Teten: Percepat pembangunan pabrik minyak makan merah oleh koperasi

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyatakan pembangunan pabrik minyak makan merah oleh koperasi mendesak untuk segera dilakukan guna merespon kebutuhan masyarakat terhadap minyak goreng.

"Minyak makan merah ini lebih sehat dan punya banyak manfaat. Dengan adanya ini juga dapat memecahkan permasalahan pasokan minyak goreng dan dapat menghadirkan minyak goreng yang terjangkau bagi rakyat," kata Menkop dalam kunjungan kerja di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Medan, Sumatera Utara, melalui keterangan resmi, yang diterima di Jakarta, Kamis.

Seperti diketahui, pihaknya sedang melakukan proyek percobaan pengembangan minyak makan merah oleh koperasi di Sumatera Utara, Jambi, dan Kalimantan Tengah.

Teten telah melihat secara langsung pembuatan minyak makan merah oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS). Ia merasa teknologi dari PPKS sangat mudah diterapkan kepada koperasi maupun Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

"Skala ekonomis dari teknologi ini bahkan dapat menghasilkan 500 kilogram minyak makan merah per jam. Saya akan bicara dengan Menteri BUMN (Erick Thohir) agar memproduksi alat ini lebih banyak, supaya ketika piloting kita dapat dukungan teknologi dari PPKS," katanya.

Sebagai upaya mewujudkan kemandirian pangan melalui hilirisasi produksi minyak makan merah oleh koperasi, lanjutnya, maka harus memperoleh dukungan kemitraan dari seluruh pemangku kepentingan.

Sementara itu, Kepala PPKS Edwin Syahputra Lubis mengemukakan bahwa pihaknya telah menghasilkan inovasi minyak makan merah yang diharapkan menjadi langkah baru dalam rangka pengentasan stunting sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui koperasi.

Minyak makan merah disebut sebagai produk turunan dari minyak kelapa sawit dengan nutrisi berupa fitonutrein, yaitu karoten dan vitamin E, serta kualitas asam lemak yang sangat baik bagi kesehatan.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Riset Perkebunan Nusantara Teguh Wahyudi menyampaikan total produk sawit di Indonesia ialah sebanyak 44,8 juta ton dengan 35 persen berasal dari hasil sawit rakyat.

Lebih lanjut, proporsi pengelolaan perkebunan sawit di tanah air oleh petani swadaya juga terbilang cukup besar, yakni 6,04 juta hektar atau 41 persen dari 14,59 juta hektar total luas perkebunan sawit.

Pada pertemuan itu, Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi menganggap inovasi minyak makan merah dapat membuat petani Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit tak perlu lagi bergantung kepada pabrik minyak goreng.

“Biasanya, TBS yang ada di rakyat kan dibawa ke pabrik dan ditambah potongan sampai 7 persen. Kalau begitu caranya, TBS mereka kita kumpulin dan tak usah kita bawa ke pabrik,” ujar Edy.

Jika minyak makan merah dapat disiapkan dengan teknologi yang berskala ekonomis, Edy menilai pembangunan pabrik komoditas tersebut dapat terealisasi sehingga persoalan terkait minyak goreng dapat teratasi.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel