Thailand Optimistis Pelonggaran Aktivitas Selama Pandemi COVID-19 Pulihkan Ekonomi

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Bangkok - Menteri keuangan dan menteri industri Thailand menyatakan keyakinan bahwa pelonggaran lockdown pemerintah mulai Rabu besok akan membantu ekonomi menjadi normal secara bertahap.

Menteri Keuangan Arkhom Termpittayapaisith mengatakan, pelonggaran aktivitas ekonomi di bidang ritel dan tempat makan diperlukan untuk menghidupkan kembali perekonomian, demikian dikutip dari laman Xinhua, Selasa (31/8/2021).

"Kami melihat tren stabilisasi kasus baru COVID-19. Jika penguncian ketat masih berlanjut, kami memperkirakan ekonomi akan menyusut tajam. Pelonggaran pembatasan untuk bisnis ritel dan restoran akan membantu orang untuk bangkit kembali," kata Arkhom dalam wawancara dengan media lokal.

Dia menambahkan, karena pandemi masih berlangsung, pelonggaran harus dilakukan secara bertahap dengan aman dan hati-hati.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Thailand Suriya Jungrungreangkit juga meyakini pelonggaran lockdown akan menjadi faktor positif bagi sektor manufaktur.

"Pemerintah bekerja sama dengan pemilik pabrik untuk mengendalikan infeksi melalui berbagai langkah. Tren positif dari peluncuran vaksin di negara itu dan pelonggaran pembatasan lebih lanjut akan mendukung pemulihan keseluruhan kegiatan manufaktur," kata Suriya.

Menurut Kantor Ekonomi Industri (OIE), indeks produksi manufaktur Thailand (MPI) pada Juli meningkat sebesar 5,12 persen tahun-ke-tahun untuk bulan kelima berturut-turut. Otomotif dan elektronik, termasuk papan sirkuit, ban dan industri karet adalah pendorong pertumbuhan utama untuk ekspor.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Masa Darurat COVID-19 di Thailand

Biksu Buddha mendisinfeksi diri mereka sendiri setelah melakukan kremasi untuk korban virus corona COVID-19 di Wat Chin Wararam Worawihan, Bangkok, Thailand, 30 Juli 2021. Kasus COVID-19 di Thailand kini tengah melonjak. (Lillian SUWANRUMPHA/AFP)
Biksu Buddha mendisinfeksi diri mereka sendiri setelah melakukan kremasi untuk korban virus corona COVID-19 di Wat Chin Wararam Worawihan, Bangkok, Thailand, 30 Juli 2021. Kasus COVID-19 di Thailand kini tengah melonjak. (Lillian SUWANRUMPHA/AFP)

Pada Maret 2020, Thailand telah memberlakukan larangan masuk ke negara tersebut. Keputusan ini bersamaan dengan penerapan status darurat nasional dalam upaya untuk membendung penyebaran wabah Virus Corona baru lokal. Status keadaan darurat ini berlanjut hingga 30 April.

Pihak berwenang "menutup semua pos pemeriksaan dan gerbang" untuk perbatasan daratnya, sementara jalan masuk melalui udara dan kapal juga dihentikan. Sedangkan untuk diplomat dan orang Thailand yang kembali dan memiliki sertifikat kesehatan, masih akan diizinkan untuk kembali.

Melansir Channel News Asia, langkah-langkah yang ditetapkan oleh pemerintah itu merupakan pukulan telak bagi sektor pariwisata vital negara itu.

Puluhan ribu pelancong yang masih berada di sana menghadapi ketidakpastian lantaran maskapai penerbangan berada dalam kekacauan dan aturan pembatasan untuk kembali ke negara mereka.

Selain pembatasan larangan masuk, semua pertemuan juga dilarang, dan pihak berwenang telah meminta orang yang rentan seperti orang tua untuk tetap tinggal di rumah.

Tetapi upacara meriah, seperti pernikahan atau kegiatan keluarga, dapat berlanjut di bawah aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah di tengah pandemi Corona COVID-19.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel