Teten sebut tiga dampak dari pembangunan pabrik minyak makan merah

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyatakan kebijakan afirmasi pemerintah mengenai pembangunan pabrik minyak makan merah memberikan tiga dampak yang sangat bagus.

“Pertama ialah memberikan kesejahteraan kepada petani sawit, lalu menyuplai minyak makan merah kepada masyarakat, dan menyediakan pangan yang lebih sehat,” ujar dia dalam Podcast Bersama Antara di Gedung Kementerian Koperasi dan UKM di Jakarta, Selasa.

Dia mengharapkan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang bakal mengolah Crude Palm Oil (CPO) menjadi minyak makan merah bisa segera produksi dan diedarkan per Januari 2023.

Produk minyak makan merah yang dikembangkan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) telah memperoleh sertifikasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Badan Sertifikasi Nasional (BSN).

Selama ini, petani sawit hanya menjual Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit ke industri besar yang sudah menguasai pabrik CPO hingga produksi minyak goreng (migor). Dengan adanya pabrik minyak makan merah, petani sawit yang tergabung ke dalam koperasi dapat menjual komoditas tersebut.

Jika nantinya pendekatan pengembangan bisnis dilakukan dengan memproduksi minyak makan sawit per 1.000 hektar sebanyak 10 ton per hari, maka bisa didistribusikan ke dua kecamatan di sekitar pabrik yang kini sedang dibangun di tiga titik area provinsi Sumatera Utara. Pertama di Kabupaten Asahan yang dikelola Koperasi Puja Sera, Kabupaten Langkat yang dikelola Koperasi Unggul Sejahtera, dan Kabupaten Deli Serdang oleh Koperasi Produsen Petani Indonesia

“Ini akan mengubah struktur produksi sawit dan juga mempengaruhi kesejahteraan petani sawit karena petani boleh terlibat sampai hilirisasinya. Pemerintah juga dapat menyuplai minyak makan merah ke masyarakat dengan lebih baik karena 41 persen lahan sawit milik petani mandiri,” ucapnya.

Selain bermanfaat dari segi ekonomi, minyak makan merah disebut bermanfaat pula dari segi kesehatan menimbang ada kandungan pro vitamin A dan vitamin E yang tinggi.

Dalam kandungan migor berwarna bening yang digunakan saat ini, lanjut dia, tidak ada pro vitamin A dan E karena nutrisi tersebut dibuang melalui proses bleaching. Padahal, kandungan vitamin A dan E berfungsi antara lain untuk mengatasi stunting.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, pemerintah Indonesia mengimpor vitamin A dan E yang dipakai antara lain untuk menyelesaikan persoalan stunting. Padahal, negara tetangga Malaysia sudah lama memiliki minyak makan merah yang diekspor ke China guna mengatasi stunting.

“Minyak makan merah bisa jadi bagian dari program stunting, bisa jadi produk yang kita tawarkan ke Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (yang mengurusi urusan stunting) menimbang minyak makan merah murah, sehat, dan tersedia. Kita tak perlu lagi mencari atau mengimpor,” ungkap Teten.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Kelompok Peneliti Hilirisasi Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Frisda Rimbun Pandjaitan menyatakan bahwa minyak makan merah sudah dimulai diproduksi oleh Malaysia sejak era 2000-an. Negara tersebut memasarkan minyak makan merah ke Afrika, India yang memiliki kultur migor berwarna merah, dan sekarang ke China sebagai pasar terbesar yang memanfaatkan komoditas itu untuk meningkatkan gizi dan kualitas anak-anak.

Bahkan, ucap dia, China menyediakan kuota khusus untuk Malaysia jika hendak mengekspor minyak makan merah.

“Minyak di Malaysia dan sekarang (di Indonesia) tidak ada bedanya karena bersumber dari minyak sawit yang kaya pro vitamin A dan E berfungsi untuk balancing ketika konsumsi lemak jahat dan lemak baik,” kata Frisda.

Meskipun Malaysia mengolah CPO menjadi minyak makan merah dengan teknologi canggih, sedangkan Indonesia menggunakan teknologi sederhana, tetapi hasil produksinya tetap sama (equal). Artinya, asupan vitamin A dan E tetap ada di dalam minyak makan merah hasil produksi PKS Indonesia.


Baca juga: Kemenkop: Minyak makan merah lebih enak dan lebih sehat
Baca juga: Menkop optimis Januari 2023 minyak makan merah bakal diproduksi
Baca juga: BSN serahkan SNI untuk produksi minyak makan merah