Tidur Melulu saat Puasa, Hipersomnia atau Sindrom Putri Tidur?

Rochimawati, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 1 menit

VIVA – Banyak yang menyebut bahwa tidurnya orang berpuasa merupakan ibadah. Tak jarang, sebagian orang tertidur pulas dalam waktu lama. Lantas, wajarkah hal tersebut?

Baru-baru ini, kabar mengejutkan dari seorang remaja putri asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel) bernama Siti Raisa Miranda atau dipanggil Echa, disebut menderita sindrom putri tidur. Pasalnya, remaja 16 tahun itu tertidur selama berhari-hari namun dapat bangun dan beraktivitas kembali.

Dokter Spesialis Saraf, dr. Zicky Yombana Sp.S, dalam acara Hidup Sehat, TvOne, menyebut bahwa sindrom putri tidur dapat menyerang siapa saja, baik pria maupun wanita. Namun, kejadian ini sendiri cukup jarang yakni dengan estimasi 1 banding 1 juta kasus di dunia.

"Ini jujur gejala atau sindrom yang sangat jarang. Data menyebut 1 banding 1 juta kasus," ungkap Zicky, baru baru ini.

Efek sampingnya sendiri tak memberi dampak fatal. Karena tak beraktivitas, biasanya memberi dampak otot yang melemah. Selain itu, efek terhadap emosional lebih terasa yakni sering gelisah dan depresi.

Gejala yang sangat terlihat yaitu seseorang yang bisa tidur dalam waktu berjam-jam bahkan berhari-hari dan sulit dibangunkan. Lantas, bagaimana membedakannya dengan terlalu banyak tidur pada saat berpuasa?

"Gangguan tidur atau hipersomnia yakni kerjanya tidur mulu. Gangguan tidur ini hampir dipastikan ada di pusat tidur otak, di talamus," tuturnya.

Pada hipersomnia, biasanya durasi 12 jam tidur sudah cukup lama dan seharusnya tubuh hendak bangun dengan sendirinya. Selain itu, apabila aktivitasnya dirasa cukup berat, wajar jika membutuhkan waktu tidur lebih lama dari biasanya. Sementara, durasi tidur pada orang dewasa, normalnya berkisar antara 4-8 jam per hari.

"Misal baru begadang, lalu dia bangun tidurnya siang, masih dimaklumi. Tapi kalau kegiatan biasa aja dan pola tidurnya lebih panjang lalu susah dibangunin, segera ke dokter. Jangan anggap enteng," pungkasnya.