Texas hentikan pembukaan kembali karena virus melonjak di AS

Houston (AFP) - Texas pada Kamis menghentikan langkah-langkah dalam membuka kembali kegiatan ekonomi akibat terjadinya kenaikan tajam dalam kasus virus corona karena Amerika Serikat mencapai tingkat infeksi tertinggi sejak dimulainya penyebaran pandemi.

Dua puluh sembilan negara bagian di negara itu mengalami lonjakan baru, dengan lebih dari 37.667 kasus baru dicatat Kamis, demikian menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) - tingkat yang mendekati rekor baru - dengan 692 kematian baru yang dilaporkan.

Melihat seriusnya keadaan, Wakil Presiden Mike Pence mengumumkan bahwa gugus tugas virus corona Gedung Putih akan memberikan konferensi pers pada Jumat di Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan, yang pertama dalam hampir dua bulan.

Texas adalah salah satu negara bagian paling agresif dalam pembukaan kembali ekonomi pada awal Juni setelah berbulan-bulan dikunci, karena yakin telah lolos dari pandemi terburuk yang telah merenggut hampir 122.000 nyawa di AS yang sejauh ini merupakan angka tertinggi di dunia.

"Negara bagian Texas akan menghentikan sementara fase lebih lanjut untuk membuka Texas ketika negara menanggapi peningkatan kasus COVID-19 dan rawat inap baru-baru ini," demikian diumumkan kantor Gubernur Greg Abbott dalam sebuah pernyataan.

"Hal terakhir yang ingin kita lakukan sebagai sebuah negara bagian adalah mundur dan menutup bisnis. Jeda sementara ini akan membantu negara kita mengatasi penyebaran," kata Abbott, meminta penduduk mengenakan masker dan menghormati pedoman jaga jarak sosial.

Departemen Layanan Kesehatan Negara Texas melaporkan rekor baru 5.596 kasus virus corona baru pada Kamis, lompatan besar dari hanya 10 hari yang lalu, ketika negara hanya memiliki 1.254 kasus baru dalam sehari.

Terdapat 47 kematian akibat virus corona baru di negara bagian itu Kamis, masih lebih rendah dari beberapa hari pada April dan Mei.

Abbott adalah sekutu Donald Trump, tetapi pengumuman terbarunya justru sangat kontras dengan presiden, yang telah mencoba memberi sinyal bahwa krisis virus sebagian besar telah berakhir.

Faktanya, CDC kini memperkirakan bahwa 2,4 juta kasus AS yang tercatat mewakili hanya sepersepuluh dari jumlah orang yang terinfeksi, menurut perkiraan dari survei antibodi yang representatif secara nasional.

"Kelihatannya terdapat antara lima dan delapan persen dari masyarakat Amerika" yang memiliki antibodi, kata direktur CDC Robert Redfield, yaitu berkisar antara 16,5 dan 26,4 juta orang.

Tiga negara bagian timur laut yang membuat kemajuan signifikan mengatasi pandemi - New York, New Jersey dan Connecticut - pada Rabu mendesak pengunjung yang tiba dari hotspot AS seperti Texas, Florida dan Alabama untuk mengkarantina diri mereka sendiri.

Beberapa negara bagian di Selatan dan Barat mengalami apa yang digambarkan penasihat Gedung Putih dan pakar penyakit menular terkenal Anthony Fauci sebagai "gangguan" baru dalam lonjakan infeksi.

Para ahli menyalahkan tanggapan di tingkat resmi, politisasi masker dan jaga jarak fisik, dan timbulnya rasa puas diri yang meluas.

Tidak seperti Eropa dan sebagian Asia Timur, Amerika Serikat tidak pernah turun dari puncak pandemi, dan masih di tengah gelombang pertama.

Mengenakan masker wajah dan menjaga jarak fisik yang sesuai didesak dalam pedoman federal, tetapi hal itu belum diwajibkan di banyak daerah yang sekarang mengalami lonjakan.

Di sisi lain, di kota-kota seperti ibu kota Washington, mengenakan masker adalah sebuah norma, dengan orang-orang secara sukarela memakainya, terutama di tempat-tempat yang sulit menjaga jarak setiap saat.

Perbedaan-perbedaan ini mencerminkan politik terpolarisasi di negara itu, dan banyak Republikan melemparkan penutup wajah sebagai bentuk serangan terhadap kebebasan mereka dan konspirasi liberal untuk menyulut ketakutan.

Yang memimpin tuduhan itu adalah Trump sendiri, yang pekan lalu mengadakan kampanye di Tulsa, Oklahoma, yang menentang saran pejabat kesehatan terkemuka dan sekarang berencana melakukan perjalanan ke New Jersey untuk mengunjungi klub golf yang dimilikinya, mengesampingkan perintah karantina yang meminta orang luar untuk secara mandiri mengisolasi diri selama dua pekan pada saat kedatangan.

Sementara itu, CDC juga telah merevisi daftar kondisi yang dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap virus.

Menurut penelitian mereka, "Wanita hamil secara signifikan lebih besar kemungkinan dirawat di rumah sakit, dirawat di unit perawatan intensif, dan menerima ventilasi mekanis daripada wanita tidak hamil; namun, wanita hamil tidak berisiko lebih besar meninggal akibat COVID-19."

CDC juga mencabut peringatan khusus usia untuk penderita sakit COVID-19 yang parah, dengan mengatakan bahwa risiko meningkat seiring bertambahnya usia dan bukan hanya mereka yang berusia di atas 65 tahun yang memiliki risiko lebih tinggi.

bur-ia/jm/caw/bfm