Tiga belas diplomat muda sambangi markas AOMI di Kuala Lumpur

Sebanyak 13 orang diplomat muda dari Sekolah Dinas Luar Negeri Kementerian Luar Negeri menyambangi markas Aliansi Organisasi Masyarakat Indonesia (AOMI) Malaysia di Kuala Lumpur, Selasa malam.

Belasan diplomat muda yang datang dari Jakarta itu memperoleh penjelasan tentang kegiatan AOMI bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur dalam membantu para pekerja migran Indonesia di Malaysia selama masa pandemi COVID-19.

Selanjutnya mereka mendapat kesempatan bertanya langsung kepada presidium dan pengurus tentang keorganisasian AOMI.

Direktur Sekolah Dinas Luar Negeri Kemenlu Lintang P. Wibawa mengatakan mereka mendampingi 13 orang diplomat muda yang saat ini masih dalam tahapan belajar bagaimana melakukan layanan publik yang terbaik, termasuk di dalamnya aspek perlindungan warga.

“Sepertinya karena Malaysia ini banyak sekali ya kasus dan juga berbagai macam program berlangsung di sini, saya rasa paling ideal seandainya teman-teman dibawa ke Malaysia,” ujar Lintang.

Hal ini sudah menjadi program dari Kementerian Luar Negeri sejak tiga sampai empat tahun yang lalu. "Jadi, mereka selalu dibawa ke Malaysia."

Ia mengatakan tahun lalu Sekolah Dinas Luar Negeri memang agak kesulitan untuk bisa membawa diplomat muda ke Malaysia karena situasi pandemi COVID-19.

"Tapi, dengan adanya pandemi ternyata banyak pembelajaran baru yang kita dapatkan. Ada persatuan antara warga, ada KBRI, dan ada AOMI di sini. Ternyata apa yang terjadi di Malaysia menjadi studi kasus yang menarik dan mudah-mudahan bisa menjadi pembelajaran bagi diplomat muda kita," ujar Lintang.

Sementara itu, Presidium AOMI Malaysia Hardjito Warno mengatakan sangat banyak cerita yang bisa dibagikan tentang kondisi di Malaysia.

Menurut ia, hal yang penting untuk calon-calon diplomat dan calon-calon duta besar Indonesia tersebut, yakni melayani warga negara Indonesia dengan sepenuh hati dan ketika semua dilakukan dengan tulus maka jalan-jalan yang sebelumnya terkunci pasti akan terbuka.

"Kami percaya meski tidak ada sesuatu yang bisa kita peroleh dari finansial, misalnya, ataupun materi, tapi ada satu hal yang bisa kita dapatkan yang tidak bisa didapat dari tempat-tempat lain," ujarnya.

Jadi, tambah Hardjito, para diplomat muda harus memiliki cara pandang dan strategi baru yang lebih baik dan progresif dalam menghadapi tantangan dan kompleksitas, khususnya di Malaysia. Selama ini AOMI menemukan tantangan tersebut berulang saja dan penanganannya tidak begitu progresif.

Ia berharap dengan pertemuan ini para diplomat muda Sekolah Dinas Luar Negeri Kemenlu dapat membawa pengalaman dari AOMI, terutama mengenai karakter WNI yang guyup dan gotong royong.

"Dan itu kita buktikan, tadi seperti yang bu direktur sampaikan, ada sesuatu yang menjadi common sense,” ujarnya.

Hadir pula dalam kegiatan tersebut Duta Besar RI untuk Malaysia Hermono bersama sejumlah stafnya dan beberapa pendamping dari Sekolah Dinas Luar Negeri Kemenlu.