo, kemasan dan mengubah fungsi garasi rumah menjadikan toko. Aku melengkapi toko dengan etalase, freezer frozen food dan kontainer-kontainer tertutup untuk menyimpan makanan agar higienis. Untuk menyasar pelanggan, aku membuka toko online dengan dua perusahaan e-commerce sebagai patner. Tidak ada biaya operasional apapun yang kukeluarkan dari bisnis ini, hanya dipotong cost sharring untuk jasa dan fee driver ojol.

Pantang Menyerah dan Terus Mencoba

Meskipun jatuh bangun dalam bisnis, aku tetap pantang menyerah. Paling tidak aku sudah pernah mencoba beragam jenis bisnis, hingga memahami berbagai resikonya. Pengalaman mengajarkanku agar berhati-hati dalam mengambil keputusan. Kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi di masa lalu tidak boleh terulang, risiko bisnis harus semakin kuperhitungkan.

Bisnis apa pun yang kita ciptakan sebaiknya bisa dikelola sendiri. Walaupun dipercayakan pada orang lain, minimal dilakukan pengawasan rutin dalam pengelolaannya. Dan biaya-biaya operasional yang muncul perlu menjadi pertimbangan. Jangan sampai kita berbisnis lebih besar pasak daripada tiang, lebih besar pengeluaran daripada pemasukannya.

Aku sungguh bersyukur, bisnis toko makanan online ini masih berjalan dengan baik hingga hari ini. Pelanggan-pelanggan setiaku tetap rajin memesan makanan meskipun terkurung di dalam rumah. Menurutku, jenis bisnis inilah yang terbaik untuk dikembangkan saat ini. Bisnis ini bisa kukelola bersama keluarga kecilku, sambil mengerjakan tugas-tugas kantor di rumah. Kami bisa memonitor pengelolaan toko online bersama di handphone masing-masing.

Kecanggihan teknologi dan suasana pandemi saat ini memang sangat mendukung keberhasilan bisnis-bisnis berbasis online. Selain praktis, bisnis online juga minim resiko dan biaya operasional. Aku berharap bisnis ini terus meningkat dan makin berkembang. Siapa tahu suatu hari nanti, di samping toko online aku juga bisa punya toko makanan riil. Dan aku berharap bisnis ini bisa menjadi kesibukanku bersama suami, hingga hari tua nanti, saat kami sama-sama pensiun. (IkS)

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel