Tidurnya Orang Puasa Adalah Ibadah, Benarkah? Cek Hadisnya di Sini!

Lutfi Dwi Puji Astuti
·Bacaan 2 menit

VIVA – Bulan Ramadhan sebentar lagi tiba. Umat muslim di seluruh dunia diwajibkan menjalankan ibadah puasa. Selama berpuasa yang dilakukan dari mulai subuh hingga azan Maghrib, mereka yang menjalaninya wajib menahan lapar, haus dan menahan emosi.

Tak jarang, mereka yang berpuasa memilih untuk tidur agar ibadah mereka tak terganggu. Karena hal ini, pasti Anda pernah mendengar pernyataan yang mangatakan, "Tidurnya orang puasa adalah ibadah."

Adakah hadis sahih yang melatarbelakangi pernyataan tersebut? Yuk simak penjelasannya berikut ini.

Jejak Awal Mula "Tidurnya Orang Puasa Adalah ibadah"

Biasanya banyak ibu mengatakan pada si kecil yang berpuasa, "Yuk bobo siang dulu, biar puasanya gak terasa lapar, nanti bangun tidur gak perlu menunggu lama buka puasa."

Umumnya, kebanyakan ibu yang sedang mengajarkan buah hatinya untuk berpuasa mengajak si kecil untuk tidur siang. Nah, soal pendapat yang mengatakan tidur adalah ibadah memang seringkali didengar. Apalagi saat di bulan Ramadhan. Tak hanya itu, ada pula yang menyatakan, tidur di bulan puasa akan mendapat pahala.

Tapi bukan berarti, sepanjang hari tidur tanpa melakukan ibadah. Bukannya zikir dan perbanyak membaca Al Quran, kata-kata tersebut justru sering disalah artikan, dan banyak dimanfaatkan orang untuk bermalas-malasan.

Untuk mengetahui, apakah benar tidurnya orang di bulan puasa Ramadhan adalah ibadah? Mengutip dari laman NU Online, awal mula pernyataan tersebut ditelusuri dari hadis yang diriwayatkan oleh Baihaqi. Bunyinya sebagai berikut:

"Naumusshoimi i'baadatun wa shumtuhu tasbiyhun waa'maluhu muthoo a'fun wa du aa'uhu mustajaabun wa dzanbuhu maghfuwrun."

Artinya: "Tidurnya orang puasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amal ibadahnya dilipatgandakan, dianya dikabulkan, dan dosanya diampuni," (HR Baihaqi).

Meski ungkapan tersebut berasal dari hadis yang sahih, tetapi jangan disalahartikan. Perlu diketahui, adab menjalankan puasa adalah tidak terlalu banyak tidur siang hari. Seperti dijelaskan oleh imam Al-Ghazali berikut ini:

"Sebagian dari tata krama puasa adalah tidak memperbanyak tidur di siang hari, hingga seseorang merasakan lapar dan haus dan merasakan lemahnya kekuatan. Dengan demikian hari akan menjadi jernih" (Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumid Din, juz 1, hal. 246).

Dari situ bisa diambil maknanya bahwa bukan berarti selama puasa hanya menghabiskan waktu dengan tidur-tiduran sepanjang waktu. Alangkah baiknya diisi dengan beragam kegiatan ibadah. Karena, tujuan puasa mengendalikan hawa nafsu. Saat mata tak terpejam, puasa yang dijalani bisa dirasakan, manusia jadi sadar bagaimana rasanya haus dan lapar serta cara mengendalikannya.

Berikutnya, simak penjelasan mengenai tidur saat puasa bisa jadi negatif atau positif. Selengkapnya klik tautan ini.