Tiga Bulan Lebih, Kasus Kematian Anak Dalam IPAL di Jambi masih Misteri

Merdeka.com - Merdeka.com - Misteri kematian anak perempuan berinisial KY (4) di Kelurahan Rawasari, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi hingga kini masih misteri. Korban meninggal dalam Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) dekat rumahnya. 107 hari berlalu, terduga pelaku pembunuhan belum terungkap.

Direktur Reskrimum Polda Jambi Kombes Pol Andri Ananta mengakui terkendala dalam menyelidiki kasus itu, karena minimnya alat bukti dan tidak adanya saksi mata.

"Tidak ada saksi yang kita temukan, seperti yang mengaku melihat saat kejadian tersebut. Kita sudah mencoba beberapa kali mencari bukti, tapi tidak bisa mengarah ke terduga pelaku," katanya, Jumat (11/11).

Kepolisian sudah memeriksa sekitar 40 saksi dalam menangani kasus dugaan pembunuhan ini, termasuk pihak keluarga dan orang yang terakhir melihat sosok KY.

Tidak hanya itu, mantan narapidana serta orang yang diduga memiliki kelainan jiwa juga diperiksa polisi.

"Ada beberapa orang dicurigai, kemudian kita lakukan pemeriksaan kejiwaan. Karena sesuai autopsi almarhum, ada dugaan perilaku menyimpang," tegasnya.

Dengan demikian, polisi sudah membuat profil beberapa orang yang pernah melakukan tindak kriminal dan orang yang diduga memiliki kelainan jiwa. Namun, sekali lagi, polisi masih belum memiliki bukti yang cukup.

Menurut Andri, bahwa penggunaan alat pendeteksi kebohongan bisa saja dilakukan. Tetapi alat tersebut bisa dikelabui oleh orang yang mempunyai ketenangan yang luar biasa. Walaupun masih kesulitan, penyelidikan ini terus berlanjut.

"Kita terus berjuang. Harapannya bisa terungkap. Karena di daerah lain, alhamdulillah berhasil," tutupnya.

Terpisah, Ibu Almarhum KY, Nurlela mengatakan sampai saat ini tidak ada kejelasan terkait perkembangan kasus kematian KY. Dia tidak menerima lagi keterangan atau konfirmasi dari polisi.

"Untuk polisi yang melakukan penyelidikan di sekitar TKP juga tidak terlihat lagi," bebernya.

"Belum ada kejelasan. Sepertinya kasus ini mengambang. Kasus ini masih dilanjutkan atau dihentikan, tidak ada konfirmasi kepada kami. Kalau dilanjutkan, pasti ada pihak kepolisian yang ke sini," imbuh dia.

Nurlela juga menyampaikan, untuk saat ini hanya bisa pasrah menghadapi fakta bahwa kasus yang menewaskan anaknya belum selesai.

"Saya hanya berdoa kepada Allah, semoga ada diberikan jalan keluarnya. Sudah 107 hari anak perempuan saya meninggal, kemudian penyebab kematiannya belum diketahui dari pihak keluarga," ucap Nurlela dengan penuh harapan.

Reporter: Hidayat [cob]