Tidak Terima Dijadikan Tersangka, Korban Pengeroyokan di Medan Surati Kapolri

Merdeka.com - Merdeka.com - Korban penganiayaan oleh sekelompok orang atau pengeroyokan, Aceng alias Acen (40) warga Kecamatan Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut) menyurati Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo untuk meminta keadilan setelah dia ditetapkan tersangka oleh Polrestabes Medan.

Tidak hanya ditetapkan tersangka, Aceng juga sempat ditahan di Rutan Polrestabes Medan sejak 25 Agustus 2022, dan dijerat dengan Pasal 351 Ayat 1 KUHP terkait penganiayaan. Padahal Aceng merupakan korban pengeroyokan, hingga permohonan penangguhannya dikabulkan pada 31 Agustus 2022.

Kepada wartawan, Aceng menceritakan peristiwa pengeroyokan itu bermula saat dia bertemu dengan para pelaku berjumlah tiga orang berinsial T, C dan M di kompleks Asia Raya, Jalan Asia Mega Mas, Blok N, Kelurahan Sukaramai II, Kecamatan Medan Area, Kota Medan, Rabu (6/7) malam.

Setibanya di lokasi, Aceng menyebut ketiga pelaku menganiaya dan mengeroyok dirinya hingga nyaris tidak berdaya. Warga sekitar lokasi kemudian menyaksikan Aceng menjadi bulan-bulanan ketiga pelaku.

"T mencakar dan menarik baju saya. C menjambak rambut saya dari belakang sama M. Kepala saya dipukul juga sampai benjol. Si T juga menendang perutku," kata Aceng, Kamis (1/9).

Aceng mengaku beruntung bisa melepaskan diri dari pengeroyokan tersebut. Dia kemudian melaporkan peristiwa pengeroyokan itu ke Polrestabes Medan. Namun dia diminta untuk membuat laporan ke Polsek Medan Area.

"Setelah visum di Rumah Sakit Bhayangkara lalu saya balik ke Polsek Medan Area membuat laporan terhadap ketiga pelaku," tambahnya.

Akibat penganiayaan itu Aceng terpaksa menjalani perawatan intensif selama dua hari di rumah sakit setelah kepalanya mengalami pusing dan mual.

"Berselang dua jam kemudian rupanya saya enggak tahan, muntah dan sakit perut. Terus saya telepon temen untuk bawa opname," ujarnya.

Selanjutnya, Aceng pun mengaku terkejut tiba-tiba dirinya ditetapkan menjadi tersangka oleh penyidik Polrestabes Medan. Bahkan dia dijebloskan ke Rutan Polrestabes Medan pada 25 Agustus 2022.

"Saya sangat depresi dan takut. Saya korban tapi kenapa ditetapkan tersangka. Saya juga sempat tanya sama penyidik apa salah saya. Saya korban penganiayaan tiga orang tapi ditetapkan tersangka," ucapnya.

Penasihat hukum Aceng, Aliyus Laia, mengatakan sampai saat ini pihaknya terus melakukan upaya atas ketidakadilan yang menimpa kliennya tersebut.

"Kemarin kami menyurati Propam Polda Sumut, Irwasda, Warsidik, Komisi 3 DPR RI, Ombudsman, Kompolnas, dan sampai kami menyurati Kapolri," bebernya.

Lanjut Aliyus, pihaknya terpaksa menyurati sejumlah instansi usai menilai banyaknya un-prosedural dalam penetapan tersangka terhadap kliennya.

"Setelah kami bertanya ke kasat malah dijawab restorative justice. Jadi jawabannya kok lain, sementara yang kami tanya apa dasar penetapan tersangka terhadap klien saya," sebutnya.

Belakangan Aliyus mengatakan pihaknya mengetahui kliennya dilaporkan oleh pelaku T ke Polrestabes Medan, namun atas kuasa Nicolas. Dia mempertanyakan penyidik yang hanya mengambil keterangan sepihak lalu menetapkan tersangka kliennya.

"Sementara Nicolas ini tidak di lokasi kejadian. Saksi-saksi lain tidak diperiksa. Klien kami pun tidak diminta keterangan dan langsung ditetapkan tersangka. Nicolas ini hanya mendengar lalu melapor ke Polrestabes Medan," katanya.

"Lalu teman-teman penyidik melakukan pengembangan klien kami ditangkap langsung. Seharusnya penetapan tersangka lebih dahulu ambil keterangan saksi, pelapor, dan baru menyampaikan surat pemberitahuan dimulainya penyidikan. Tapi ini ada, malah langsung main tangkap saja," terang Aliyus.

Aliyus pun turut prihatin pihak kepolisian lebih tanggap menangani laporan terhadap kliennya yang menjadi korban pengeroyokan. Dia menyebut pihak Polsek Medan Area baru menangkap satu pelaku dari tiga orang pelaku.

"Sebelumnya pelaku T sudah diamankan oleh pihak Polsek Medan Area. Tapi sekarang sudah ditangguhkan, kami juga mempertanyakan penangguhan tersebut. Sementara dua orang pelaku lagi C dan M sudah kabur sampai sekarang belum ditangkap," pungkasnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polrestabes Medan, Kompol Teuku Fathir Mustafa, mengatakan pihaknya sudah melakukan penanganan dengan sesuai prosedur terhadap kasus tersebut.

"Penanganan perkara sudah sesuai dengan prosedur dalam penanganan kami mengedepankan upaya restorative justice untuk terwujud perdamaian. Kami berharap kedua belah pihak dapat segera berdamai," pungkasnya. [cob]