Tidak Jadi Dosen Demi Pencerah Nusantara

TEMPO.CO, Jakarta - Mengabdi adalah prinsip yang ingin diterapkan Rahmad Aji Prasetya. Pemuda berusia 23 tahun itu sudah mendapatkan separuh mimpinya ketika diterima sebagai dosen di salah satu Akademi Farmasi Surabaya. Baru 2,5 bulan menjadi dosen, ternyata panggilan lain menghampirinya: menjadi Pencerah Nusantara.

Program besutan Kantor Utusan Khusus Presiden untuk MDGs ini memilih Aji menjadi salah satu peserta yang lolos dari 1.043 pendaftar. "Saya dari dulu pengin mengabdi di daerah terpencil," ujar apoteker alumnus Universitas Airlangga ini di Puskesmas Kayu Putih, Jakarta Timur, Kamis, 26 September.

Pencerah Nusantara adalah program pengabdian tenaga kesehatan di daerah terpencil selama setahun. Para tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, dan pemerhati kesehatan itu ditempa oleh sejumlah pakar dari Ilmu Kedokteran Komunitas. Setelah matang dengan teori, mereka melatihnya di sejumlah puskesmas, termasuk yang berada di wilayah Pulogadung, Jakarta Timur, ini.

Ketika tahu menang seleksi Pencerah Nusantara, diakui Aji, ibunya tak setuju. "Sempat bersitegang karena beliau tidak ingin anaknya jauh dan melepas profesi dosen," ujar pria yang  akan ditempatkan di Karawang, Jawa Barat, ini. Maka ketika penempatan, ia menuturkan, mungkin ada turut campur doa sang Ibu. Soalnya, dia tidak mendapat penempatkan di luar Jawa. 

Sedari lahir, besar, dan kuliah, Aji memang menghabiskan waktu di Surabaya. "Hanya sekali tinggal lama ke luar daerah, waktu bekerja jadi apoteker di RS swasta di Pati," katanya. Tapi bukan itu alasan utama sulung dari dua bersaudara ini ikut seleksi Pencerah Nusantara. "Saya ingin bisa mengamalkan ilmu ke daerah yang belum tersentuh," ujar dia. Keinginan itu dibuktikan dengan dua kali mengikuti pendaftaran program Indonesia Mengajar, program pengajar sekolah dasar di daerah terpencil. "Tapi saya gagal terus hingga akhirnya justru keterima di sini yang sesuai dengan bidang saya," kata dia.

Kini ia bersyukur karena bisa mendapatkan mimpi sekaligus mengaplikasikan ilmunya. Meskipun tampaknya jalur cita-citanya akan berbelok. "Ketika jadi dosen, dulu saya mau cari beasiswa, kuliah di luar negeri dan balik lagi," kata Aji. Sekarang, dia mengaku belum punya rencana selepas setahun di Pencerah Nusantara. Yang jelas, meski baru mengabdi sebagai dosen dalam hitungan bulan, Akademi Farmasi Surabaya masih bersedia menerima jika Aji ingin kembali tahun depan.

DIANING SARI

Berita Terpopuler:

DPR Terbelah Jika Kapolri Dipanggil KPK

Ini yang Akan Terjadi Jika Jendela Pesawat Dibuka 

PDIP Tak Setuju Protokol Antipenistaan Agama SBY

Bulan Madu PDIP dan Prabowo di Ujung Tanduk

DPR Pertanyakan Konflik Menhan dan Jakarta Post

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.