"Tidak Mudah Jadi Pengungsi, di Sini Neraka. Kami Mau Pulang"

Merdeka.com - Merdeka.com - Puluhan ribu pengungsi Rohingya di Banglades kemarin menggelar demo besar-besaran menuntut dipulangkan kembali ke Myanmar setelah mereka mengungsi dari kekerasan militer lima tahun lalu.

Unjuk rasa pengungsi Rohingnya itu dilakukan sehari sebelum Hari Pengungsi Sedunia dan dibolehkan meski sempat dilarang sejak Agustus 2019 saat terjadi demo besar diikuti 100.000 pengungsi.

Demo bertajuk "Bari Cholo" (Mari Pulang) itu melibatkan 23 kamp pengungsi Rohingya, 21 dari Ukriam dan dua di Teknaf Upazila, kata seorang pejabat pemerintah kepada harian Bangladesh The Daily Star, seperti dilansir laman Aljazeera, Minggu (19/6).

Hampir satu juta pengungsi Rohingya tinggal di gubuk bambu beratap terpal di 34 kamp di selatan Bangladesh. Mereka tidak dibolehkan bekerja, sanitasi juga buruk dan kurang mendapat akses pendidikan.

"Kami tidak mau lagi tinggal di kamp. Menjadi pengungsi tidak mudah. Di sini neraka. Sudah Cukup. Mari pulang," kata tokoh Rohingya Sayid Ullah dalam orasinya saat unjuk rasa.

Polisi mengatakan ribuan pengungsi, termasuk anak-anak ikut dalam demo. Mereka berdiri di jalanan membawa spanduk bertuliskan "Sudah cukup! Mari Kita Pulang".

Seorang janda yang tinggal di kamp Rohingya du Ukhia bernama Rabiya mengatakan dia dan komunitas Rohingya sebangsanya berterima kasih atas keramahan Bangladesh menampung mereka selama ini.

"Tapi kami ingin kembali ke Tanah Air kami. Kami ingin pulang ke tempat kami lahir secepatnya," kata dia.

Upaya repatriasi sebelumnya gagal dilakukan karena pengungsi Rohingya menolak dipulangkan sampai Myanmar menjamin keamanan dan hak mereka sebagai minoritas muslim.

Tim pencari fakta PBB menyimpulkan telah terjadi pembunuhan massal dan pengusiran muslim Rohingya di Myanmar dan pejabat tinggi militer Myanmar harus bertanggung jawab atas kejahatan kemanusiaan dan genosida.

Kelompok pembela hak asasi Human Rights Watch melaporkan sedikitnya 200 desa Rohingya dihancurkan dan dibakar oleh militer serta sekitar 13.000 Rohingya dibunuh.

Lebih dari 890.000 pengungsi Rohingya tinggal di Cox Bazar Bangladesh, menjadikan tempat itu kamp pengungsi terbesar di dunia.

Sekitar 92.000 Rohingya mengungsi ke Thailnd, 21.000 ke India, dan 102.000 ke Malaysia. Sekitar 576.000 juga mengungsi di dalam negeri Myanmar.

Komisioner Bantuan dan Repatriasi Pengungsi Shamsud Douza mengatakan kepada Aljazeera, pengungsi Rohingya ingin mengingatkan dunia tentang kondisi mereka di Hari Pengungsi Sedunia yang diperingati kemarin.

"Mereka menggelar unjuk rasa damai sebelum pukul 12. Dari sisi kami, mereka tidak membuat keributan tapi aparat keamanan memantau situasi," kata dia.

Juru bicara UNHCR Regina De La Portilla mengatakan pengungsi Rohingya di Bangladesh mengatakan mereka hanya ingin kembali ke Myanmar.

"Tapi mereka juga bilang belum aman untuk melakukan itu. Hari ini mereka berdemonstrasi untuk memperlihatkan keinginan mereka dan menyerukan perhatian atas kebutuhan mereka," kata dia.

De La Portilla mengatakan solusi untuk para pengungsi ini ada di tangan Myanmar.

"Pengungsi Rohingya ingin kembali secara sukarela, aman, dan bermartabat. Artinya hak-hak mereka dijamin. Saat ini situasi di Myanmar masih cair dan kondisi aman belum bisa dipastikan," kata dia.

"Kita harus bekerja sama, termasuk badan PBB, komunitas internasional untuk memastikan upaya itu bisa dilakukan." [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel