Teten: Program solar untuk koperasi nelayan di Surabaya siap uji coba

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki memastikan Program Solusi Nelayan (Solar untuk Koperasi Nelayan) siap untuk diujicobakan di Kampung Nelayan, Desa Kedung Cowek, Bulak, Surabaya, Jawa Timur.

"Kami ingin para nelayan bisa membeli solar sesuai harga SPBU, bukan harga dari pengecer, sehingga margin pendapatan nelayan akan bertambah dan semakin sejahtera," kata Teten saat meninjau kesiapan lokasi piloting di Surabaya, sebagaimana dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, koperasi nelayan akan mengelola SPBU khusus nelayan. Pengurus koperasi diwajibkan mendata para anggotanya agar bahan bakar minyak (BBM) yang dipasok oleh PT Pertamina (Persero) dapat tersalurkan secara tepat sasaran.

Baca juga: Pemprov Kalsel berencana subsidi solar Rp1.000/liter untuk nelayan

Dengan keberadaan SPBU khusus nelayan, lanjutnya, diharapkan nelayan bisa lebih mudah dan cepat dalam memperoleh BBM.

“Selama ini, sekitar 60 persen biaya produksi nelayan untuk pengadaan BBM. Untuk itu, diperlukan upaya yang nyata agar biaya produksi para nelayan bisa ditekan dengan memberikan kemudahan akses terhadap BBM yang murah sesuai harga resmi yang ditetapkan oleh Pertamina," kata Menkop.

Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian BUMN, dan PT Pertamina telah menyepakati piloting yang bakal dilakukan selama tiga bulan ke depan di tujuh lokasi, yang berada di Surabaya, Indramayu di Jawa Barat, Pekalongan dan Semarang di Jawa Tengah, Aceh Besar di Aceh, Deli Serdang di Sumatera Utara, dan Lombok Timur di Nusa Tenggara Barat.

Ketua Koperasi Bahari 64 Muhammad Sukron menyatakan selama ini para nelayan mengeluh kesulitan memperoleh BBM murah. Dengan jarak SPBU yang jauh, para nelayan terpaksa membeli ke pengecer dengan harga lebih mahal.

Untuk BBM jenis solar, nelayan mendapatkan dari pengecer dengan harga rata-rata Rp10 ribu-Rp11 ribu per liter dan pertalite Rp12 ribu per liter. Padahal, ucap dia, harga yang dipatok resmi oleh Pertamina untuk solar senilai Rp6.850 dan pertalite Rp10 ribu per liter.

"Dengan adanya SPBU khusus bagi nelayan yang dikelola koperasi ini, menurut saya akan menjadi langkah konkret untuk memberikan solusi bagi teman-teman nelayan dalam mendapatkan BBM. Selama ini, permasalahan kami hanya BBM," kata Sukron.

Baca juga: Menteri Trenggono gandeng Menkop agar koperasi sediakan solar nelayan

Secara rata-rata, kebutuhan BBM untuk nelayan setiap hari sekitar lima liter. Dia optimis kebutuhan BBM murah bisa disuplai oleh Pertamina melalui SPBU mini yang dikelola oleh koperasi.

"Kebutuhan BBM solar ini sangat berdampak luar biasa bagi teman-teman nelayan (mengingat) jarak melaut semakin jauh sehingga ongkosnya bertambah," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Small Medium Enterprise (SME) PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Amam Sukriyanto mengatakan pihaknya siap membantu para nelayan mendapatkan akses pendanaan murah dengan menyalurkan kredit usaha rakyat (KURbagi nelayan untuk melakukan pembaharuan alat tangkap atau kebutuhan produksi lainnya.