Thailand waspada pada penyebaran pneumonia berat jelang Tahun Baru China

Bangkok (Reuters) - Para pejabat kesehatan Thailand meningkatkan pemantauan dan inspeksi di bandara-bandaranya untuk menemukan virus misterius baru dari China menjelang Tahun Baru Imlek, ketika pengunjung-pengunjung China berduyun-duyun ke negara Asia Tenggara itu, kata seorang pejabat kesehatan, Rabu.

Prosedur tersebut dilakukan beberapa hari setelah seorang wanita China dikarantina di Thailand dengan virus korona misterius, yang pertama kali terdeteksi di luar China.

Virus Korona adalah keluarga besar virus yang dapat menyebabkan infeksi mulai dari flu biasa hingga SARS.

Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan mungkin ada penularan terbatas virus korona baru dari manusia ke manusia di China dalam keluarga.

Pihak berwenang di pusat Kota Wuhan China mengkonfirmasi pada Rabu bahwa pasangan suami istri termasuk di antara 41 orang yang didiagnosis menderita pneumonia yang diyakini disebabkan oleh virus baru.

Prospek penularan virus baru dari manusia ke manusia telah membuat pemerintah Thailand waspada.

Presiden Dewan Pariwisata Thailand mengatakan kepada Reuters pada Rabu bahwa sekitar 800.000 pengunjung dari China diperkirakan akan mengunjungi negara itu selama liburan Tahun Baru Imlek akhir bulan ini.

Kementerian Kesehatan Masyarakat telah meningkatkan pengawasannya di empat bandara yang memiliki penerbangan harian dari Wuhan - Suvarnabhumi, Don Mueng, Chiang Mai dan Phuket - dan setiap bandara yang menerima penerbangan pribadi dari kota itu.

Tes laboratorium awal yang dikutip oleh media pemerintah China menunjukkan 41 kasus pneumonia di Wuhan, di mana satu pasien telah meninggal, kemungkinan karena jenis baru virus korona itu. Sejak itu tidak ada kasus baru atau kematian, otoritas kesehatan Wuhan mengatakan pada Selasa.

"Biasanya ada 1.200 kedatangan dari Wuhan di Thailand, yang dapat mencapai 1.500 hingga 1.600 selama Tahun Baru Imlek, jadi kami akan menambah jumlah personel," kata Direktur Departemen Pengendalian Penyakit Thailand Sophon Iamsirithaworn kepada Reuters, Rabu.

"Saat ini, petugas bekerja 24 jam dalam tiga shift pukul 5 hingga 6," katanya menambahkan bahwa dua mesin pemindai suhu tubuh inframerah sedang digunakan, dengan dua cadangan.

Kenangan akan wabah SARS 2002-2003, atau Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS), yang muncul di China dan menewaskan hampir 800 orang di seluruh dunia masih cukup segar di Asia.