Tidak Hanya Serda Aprilia Manganang, Pria Ini Juga Alami Hipospadia

Rochimawati, Isra Berlian
·Bacaan 2 menit

VIVA – Publik dikejutkan dengan sosok mantan pemain tim nasional bola voli putri, yang juga anggota TNI, Sersan Dua (Serda) Aprilia Manganang. Hal ini menyusul dengan kabar bahwa Aprilia Manganang merupakan seorang pria.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa usai pemeriksaan medis pada Februari 2021 di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat terhadap Aprilia Manganang.

"Serda Aprilia punya kelainan pada sistem reproduksinya sejak lahir Kelainan ini kita ketahui dengan istilah hipospadia," tutur Andika di Markas Besar TNI AD (Mabesad), Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Selasa 9 Maret 2021.

Tidak hanya, Serda Aprilia Manganang, salah seorang pria sepuh bernama, Steve Baker (nama samaran) juga mengalami hal serupa. Dirinya diketahui menderita hipospadia, suatu kondisi saat lahir yang memengaruhi ukuran, penampilan, dan fungsi penis.

Dalam wawancaranya pada 2015 lalu, Baker, dari Chelmsford, Essex, sempat sedih lantaran dia berpikir hanya dia satu-satunya orang di dunia yang menderita hipospadia.

"Seseorang seharusnya memberi tahu saya apa yang salah dengan saya karena hidup saya bisa sangat berbeda," kata dia seperti dikutip dari laman Independent.

Dia menjelaskan bahwa pada usia 21 tahun, dia harus menjalani operasi karena sempat mendapat cemoohan atas kondisi yang dialaminya. Namun sayangnya, operasi tersebut membuatnya merasa tidak nyaman.

"Saya tidak memiliki perasaan di ujung atau banyak sensasi apa pun.Jika orangtua saya tahu ada yang tidak beres dengan saya, mereka tidak akan pernah mengatakannya, begitu pula dokter yang telah banyak memeriksa saya sejak bayi Jika saya tahu masalahnya adalah hipospadia, saya tidak akan mendekati dokter itu," ujar dia.

Padahal menurut NHS, sunat tidak perlu dilakukan, karena kulup diperlukan selama perawatan yang tepat saat kondisi tersebut didiagnosis saat lahir.

"Saya tidak tahu mengapa dokter memutuskan untuk menyunat saya, dan gagasan untuk mengeluh tentang kerusakan tidak akan terpikir oleh saya. Itu terlalu memalukan. Saya hanya harus menerimanya," kata dia.

Kehidupan seks

Di sisi lain, untuk masalah ranjang, dia masih memiliki dorongan seks normal, tetapi "kombinasi dari kurangnya ukuran dan kurangnya kepekaan" telah memengaruhi hubungannya.

Meski mengalami kondisi hipospadia, Baker bisa menikah dengan sahabat perempuannya dan dikaruniai dua orang anak. Namun keduanya berpisah pada 2001 lalu.

“Kami tidak ditakdirkan untuk bersama selamanya, tetapi seks tidak terlalu membantu. Itu sangat sulit, itu tidak benar-benar terjadi, "katanya.

Dengan kondisi yang dialami oleh Baker, dia bertekad untuk memastikan anak-anaknya mengetahui dan memahami kondisi tersebut.

"Itu bisa membuat perbedaan besar bagi mereka, dan bagi cucu mana pun yang mungkin saya miliki," ujar dia.