Thailand Gunakan Keringat Ketiak Buat Deteksi Covid-19, Ini 4 Faktanya

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Pandemi COVID-19 yang belum berakhir sejak akhir 2019 lalu membuat banyak negara terus berusaha mengembangkan teknologi kesehatan. Salah satunya ialah pendeteksi virus COVID-19.

Pengembangan teknologi untuk mendeteksi adanya virus corona ini juga sempat dilakukan di Indonesia. Menggunakan sistem test Genose C19 yang dibuat secara khusus oleh ahli dari Universitas Gadjah Mada ini sempat diterapkan di beberapa stasiun serta bandara.

GeNoSe dibuat sebagai alat alternatif untuk skrining awal adanya COVId-19. Meski begitu, alat ini tak bisa menggantikan adanya tes antigen ataupun PCR. Bukan hanya Indonesia saja yang mengembangkan alat alternatif untuk deteksi COVID-19. Namun, baru-baru ini Thailand juga melakukan hal serupa.

Pengembangan cek deteksi dini COVID-19 yang dilakukan oleh Thailand bahkan berhasil curi perhatian. Pasalnya, Thailand diketahui tengah mengembangkan tes menggunakan keringat ketiak untuk deteksi COVID-19.

Enggak percaya? Dilansir Liputan6.com dari World of Buzz, berikut ini beberapa fakta terkait alat deteksi dini COVID-19 menggunakan keringat ketiak, Senin (13/9/2021).

1. Temukan bahan kimia berbeda

Thailand Gunakan Keringat Ketiak Buat Deteksi Covid-19, Ini 4 Faktanya (sumber: worldofbuzz)
Thailand Gunakan Keringat Ketiak Buat Deteksi Covid-19, Ini 4 Faktanya (sumber: worldofbuzz)

Thailand menemukan cara baru untuk mendeteksi adanya COVID-19 menggunakan keringat ketiak. Meski terdengar tak lazim, namun para ilmuwan Thailand menyebut jika keringat ketiak bisa saja mengandung tanda-tanda halus infeksi COVID-19. Para ilmuwan menyebut jika setiap individu akan mengeluarkan bahan kimia berbeda jika terkena COVID-19.

“Dari sampel, kami menemukan bahwa orang yang terinfeksi Covid-19 mengeluarkan bahan kimia yang sangat berbeda,” kata Chadin Kulsing dari Universitas Chulalongkorn di Bangkok yang dilansir Liputan6.com dari World of Buzz, Senin (13/9/2021).

Tak sampai disitu saja, para ilmuan juga mengembangkan temuan tersebut untuk mendeteksi bau spesifik yang dihasilkan oleh bakteri tertentu dalam keringat pasien COVID-19.

2. Mengklaim tingkat akurasi hingga 95%

Thailand Gunakan Keringat Ketiak Buat Deteksi Covid-19, Ini 4 Faktanya (sumber: worldofbuzz)
Thailand Gunakan Keringat Ketiak Buat Deteksi Covid-19, Ini 4 Faktanya (sumber: worldofbuzz)

Peneliti Thailand saat ini juga terus mengembangkan alat pendeteksi virus seluler dengan memanfaatkan keringat tubuh terutama ketiak. Bahkan, Chadin menyebutkan telah melakukan tes kepada seorang pemilik toko di pasar Bangkok.

Tak hanya itu saja, ia juga menyebut meskipun perangkat masih dalam tahap pengembangan, akan tetapi ia mengklaim tingkat akurasi dapat mencapai 95%. Chadin juga berharap alat tersebut bisa segera diluncurkan sebagai alternatif yang terjangka untuk dibandingkan melakukan tes swab yang mahal dan memerlukan proses lama.

3. Deteksi bahan kimia beracun

Thailand Gunakan Keringat Ketiak Buat Deteksi Covid-19, Ini 4 Faktanya (sumber: worldofbuzz)
Thailand Gunakan Keringat Ketiak Buat Deteksi Covid-19, Ini 4 Faktanya (sumber: worldofbuzz)

Chadin juga mengungkapkan mengenai cara kerja dari alat tes tersebut menggunakan keringat ketiak. Untuk melakukan tes COVID-19, sebuah kapas akan diletakkan di bawah ketiak selama 15 menit terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam botol kaca yang telah disterilkan dengan sinar UV.

“Teknisi kemudian mengambil sampel dalam jumlah yang sesuai menggunakan selang hisap, dan menekannya ke dalam alat analisa untuk memeriksa hasilnya,” ujarnya.

4. Hasil keluar dalam waktu 30 detik saja

Thailand Gunakan Keringat Ketiak Buat Deteksi Covid-19, Ini 4 Faktanya (sumber: worldofbuzz)
Thailand Gunakan Keringat Ketiak Buat Deteksi Covid-19, Ini 4 Faktanya (sumber: worldofbuzz)

Meski memerlukan waktu 15 menit untuk mengumpulkan sampel, namun Chadin mengungkapkan jika hasilnya akan keluar dalam waktu 30 detik saja. Karena hal ini pula, tes menggunakan keringat ketiak mendapat apresiasi dari vendor pasar Bangkok.

Seorang penjual semangka (43) menyebut jika melakukan tes keringat lebih nyaman dibandingkan tes usap di lubang hidung.

"Tes keringat ini lebih nyaman karena saya bekerja sambil menunggu hasilnya," ujar penjual semangka yang tak disebutkan namanya.

Lebih lanjut, ia juga membandingkan waktu tunggu tes keringat ini dengan tes PCR yang memakan waktu lebih lama.

"Dengan tes PCR, saya harus berada di pusat pengujian, duduk dan menunggu hasilnya dan itu hanya membuang waktu saya,” lanjutnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel