Tiap Perempuan Berhak Bahagia dengan Jalan Hidupnya Sendiri

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Di bulan Oktober yang istimewa kali ini, FIMELA mengajakmu untuk berbagi semangat untuk perempuan lainnya. Setiap perempuan pasti memiliki kisah perjuangannya masing-masing. Kamu sebagai perempuan single, ibu, istri, anak, ibu pekerja, ibu rumah tangga, dan siapa pun kamu tetaplah istimewa. Setiap perempuan memiliki pergulatannya sendiri, dan selalu ada inspirasi dan hal paling berkesan dari setiap peran perempuan seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Elevate Women: Berbagi Semangat Sesama Perempuan di Share Your Stories Bulan Oktober ini.

TERKAIT: Saling Menguatkan di Situasi Pandemi dengan Membuat Sabun dari Minyak Jelantah

TERKAIT: Menjadi Ibu yang Bekerja sebagai Tulang Punggung Keluarga, Hatiku Harus Lebih Tegar

TERKAIT: 5 Tips bagi Perempuan yang Ingin Melepaskan Cinta yang Tak Bisa Dimiliki

***

Oleh: Rhey Kanakava

“Jangan pernah dengar omongan orang dan memasukkannya ke hatimu karena itu tidak selalu benar. Kecuali orang tersebut menyerang fisikmu hingga terluka, kamu boleh melawannya.” Aku masih ingat pesan mamaku ketika remaja. Masa yang sulit buatku karena aku tinggal terpisah dengan mama. Pindah kota lain ikut nenekku untuk melanjutkan sekolah sementara mama berjibaku dengan masalah rumah tangga kala itu.

Ternyata benar apa yang disampaikan mamaku. Aku tidak cepat menyadarinya tapi akhirnya aku menyadari maksud dari pesannya itu. Kehidupan menjadi perempuan tidak pernah mudah. Apalagi sekarang bukan tentang emansipasi wanita yang Ibu Kartini perjuangkan di masa kolonial, justru persaingan antara perempuan yang melegitimasi mana perempuan yang lebih dan paling baik di antaranya. Dan stigma negatif yang membatasi ruang lingkup perempuan untuk berdaya.

Contohnya kalau melahirkan anak secara Sectio Caesar dianggap bukan perempuan seutuhnya dibandingkan dengan yang melahirkan secara normal. Belum lagi cara memberikan ASI atau susu formula dan pola pengasuhan anak yang tidak pernah ada habisnya. Karena dari waktu ke waktu meskipun sudah banyak edukasi serta informasi yang beredar tidak bisa mengubah pola pikir yang ditanamkan oleh budaya yang turun menurun. Ditambah kurangnya literasi budaya membaca dalam masyarakat yang akhirnya membuat masalahnya stuck di situ-situ aja.

Perempuan bermimpi besar saja terkadang patah oleh mulut sesama perempuan. Jika ada yang pulang larut malam karena pekerjaannya, dengan mudahnya ada bisik-bisik yang kurang menyenangkan.

Kita Perlu Menyayangi Diri Seutuhnya

ilustrasi bahagia mencintai diri sendiri/Photo by Đàm Tướng Quân from Pexels
ilustrasi bahagia mencintai diri sendiri/Photo by Đàm Tướng Quân from Pexels

Belum lagi kalau perempuan ini menyandang status janda akan semakin legit untuk menjadi bahan ghibah. Padahal perempuan tadi hanya butuh peluang, dukungan, dan doa agar mimpinya menghidupi keluarga, menyekolahkan anaknya setinggi mungkin bisa terlaksana lewat kerja kerasnya. Apa iya value terhadap perempuan hanya ditentukan dari jam pulang kerjanya?

Kalau saja perempuan bisa saling berempati dan mendukung satu sama lain, impact yang dihasilkan akan luar biasa. Perempuan selalu bisa menghasilkan hal yang lebih dari yang dia dapatkan.

Ketika perempuan diberikan titipan cinta maka dia bisa memberikan kehangatan dalam keluarga. Kelembutan ibu bisa selalu menjadi rumah tempat berpulang anak-anaknya. Meskipun tidak selalu sempurna, perempuan selalu bisa berjuang lebih keras untuk keluarganya. Mau berkorban tanpa mempedulikan dirinya sendiri.

Jadi perempuan tetap layak untuk terus mempunyai cita-cita setinggi langit meskipun sudah berganti peran menjadi ibu atau istri. Tanpa harus terus mendengarkan apa yang orang bilang, apa yang stigma katakan, atau tuduhan yang belum tentu benar adanya. Perempuan apa pun statusnya berhak menentukan pilihan dan keinginannya tanpa perlu merasa tidak enak atau bersalah selagi itu masih berjalan di koridor yang benar.

Langkah kecil bisa dimulai dengan menyayangi diri sendiri. Penuhi tangki cinta terhadap diri sendiri sehingga nanti akan mampu menyebarkan cinta kepada yang lain. Mencintai diri sendiri bukanlah hal yang egois. Dengan begitu akan menumbuhkan rasa bangga menjadi perempuan dan menumbuhkan karakter perempuan yang lebih humanis dan tidak mudah menghakimi perempuan lainnya. Ingatlah setiap perempuan adalah makhluk yang berharga, paket komplit yang sempurna dibalik ketidaksempurnaannya sebagai ciptaan Allah yang Maha Penyayang.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel