Tidak Dapat Poin, Andi Gilang Lanjutkan Tradisi Buruk Pembalap Indonesia di Kelas Menengah

Tri Cahyo Nugroho
·Bacaan 4 menit

Andi Farid Izdihar alias Andi Gilang akhirnya gagal merebut poin di Moto2 2020 setelah mengalami kecelakaan pada lap 17 atau enam putaran lagi menjelang finis GP Portugal di Sirkuit Internasional Algarve, Minggu.

Dengan hasil ini, pembalap Idemitsu Honda Team Asia tersebut sama sekali tidak memiliki poin di klasemen akhir kelas menengah (intermediate) – sebutan lain untuk Moto2 – Kejuaraan Dunia Balap Motor musim ini bersama enam pembalap lainnya.

Dari 15 lomba Moto2 musim ini, hasil finis terbaik Andi Gilang adalah posisi ke-18 (P18) – 15 adalah batas akhir merebut poin, 1 – di GP Eropa, lomba ke-13. Ia juga empat kali gagal finis.

Tahun lalu, Dimas Ekky Pratama yang turun di Moto2 juga tidak mampu merebut poin. Sebelumnya, dari 19 lomba, Dimas Ekky dijadwalkan turun 15 kali. Namun, ia akhirnya hanya 11 kali berlomba (seri 1-3, 5-7, 15-19). Hasil finis terbaik Dimas Ekky di Moto2 2019 juga P18 (GP Malaysia, seri 18).

Saat itu, Dimas Ekky juga dipasangkan dengan Somkiat Chantra, rekan setim Andi Gilang musim ini. Tetapi, Idemitsu Honda Team Asia dua kali menurunkan pembalap Indonesia lainnya namun tetap tidak mampu mendapatkan poin.

Andi Gilang diturunkan di GP San Marino (finis P24) dan Gerry Salim pada lomba berikutnya, GP Aragon (P29).

Andi Farid Izdihar (kanan) mungkin bisa lebih baik jika diberi kesempatan sekali lagi turun di Moto2.

Andi Farid Izdihar (kanan) mungkin bisa lebih baik jika diberi kesempatan sekali lagi turun di Moto2.<span class="copyright">Gold and Goose / Motorsport Images</span>
Andi Farid Izdihar (kanan) mungkin bisa lebih baik jika diberi kesempatan sekali lagi turun di Moto2.Gold and Goose / Motorsport Images

Gold and Goose / Motorsport Images

Doni melakukan debut di Kejuaraan Dunia Balap Motor pada 2005 dengan turun sekali di kelas 125 cc (kini Moto3) di GP Malaysia (P31). Setahun berikutnya, ia kembali turun sekali di Sepang, masih di kelas 125 cc (P26).

Pada 2007, Doni Tata sekali diturunkan di kelas 250 cc (kini Moto2), juga di Malaysia (gagal finis). Barulah pada 2008, Doni Tata turun penuh di kelas 250 cc dengan dukungan Yamaha. Dari 16 kali berlomba, Doni Tata berhasil merebut satu poin saat finis P15 di GP Cina.

Doni Tata lalu mencoba peruntungannya dengan turun di Kejuaraan Dunia Supersport pada 2009. Mengandalkan Yamaha YZF-R6, Doni Tata mampu merebut delapan poin untuk finis di posisi ke-25 klasemen akhir.

Tahun 2013, Doni Tata kembali turun di kelas menengah Kejuaraan Dunia Balap Motor. Menggunakan sasis dari Suter, Doni Tata kembali hanya mampu merebut satu poin saat finis P15 di GP Australia.

Banyak faktor yang membuat pembalap Indonesia kesulitan turun di Kejuaraan Dunia Balap Motor. Pertama tentu saja pengalaman. Kebanyakan, para pembalap Indonesia di Moto2/250 cc belum pernah turun penuh di kelas bawahnya, Moto3/125 cc.

Jika ada kesempatan turun penuh pun, entah di Moto2 atau Moto3, selalu tidak lebih dari semusim. Selain karena evaluasi dari performa, karena kebanyakan tim yang dibela pembalap Indonesia bukanlah skuad elite, mereka pasti butuh sponsor besar. Salah satunya dari pembalap.

Dimas Ekky Pratama (kanan) memberikan keterangan kepada salah satu teknisi Honda Team Asia di MotoGP 2019.

Dimas Ekky Pratama (kanan) memberikan keterangan kepada salah satu teknisi Honda Team Asia di MotoGP 2019. <span class="copyright">Gold and Goose / Motorsport Images</span>
Dimas Ekky Pratama (kanan) memberikan keterangan kepada salah satu teknisi Honda Team Asia di MotoGP 2019. Gold and Goose / Motorsport Images

Gold and Goose / Motorsport Images

Di sinilah dibutuhkan sponsor, jika memungkinkan lebih dari satu, yang mau konsisten memberikan dukungan untuk pembalap Indonesia.

Kualitas tim juga ikut memengaruhi performa pembalap. Tanpa meremehkan peran pabrikan besar yang telah membantu pembalap Indonesia, jujur harus diakui, banyak dari anggota tim mereka yang memiliki pengalaman kurang mumpuni di kelas yang diikuti.

Ada juga pembalap yang mengaku sempat diperlakukan tidak adil oleh tim dibanding rekannya dengan alasan yang tidak jelas. Hal itu jelas memengaruhi psikologis pembalap dan tentu saja perlakuan kru dan mekanik terhadapnya.

Teknologi juga berperan besar di ajang sekelas juara dunia. Publik tentu masih ingat bila Doni Tata menggunakan motor yang sudah ketinggalan teknologi saat debut penuh di kelas 250 cc.

Usia juga menjadi salah satu faktor penting. Kebanyakan, pembalap Indonesia terlambat turun di Kejuaraan Dunia Balap Motor. Selain karena minimnya ajang balap kompetitif, mereka juga berupaya untuk mencari sponsor yang mau mendukung untuk turun di luar negeri yang bisa menyuguhkan persaingan ketat.

Dari sisi usia, Doni Tata bisa memenuhi karena ia baru 18 tahun saat turun di kelas 250 cc 2008. Sayang, pengalamannya turun di kelas sebelumnya, tidak banyak.

Sebagai perbandingan, Franco Morbidelli – pemenang tiga lomba MotoGP dan runner-up musim ini – juga baru menjelang 19 tahun saat menjadi rekan setim Doni Tata di Federal Oil Gresini Moto2 pada 2013.