Tetap Produktif saat COVID-19, Tren Digital Diprediksi Meningkat

Tasya Paramitha, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 1 menit

VIVA – Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi COVID-19 bergeser pada digitalisasi. Hal itu memungkinkan roda perekonomian berputar, dengan tanpa adanya kontak langsung.

Suharso mengatakan, penanganan COVID-19 perlu difokuskan pada upaya untuk menurunkan tingkat penyebaran COVID-19 melalui kerja sama antara berbagai pihak yakni masyarakat, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah.

Hal tersebut guna meningkatkan jumlah testing dan tracing di seluruh daerah, sehingga menurunkan positivity rate dan menurunkan angka reproduksi virus, serta melaksanakan vaksinasi sesuai sasaran yang ditetapkan.

"Pemulihan ekonomi perlu difokuskan untuk melakukan implementasi program pemulihan ekonomi secara tepat dan terukur," ujarnya dalam konferensi pers beberapa waktu lalu.

Di tengah pandemi, Suharso menuturkan bahwa komponen konsumsi rumah tangga yang tumbuh positif mencakup perlengkapan rumah tangga, kesehatan dan pendidikan. Tercatat, komponen pengeluaran untuk kesehatan dan pendidikan naik 3,09 persen,

"Lalu, perumahan dan perlengkapan rumah tangga naik 2,28 persen. Serta makanan minuman selain restoran tumbuh 0,51 persen," bebernya.

Pembatasan sosial yang menjadi salah satu strategi menurunkan laju penularan telah meningkatkan tren digitalisasi. Saat ini, pertumbuhan tahunan penjualan e-commerce di Indonesia meningkat mencapai 15,4 persen.

Senada, sektor informasi dan komunikasi juga tumbuh positif karena kebutuhan media digital selama pandemi COVID-19, seperti kegiatan sekolah yang dilakukan secara daring, perusahaan atau kantor yang lebih banyak melakukan work from home, serta e-commerce.

"Kondisi less-contact economy namun tetap produktif ini diprediksi akan terus berlanjut," tegas Menteri Suharso Monoarfa.