Thailand Buka Pintu untuk Pengunjung Sudah Vaksinasi COVID-19 Per 1 November

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Bangkok - Thailand berencana untuk meniadakan keharusan karantina COVID-19 bagi wisatawan yang telah mendapat vaksinasi COVID-19 penuh dari 10 negara beresiko rendah mulai 1 November, kata para pejabat.

Dilansir dari laman BBC, Selasa (12/10/2021), Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha mengaku bahwa keputusan ini datang dengan beberapa resiko – tetapi itu dipandang sebagai langkah kunci untuk menghidupkan kembali sektor pariwisata yang runtuh di Thailand.

10 negara yang dianggap beresiko rendah termasuk Inggris, China, Jerman, dan AS.

Thailand telah mencatat lebih dari 10.000 infeksi positif harian sejak bulan Juli. Negara ini juga telah sepenuhnya melakukan vaksinasi COVID-19 sekitar 33% dari hampir 70 juta penduduk. Setengah dari populasi telah menerima satu dosis vaksinasi.

PM Prayuth mengatakan Thailand juga akan membuka tempat hiburan pada 1 Desember dan mengizinkan penjualan alkohol dan menambahkan bahwa pihak berwenang berencana untuk membuka Thailand kepada lebih banyak negara.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Pemerintah Akan Bertindak Tegas Jika Terjadi Lonjakan Kasus COVID-19

Ilustrasi bendera Thailand (AP/Sakchai Lalit)
Ilustrasi bendera Thailand (AP/Sakchai Lalit)

Mengacu pada wisatawan dari 10 negara beresiko rendah, PM Prayuth juga menekankan bahwa mereka yang tiba harus menunjukkan hasil tes negatif COVID-19 dan tes sekali lagi saat kedatangan.

Jika tes kedua juga negatif, setiap pengunjung dari negara-negara itu "dapat bepergian dengan bebas seperti orang Thailand", kata perdana menteri.

Namun, ia tetap mengingatkan bahwa pemerintah akan bertindak tegas jika terjadi lonjaka infeksi atau munculnya varian COVID-19 yang sangat menular.

Diperkirakan Thailand kehilangan sekitar $50 miliar atau sekitar 711 triliun rupiah dalam pendapatan pariwisata pada tahun 2020.

Pandemi telah menyebabkan Thailand mengalami kontraksi ekonomi terparah dalam lebih dari dua dekade.

Reporter: Ielyfia Prasetio

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel